Bahaya Tersembunyi Aplikasi <i>Lipsync</i>
Ilustrasi. (Thinkstock)
Jakarta: Aplikasi lipsync seperti Tik Tok belakangan ini menjadi tren di kalangan anak muda pengguna media sosial. Aplikasi ini memudahkan pemilik akun memproduksi video singkat dengan berbagai kreasi.

Namun, di balik ramainya pengguna media sosial 'berkontribusi' dalam berbagai unggahan video menarik, ternyata ada bahaya tersembunyi di balik penggunaan aplikasi lipsync yang tidak disadari. 

Sosiolog Daisy Indira Yasmin menangkap aplikasi lipsync semacam Tik Tok tak memiliki panduan nilai bagi para penggunanya. Walhasil banyak video yang justru mengaburkan nilai moral dan mengabaikan asas kesopanan.


"Anak sekarang semakin kreatif tapi kalau lihat kontennya semakin parah. Seperti tidak ada panduan nilainya, apa yang disebarkan secara publik menjadi blur antara mana yang pantas dan tidak," ujarnya, dalam Selamat Pagi Indonesia, Selasa, 5 Juni 2018.

Daisy menilai alasan sederhana mengapa aplikasi semacam itu sangat digandrungi adalah karena berbeda dari platform media sosial lainnya seperti Facebook dan Instagram. 

Selain mengasah kreatifitas, aplikasi lipsync tak memiliki filter sehingga siapa pun termasuk anak di bawah usia 10 tahun bebas mengaksesnya. Terlebih, selebritas dan influencer media sosial ikut meramaikannya. 

"Selebritas atau influencer ini bagian dari role model yang bisa membawa pengaruh. Ketika seperti itu tentu orang akan mencoba dan berminat terlibat di dalamnya dan ini sebenarnya strategi marketing pengembang," katanya.

Sementara itu, Pengamat Media Sosial Nukman Luthfie mengungkap pengguna media sosial cenderung menyukai hal-hal seronok di media sosial untuk meraih banyak followers dan tanda suka. 

Konten lucu dan menghibur tentu akan mudah viral dan ditiru, namun ketika hal itu tidak bisa meraup banyak tanda suka dan followers, tak jarang pengguna media sosial memanfaatkan celah yang mengarah ke eksploitasi seksual.

"Sayangnya yang begini tidak ada verifikasi umur makanya mudah dipakai. Anak-anak bisa berkreasi, mau nyanyi tinggal lipsync bahkan kalau enggak lucu, enggak bagus akhirnya mengarah ke eksploitasi seksual," kata dia.

Terpisah, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti mengatakan aplikasi lipsync dengan kecenderungan penggunaan yang mengarah ke eksploitasi seksual dapat berdampak buruk pada anak-anak.

Retno menilai aplikasi lipsync yang mengeksploitasi seksualitas remaja dan anak-anak sama saja dengan memancing kejahatan siber seperti 'predator' anak.

"Ini kan seperti memancing predator. Banyak kasus anak mengalami kejahatan siber, tidak memancing saja dia bisa kena. Akan sangat mudah pada anak yang punya respons baik pada orang yang baru dikenal," pungkasnya.





(MEL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id