medcom.id: Musibah datang kedua kalinya untuk maskapai penerbangan Malaysia Airlines. Setelah sebelumnya penerbangan MH370 yang mengangkut 239 orang itu menghilang tanpa jejak pada Maret lalu, kini giliran MH17 yang jatuh akibat digempur rudal di atas tanah Ukraina dan menewaskan 298 orang.
Bencana ini tentunya membawa kinerja keuangan perusahaan ke tingkat yang terburuk. Sebuah tanda tanya besar yang pasti diajukan ke perusahaan yakni bagaimana masa depan Malaysia Airlines setelah dua tragedi yang tak terduga itu ?
Beberapa analis mengatakan maskapai penerbangan milik negara tidak akan bertahan satu tahun tanpa suntikan dana besar dari pemerintah Malaysia.
Sebuah bailout (situasi dimana sebuah entitas yang bangkrut atau hampir bangkrut, seperti perusahaan atau sebuah bank diberikan suatu injeksi dana segar yang likuid, dalam rangka untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya) akan dapat mengatasi masalah keuangan maskapai, tetapi tanpa dilakukannya perubahan ke arah yang lebih jauh, itu bisa tetap menjadi beban bagi pembayar pajak.
Beberapa ahli memberikan pandangan mereka tentang krisis maskapai dalam tanya jawab berikut ini.
Apa situasi terburuk untuk Malaysia Airlines ?
Banyak maskapai yang juga pernah mengalami bencana dan kembali, namun tak ada yang sebesar ini dua tragedi dalam selang waktu empat bulan.
Maskapai lain telah kembali dari bencana tapi tidak ada yang mengalami dua tragedi sebesar itu dalam waktu empat bulan.
"Tidak ada preseden sejarah. Ini benar-benar bukan kesalahan mereka, tetapi sekarang jika Anda bertanya setiap pelanggan yang akan terbang dengan Malaysia Airlines, mereka saat ini tentu memiliki sentimen negatif dan pada akhirnya lebih suka memilih sesuatu (penerbangan) yang lain," kata Mohshin Aziz, analis penerbangan di Maybank.
Maskapai ini sudah kehilangan sekitar US$1,6 juta per hari dan sahamnya telah berada di level merah untuk tiga tahun terakhir. Hilangnya MH370 dengan banyak penumpang dari Tiongkok juga menyebabkan reaksi di pasar Tiongkok. Para ahli tidak melihat jalan pintas untuk pemulihan.
"Perbaikan ini tak bisa dilakukan dengan cepat. Jadi pertanyaan kedua adalah apakah mereka memiliki sumber daya keuangan untuk bertahan hidup satu-dua tahun? Dan jawabannya adalah, sayangnya, tidak ada," analisa Aziz.
Apakah Malaysia Airlines patut disalahkan ?
Maskapai ini mendapat tanggapan bertubi-tubi atas hilangnya MH370 yang menuju Beijing dari Kuala Lumpur. Karena keberadaan pesawat itu tidak diketahui. Pesawat, diyakini jatuh dari jalur, mencapai selatan Samudra Hindia, dan hingga kini belum ditemukan.
Nasib pesawat milik Malaysia Airlines lainnya, MH17, yang seyogyanya akan menempuh penerbangan yang menuju Kuala Lumpur dari Amsterdam, jauh lebih jelas. Pesawat itu diduga tertembak rudal yang dilesatkan ke langit oleh pemberontak separatis pro-Rusia, di atas wilayah Ukraina.
"Untuk kali ini mereka adalah korban, sehingga sangat berbeda dari situasi di mana mereka tidak memiliki jawaban. Seluruh dunia akan menjadi bersimpati kepada mereka," kata Caroline Sapriel, Managing Director CS & A, sebuah perusahaan yang mengkhususkan diri dalam manajemen reputasi dalam situasi krisis.
Namun timbul pertanyaan lain mengapa penerbangan itu terbang di atas zona konflik? Beberapa maskapai penerbangan menghindari hal itu, dengan menambahkan bahan bakar untuk memutar rute, tapi sebagian besar tidak. Malaysia Airlines mungkin akan menghadapi pemeriksaan lebih lanjut tentang keputusan manajemen risiko terkait tragedi ini.
"Ini tidak terpikirkan dari sudut pandang manajemen risiko tentang di mana pesawat melintas," kata Kuniyoshi Shirai, ahli manajemen krisis di ACE Consulting.
Bagaimana seharusnya Malaysia Airline menangani tragedi terakhir ?
Para ahli mengatakan, hal yang terpenting untuk dilakukan Malaysia Airlines yakni komunikasi. Hal ini penting, karena jika keluarga korban tidak mendapatkan tanggapan langsung dari pihak perusahaan, maka itu bisa menjadi bumerang bagi pihak maskapai.
Para ahli lainnya juga mengatakan pentingnya membangun transparansi dan rasa empati kepada pihak keluarga korban. "Malaysia Airlines tampaknya telah belajar dari pengalaman lambatnya respon ketika terjadi tragedi MH370 beberapa waktu lalu," kata konsultan penerbangan Robert Mann.
Apa bisa penerbangan membangun kembali brand perusahaan ?
Maskapai ini butuh perubahan. Pemerintah Malaysia akan melihat akhirnya dan memutuskan apakah akan tetap memakai nama maskapai ini ataukah mengubahnya. "Mungkin mereka akan berpikir untuk mengubah nama maskapai itu," kata Sapriel, ahli manajemen reputasi.
Beberapa analis telah menganjurkan penjualan maskapai penerbangan milik negara ini agar bisa mendatangkan dana segar, serta teknologi baru. Seperti semua perusahaan penerbangan internasional, Malaysia Airlines perlu memperbarui armadanya dengan jet modern agar menjadi kompetitif.
Lebih lanjut perlu adanya pemulihan citra dimata calon konsumen yang menghindari menggunakan maskapai ini, karena takut akan mengalami hal serupa.
Cara lainnya, yakni dengan merombak kepemimpinan eksekutif baru. "Malaysia perlu membawa CEO baru dan kepala operasi penerbangan untuk mengembalikan karyawan dan kepercayaan konsumen pada maskapai itu," kata konsultan wisata Henry Harteveldt Atmosphere Research.
Selain itu, operator juga perlu menunjukkan komitmen mutlak terkait keselamatan penerbangan agar dapat mengatasi persepsi negatif dan membangun kembali kepercayaan.
"Anda perlu ahli manajemen risiko yang memiliki kekuatan sama dengan eksekutif. Anda harus mengubah kesadaran masyarakat. Anda juga harus menjaga seluruh proses yang transparan. Jika tidak, Anda tidak bisa mendapatkan kembali kepercayaan dari konsumen atau investor," kata Shirai, eksekutif manajemen krisis. (AP)
medcom.id: Musibah datang kedua kalinya untuk maskapai penerbangan Malaysia Airlines. Setelah sebelumnya penerbangan MH370 yang mengangkut 239 orang itu menghilang tanpa jejak pada Maret lalu, kini giliran MH17 yang jatuh akibat digempur rudal di atas tanah Ukraina dan menewaskan 298 orang.
Bencana ini tentunya membawa kinerja keuangan perusahaan ke tingkat yang terburuk. Sebuah tanda tanya besar yang pasti diajukan ke perusahaan yakni bagaimana masa depan Malaysia Airlines setelah dua tragedi yang tak terduga itu ?
Beberapa analis mengatakan maskapai penerbangan milik negara tidak akan bertahan satu tahun tanpa suntikan dana besar dari pemerintah Malaysia.
Sebuah bailout (situasi dimana sebuah entitas yang bangkrut atau hampir bangkrut, seperti perusahaan atau sebuah bank diberikan suatu injeksi dana segar yang likuid, dalam rangka untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya) akan dapat mengatasi masalah keuangan maskapai, tetapi tanpa dilakukannya perubahan ke arah yang lebih jauh, itu bisa tetap menjadi beban bagi pembayar pajak.
Beberapa ahli memberikan pandangan mereka tentang krisis maskapai dalam tanya jawab berikut ini.
Apa situasi terburuk untuk Malaysia Airlines ?
Banyak maskapai yang juga pernah mengalami bencana dan kembali, namun tak ada yang sebesar ini dua tragedi dalam selang waktu empat bulan.
Maskapai lain telah kembali dari bencana tapi tidak ada yang mengalami dua tragedi sebesar itu dalam waktu empat bulan.
"Tidak ada preseden sejarah. Ini benar-benar bukan kesalahan mereka, tetapi sekarang jika Anda bertanya setiap pelanggan yang akan terbang dengan Malaysia Airlines, mereka saat ini tentu memiliki sentimen negatif dan pada akhirnya lebih suka memilih sesuatu (penerbangan) yang lain," kata Mohshin Aziz, analis penerbangan di Maybank.
Maskapai ini sudah kehilangan sekitar US$1,6 juta per hari dan sahamnya telah berada di level merah untuk tiga tahun terakhir. Hilangnya MH370 dengan banyak penumpang dari Tiongkok juga menyebabkan reaksi di pasar Tiongkok. Para ahli tidak melihat jalan pintas untuk pemulihan.
