Ketua Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) Aryo Andrianto (kedua kanan). Foto: Audyalwi/Antara
Ketua Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) Aryo Andrianto (kedua kanan). Foto: Audyalwi/Antara

APVI Siap Gandeng BNN Cegah Penyalahgunaan Rokok Elektrik

Nasional narkoba rokok elektrik
Husen Miftahudin • 28 Juni 2019 13:21
Jakarta: Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) siap bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam mengungkap oknum-oknum yang memanfaatkan rokok elektrik sebagai medium baru dalam penyalahgunaan narkoba. Kerja sama ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran mengenai penyalahgunaan narkoba sehingga peredarannya dapat dicegah lebih cepat.
 
"Kami siap bekerja sama dengan penegak hukum untuk mencegah peredaran narkoba melalui rokok elektrik. APVI mengecam oknum yang mencari keuntungan dengan merusak reputasi dan bisnis industri rokok elektrik," ujar Ketua APVI, Aryo Andrianto, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 28 Juni 2019.
 
Aryo menegaskan anggota asosiasinya fokus dalam pengembangan bisnis cairan rokok elektrik serta selalu menaati peraturan hukum yang berlaku dalam menjalankan proses produksinya. Tak hanya itu, APVI juga menjual produk cairan rokok elektrik kepada konsumen yang berusia 18 tahun ke atas.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami menghormati peraturan dalam menjalankan produksi, pemasaran, hingga penjualan kepada konsumen. Kami pun sering melakukan sosialisasi kepada para anggota APVI agar tidak menyalahgunakan rokok elektrik sebagai alat bantu narkoba. Jika ada anggota kami yang melanggar hukum, kami tidak akan memberikan perlindungan kepada oknum tersebut dan akan berkoordinasi dengan penegak hukum untuk menyelesaikan permasalahan tersebut," ucapnya.
 
Dengan segala peraturan hukum yang diikuti anggota APVI, Aryo berharap para pemangku kepentingan tidak langsung melarang izin peredaran produk tembakau alternatif, termasuk rokok elektrik di Indonesia. Ia juga menambahkan permasalahan penyalahgunaan rokok elektrik untuk narkoba merupakan permasalahan serius dan harus diselesaikan.
 
"Kami akan selalu berupaya memberikan yang terbaik bagi negara. Tentunya kami juga mengharapkan dukungan penuh kepada industri baru ini," kata dia.
 
Saat ini, industri rokok elektrik memiliki 300 produsen likuid, lebih dari 100 produsen alat dan aksesoris, lebih dari 150 distributor dan importir, serta lima ribu pengecer. Kontribusi dari kehadiran industri ini diharapkan menjadi pertimbangan para pemangku kepentingan sebelum membuat kebijakan yang justru nantinya merugikan industri yang sedang bertumbuh pesat ini.
 
Selain itu, Aryo juga meminta pemangku kepentingan lainnya untuk melakukan kajian ilmiah yang menyeluruh terhadap produk tembakau alternatif, salah satunya rokok elektrik agar produk tersebut bisa digunakan secara tepat dan mendapatkan pengawasan secara langsung. Di beberapa negara maju, rokok elektrik menjadi salah satu solusi untuk menurunkan angka prevalensi perokok.
 
"Artinya, kehadiran produk tembakau alternatif, seperti rokok elektrik mendapatkan sambutan positif dari negara-negara maju tersebut. Kami berharap para pemangku kepentingan juga memiliki pandangan yang serupa sehingga memberikan informasi yang menyeluruh terhadap publik," lugas Aryo.
 
Sebelumnya, Kepala Pusat Laboratorium Narkotika Badan Narkotika Nasional (BNN) Brigadir Jenderal Mufti Djusnir menegaskan pengguna rokok elektronik berpotensi menyalahgunakan narkoba. Yang lebih mengerikan lagi, penggunaan rokok elektronik sangat memungkinkan sebagai kamuflase peredaran sabu.
 

(AZF)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif