Mantan Staf Ahli Panglima TNI, Brigadir Jenderal (Purn) Adityawarman Thaha, semasa masih hidup. Foto: Istimewa
Mantan Staf Ahli Panglima TNI, Brigadir Jenderal (Purn) Adityawarman Thaha, semasa masih hidup. Foto: Istimewa

Mantan Staf Ahli Panglima TNI Adityawarman Thaha Tutup Usia

Nasional obituari
Siti Yona Hukmana • 13 Juni 2019 16:12
Jakarta: Mantan Staf Ahli Panglima TNI, Brigadir Jenderal (Purn) Adityawarman Thaha, tutup usia. Dia mengembuskan napas terakhir pada pukul 23.40 WIB, Rabu, 12 Juni 2019 di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.
 
"Iya, benar tadi malam meninggal. Mohon dimaafkan segala kekhilafan almarhum dan mohon doa agar Allah mengampuni dosa beliau," kata isteri Adityawarman Thaha, Tatik, di rumah duka, Cempaka Warna, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Kamis, 13 Juni 2019.
 
Adityawarman sempat terbaring sakit di RSPAD pada 20 November 2018. Ia menderita sakit jantung dan ginjal. Sudah mulai sembuh, ia diperbolehkan pulang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Beberapa hari usai lebaran, tepatnya Selasa, 11 Juni 2019 sore, Adityawarman kembali masuk ke rumah sakit karena mengeluhkan sakit paru-paru. Kemudian, ia meninggal pada usia 74 tahun disebabkan infeksi paru-paru.
 
Jenazah pria kelahiran Suliki Gunung Mas, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat itu, akan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Rencana pemakaman dilakukan siang hari setelah zuhur.
 
Wakil Panglima TNI periode 1999-2000 Jenderal (Purn) Fachrul Razi hadir di rumah duka. Ia mengaku merasa kehilangan sosok Adityawarman.
 
"Saya dekat sekali dengan almarhum, kami pernah tugas operasi sama-sama di Timur Tengah, pernah di Timor Timur dan satu batalyon. Jadi, dekat sekali. Dalam pertempuran-pertempuran pun dekat," ujar Fachrul.
 
Menurut Fachrul, Adityawarman memiliki pendirian yang kuat. Sewaktu dinas, dia merupakan orang agen, bukan orang lapangan. Namun, karena hatinya di lapangan, dia pindah ke lapangan untuk bertempur.
 
"Maka itu masuk sama-sama kami ke batalyon-batalyon tugas operasi di banyak tempat," ucap Fachrul.
 
Fachrul menambahkan, Adityawarman memiliki kelebihan utama. Yakni, Islam yang kental. Pada saat masih taruna, mereka membuat Kelompok Komando Masjid (Kodojit).
 
"Dia teman yang enak. Dia Islamnya bagus. Ya mudah-mudahan diterima di sisi Allah ya," kata Fachrul.
 
Bukan ahli bom
 
Adityawarman disebut-sebut sebagai ahli membuat bom. Ia bahkan disebut sebagai lulusan terbaik pada pelatihan militer di Fort Bragg, Amerika Serikat. Saat itu, ia ikut pelatihan bersama mantan Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. Di pelatihan itu, Adityawarman mendapat predikat terbaik pada kategori kontraspionase dan antiteror.
 
Adik kandung Adityawarman, Abbas Thaha, menampik isu yang sudah banyak beredar tersebut. Menurut dia, Adityawarman belajar administrasi negara saat berada di Amerika Serikat, bukan mempelajari bom.
 
"Ada salah satu yang sangat lucu dan aneh, beliau itu pernah pendidikan di Amerika Serikat dan aktif di berbagai kegiatan internasional, tapi oleh pihak-pihak tertentu ia diisukan sebagai ahli perakit bom. Itu jauh panggang dari api, enggak ada itu sama sekali," terang Abbas.
 

(UWA)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif