medcom.id: Tafsir Al-Mishbah episode kali ini membahas Surat An-Nahl ayat 1 hingga 18. Ayat-ayat tersebut menjelaskan dengan gamblang segala bentuk kekuasaan Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan dan semesta alam.
Pada ayat pertama dijelaskan tentang ketetapan Allah; "Telah datang ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta untuk dipercepat datangnya. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan."
Ayat tersebut menyiratkan pesan yang ambigu terhadap ketetapan Allah SWT yang dikatakan telah datang akan tetapi manusia tidak boleh meminta untuk mempercepat kedatangannya. Ketetapan tersebut oleh para penafsir diartikan sebagai takdir dan yang mana Allah SWT sajalah yang memiliki kuasa penuh terhadapnya dan telah digariskan sedari awal penciptaan manusia. Maka darinya, manusia tidak boleh meminta ketetapan tersebut agar dipercepat tanpa melawati prosesnya. Dan sesungguhnya Allah Maha kuasa atas apa yang diciptakannya.
Dalam ayat berikutnya dijelaskan bahwa atas kuasa tersebutlah Allah SWT mengutus malaikat untuk menyampaikan wahyu kepada siapa yang dikehendakinya. "Dia menurunkan para malaikat membawa wahyu dengan peringatan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, (dengan berfirman) yaitu, ‘Peringatkanlah (hamba-hamba-Ku), bahwa tidak ada tuhan selain Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku."
Dalam ayat ini, kalimat ‘laa ilaahailallah’ disebutkan sebagai bentuk peringatan Allah melalui orang terpilih yang dikehendaikinya yakni nabi dan rasul. Ayat ini menjelaskan tentang penyampaian wahyu kepada para nabi dan rasul sebagai peringatan agar manusia ingat untuk senantiasa menyembah Allah SWT.
Wahyu dalam hal ini diartikan sebagai isyarat yang cepat. Wahyu bisa saja ditimpakan kepada manusia, akan tetapi wahyu tersebut bukaanlah wahyu kenabian. Sebab wahyu kenabian hanya diberikan kepada para nabi dan rasul.
Pada empat ayat selanjutnya yakni ayat 3 hingga6, Allah SWT menjabarkan beberapa penciptaan semesta untuk menunjukkan kebesaranNya; "Dia menciptakan langit dan bumi dengan kebenaran. Mahatinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia telah menciptakan manusia dari mani, ternyata dia menjadi pembantah yang nyata. Dan hewan ternak telah diciptakan-Nya, untuk kamu padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh keindahan padanya, ketika kamu melepaskannya (ke tempat pengembalaan)."
Allah menjabarkan kebesaranNya melalui fakta-faktapenciptaan yang tidak terbantahkan mengenai langit dan bumi, kemudian manusia dari setetes mani yang sayangnya dikatakan dalam ayat tersebut sebagai pembantah yang nyata. Kemudian Ia menciptakan hewan ternak untuk dimanfaatkan sebagai sandang dan pangan, juga bentuk keindahan yang bisa dinikmati oleh manusia.
Lebih lanjut, Allah menggambarkan kuasanya memberi kenikmatan kepada manusia dalam ayat-ayat selanjutnya yakni ayat 7 hingga 9. "Dan ia mengangkut beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup mencapainya, kecuali dengan susah payah. Sungguh, Tuhan Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui. Dan hak Allah menerangkan jalan yang lurus, dan di antaranya ada (jalan) yang menyimpang. Dan jika Dia menghendaki, tentu Dia memberi petunjuk kamu semua ke jalan yang benar."
Ketiga ayat tersebut menjabarkan kuasa Allah dalam memberi tuntunan kepada manusia, dengan menciptakan kendaraan untuk ditunggangi mencapai tempat yang jauh, perhiasan, hal yang tidakdiketahui manusia dan petunjuk kebenaran.
Dilanjutkan dalam beberapa ayat setelahnya; "Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan, padanya kamu mengembalakan ternakmu. Dengan (air hujan) itu Dia menumbuhkan untuk kamu tenam-tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir."
Ayat-ayat itu menerangkan nikmat Allah SWT yang lain yakni limpahan air hujan. Tidak cukup disana saja, pada ayat selanjutnya Allah menerangkan kuasanya atas terjadinya siang dan malam, kuasa mutlaknya terhadap warna-warni yang dihadirkan di muka bumi dan segenap ciptaannya.
"Dan Dia menundukan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu, dan bintang-bintang dikendalikan dengan perintah-Nya. Sungguh , pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti, dan (Dia juga mengendalikan) apa yang Dia ciptakan untukmu di bumi ini dengan berbagai jenis dan macam warnanya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran."
Dalam ayat 14 hingga 16, Allah SWT juga menjelaskan kekuasaannya menyediakan lautan dan segala isinya untuk dinikmai oleh manusia, serta bintang-bintang sebagai petunjuk. "Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya dan agar kamu bersyukur. Dan dia menancapkan gunung di bumi agar bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk,dan (Dia menciptakan) tanda-tanda (petunjuk jalan). Dengan bintang-bintang mereka mendapat petunjuk."
Dalam dua ayat terakhir dalam pembahasan kali ini, yakni ayat 17 dan 18 Allah kembali menegaskan secara retoris bahwasannya atas kebesaranNya, manusia hendaknya mengambil pelajaran dengan mengimani Laa Ilahailallah. "Maka apakah (Allah) yang menciptakan sama dengan yang tidak dapat menciptakan (sesuatu)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-banar Maha Pengampun, Maha Penyayang."
medcom.id: Tafsir Al-Mishbah episode kali ini membahas Surat An-Nahl ayat 1 hingga 18. Ayat-ayat tersebut menjelaskan dengan gamblang segala bentuk kekuasaan Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan dan semesta alam.