"Perbaikan ini tak bisa dilakukan dengan cepat. Jadi pertanyaan kedua adalah apakah mereka memiliki sumber daya keuangan untuk bertahan hidup satu-dua tahun? Dan jawabannya adalah, sayangnya, tidak ada," analisa Aziz.
Apakah Malaysia Airlines patut disalahkan ?
Maskapai ini mendapat tanggapan bertubi-tubi atas hilangnya MH370 yang menuju Beijing dari Kuala Lumpur. Karena keberadaan pesawat itu tidak diketahui. Pesawat, diyakini jatuh dari jalur, mencapai selatan Samudra Hindia, dan hingga kini belum ditemukan.
Nasib pesawat milik Malaysia Airlines lainnya, MH17, yang seyogyanya akan menempuh penerbangan yang menuju Kuala Lumpur dari Amsterdam, jauh lebih jelas. Pesawat itu diduga tertembak rudal yang dilesatkan ke langit oleh pemberontak separatis pro-Rusia, di atas wilayah Ukraina.
"Untuk kali ini mereka adalah korban, sehingga sangat berbeda dari situasi di mana mereka tidak memiliki jawaban. Seluruh dunia akan menjadi bersimpati kepada mereka," kata Caroline Sapriel, Managing Director CS & A, sebuah perusahaan yang mengkhususkan diri dalam manajemen reputasi dalam situasi krisis.
Namun timbul pertanyaan lain mengapa penerbangan itu terbang di atas zona konflik? Beberapa maskapai penerbangan menghindari hal itu, dengan menambahkan bahan bakar untuk memutar rute, tapi sebagian besar tidak. Malaysia Airlines mungkin akan menghadapi pemeriksaan lebih lanjut tentang keputusan manajemen risiko terkait tragedi ini.
"Ini tidak terpikirkan dari sudut pandang manajemen risiko tentang di mana pesawat melintas," kata Kuniyoshi Shirai, ahli manajemen krisis di ACE Consulting.
Bagaimana seharusnya Malaysia Airline menangani tragedi terakhir ?
Para ahli mengatakan, hal yang terpenting untuk dilakukan Malaysia Airlines yakni komunikasi. Hal ini penting, karena jika keluarga korban tidak mendapatkan tanggapan langsung dari pihak perusahaan, maka itu bisa menjadi bumerang bagi pihak maskapai.
Para ahli lainnya juga mengatakan pentingnya membangun transparansi dan rasa empati kepada pihak keluarga korban. "Malaysia Airlines tampaknya telah belajar dari pengalaman lambatnya respon ketika terjadi tragedi MH370 beberapa waktu lalu," kata konsultan penerbangan Robert Mann.
Apa bisa penerbangan membangun kembali brand perusahaan ?
Maskapai ini butuh perubahan. Pemerintah Malaysia akan melihat akhirnya dan memutuskan apakah akan tetap memakai nama maskapai ini ataukah mengubahnya. "Mungkin mereka akan berpikir untuk mengubah nama maskapai itu," kata Sapriel, ahli manajemen reputasi.
Beberapa analis telah menganjurkan penjualan maskapai penerbangan milik negara ini agar bisa mendatangkan dana segar, serta teknologi baru. Seperti semua perusahaan penerbangan internasional, Malaysia Airlines perlu memperbarui armadanya dengan jet modern agar menjadi kompetitif.
Lebih lanjut perlu adanya pemulihan citra dimata calon konsumen yang menghindari menggunakan maskapai ini, karena takut akan mengalami hal serupa.
Cara lainnya, yakni dengan merombak kepemimpinan eksekutif baru. "Malaysia perlu membawa CEO baru dan kepala operasi penerbangan untuk mengembalikan karyawan dan kepercayaan konsumen pada maskapai itu," kata konsultan wisata Henry Harteveldt Atmosphere Research.
Selain itu, operator juga perlu menunjukkan komitmen mutlak terkait keselamatan penerbangan agar dapat mengatasi persepsi negatif dan membangun kembali kepercayaan.
"Anda perlu ahli manajemen risiko yang memiliki kekuatan sama dengan eksekutif. Anda harus mengubah kesadaran masyarakat. Anda juga harus menjaga seluruh proses yang transparan. Jika tidak, Anda tidak bisa mendapatkan kembali kepercayaan dari konsumen atau investor," kata Shirai, eksekutif manajemen krisis. (AP)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(WID)