Pada ayat pertama dijelaskan tentang ketetapan Allah; "Telah datang ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta untuk dipercepat datangnya. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan."
Ayat tersebut menyiratkan pesan yang ambigu terhadap ketetapan Allah SWT yang dikatakan telah datang akan tetapi manusia tidak boleh meminta untuk mempercepat kedatangannya. Ketetapan tersebut oleh para penafsir diartikan sebagai takdir dan yang mana Allah SWT sajalah yang memiliki kuasa penuh terhadapnya dan telah digariskan sedari awal penciptaan manusia. Maka darinya, manusia tidak boleh meminta ketetapan tersebut agar dipercepat tanpa melawati prosesnya. Dan sesungguhnya Allah Maha kuasa atas apa yang diciptakannya.
Dalam ayat berikutnya dijelaskan bahwa atas kuasa tersebutlah Allah SWT mengutus malaikat untuk menyampaikan wahyu kepada siapa yang dikehendakinya. "Dia menurunkan para malaikat membawa wahyu dengan peringatan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, (dengan berfirman) yaitu, ‘Peringatkanlah (hamba-hamba-Ku), bahwa tidak ada tuhan selain Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku."
Dalam ayat ini, kalimat ‘laa ilaahailallah’ disebutkan sebagai bentuk peringatan Allah melalui orang terpilih yang dikehendaikinya yakni nabi dan rasul. Ayat ini menjelaskan tentang penyampaian wahyu kepada para nabi dan rasul sebagai peringatan agar manusia ingat untuk senantiasa menyembah Allah SWT.
Wahyu dalam hal ini diartikan sebagai isyarat yang cepat. Wahyu bisa saja ditimpakan kepada manusia, akan tetapi wahyu tersebut bukaanlah wahyu kenabian. Sebab wahyu kenabian hanya diberikan kepada para nabi dan rasul.
Pada empat ayat selanjutnya yakni ayat 3 hingga6, Allah SWT menjabarkan beberapa penciptaan semesta untuk menunjukkan kebesaranNya; "Dia menciptakan langit dan bumi dengan kebenaran. Mahatinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia telah menciptakan manusia dari mani, ternyata dia menjadi pembantah yang nyata. Dan hewan ternak telah diciptakan-Nya, untuk kamu padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh keindahan padanya, ketika kamu melepaskannya (ke tempat pengembalaan)."
Allah menjabarkan kebesaranNya melalui fakta-faktapenciptaan yang tidak terbantahkan mengenai langit dan bumi, kemudian manusia dari setetes mani yang sayangnya dikatakan dalam ayat tersebut sebagai pembantah yang nyata. Kemudian Ia menciptakan hewan ternak untuk dimanfaatkan sebagai sandang dan pangan, juga bentuk keindahan yang bisa dinikmati oleh manusia.
Lebih lanjut, Allah menggambarkan kuasanya memberi kenikmatan kepada manusia dalam ayat-ayat selanjutnya yakni ayat 7 hingga 9. "Dan ia mengangkut beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup mencapainya, kecuali dengan susah payah. Sungguh, Tuhan Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui. Dan hak Allah menerangkan jalan yang lurus, dan di antaranya ada (jalan) yang menyimpang. Dan jika Dia menghendaki, tentu Dia memberi petunjuk kamu semua ke jalan yang benar."
Ketiga ayat tersebut menjabarkan kuasa Allah dalam memberi tuntunan kepada manusia, dengan menciptakan kendaraan untuk ditunggangi mencapai tempat yang jauh, perhiasan, hal yang tidakdiketahui manusia dan petunjuk kebenaran.
Dilanjutkan dalam beberapa ayat setelahnya; "Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan, padanya kamu mengembalakan ternakmu. Dengan (air hujan) itu Dia menumbuhkan untuk kamu tenam-tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir."
Ayat-ayat itu menerangkan nikmat Allah SWT yang lain yakni limpahan air hujan. Tidak cukup disana saja, pada ayat selanjutnya Allah menerangkan kuasanya atas terjadinya siang dan malam, kuasa mutlaknya terhadap warna-warni yang dihadirkan di muka bumi dan segenap ciptaannya.
"Dan Dia menundukan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu, dan bintang-bintang dikendalikan dengan perintah-Nya. Sungguh , pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti, dan (Dia juga mengendalikan) apa yang Dia ciptakan untukmu di bumi ini dengan berbagai jenis dan macam warnanya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran."
Dalam ayat 14 hingga 16, Allah SWT juga menjelaskan kekuasaannya menyediakan lautan dan segala isinya untuk dinikmai oleh manusia, serta bintang-bintang sebagai petunjuk. "Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya dan agar kamu bersyukur. Dan dia menancapkan gunung di bumi agar bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk,dan (Dia menciptakan) tanda-tanda (petunjuk jalan). Dengan bintang-bintang mereka mendapat petunjuk."
Dalam dua ayat terakhir dalam pembahasan kali ini, yakni ayat 17 dan 18 Allah kembali menegaskan secara retoris bahwasannya atas kebesaranNya, manusia hendaknya mengambil pelajaran dengan mengimani
Laa Ilahailallah. "Maka apakah (Allah) yang menciptakan sama dengan yang tidak dapat menciptakan (sesuatu)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-banar Maha Pengampun, Maha Penyayang."
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(JCO)