medcom.id, Jindo: Jumlah korban tewas musibah kapal feri tenggelam di Korea Selatan terus meningkat, dan telah menyentuh angka 150. Tim penyelam kini harus membobol kabin feri Sewol untuk menemukan korban lainnya, yang diperkirakan masih berjumlah ratusan.
Sebagian besar korban tewas adalah siswa SMA di Ansan, kawasan dekat Seoul. Walau 150 siswa lainnya masih hilang, tempat balai pemakaman di Ansan sudah penuh. "Pihak balai pemakaman mengambil langkah antisipasi untuk mengakomodasi jenazah tambahan," ucap Oh Sang-yoon, salah satu pejabat pemerintah pada AP, Rabu (23/4/2014).
Tim penyelam menembus perairan gelap dan dingin di lokasi tenggelamnya kapal feri Sewol di lepas pantai Pulau Jindo, Korea Selatan. Mereka masuk ke kapal feri, mengulurkan tangan ke berbagai arah, mencoba mencari jenazah.
Jarak pandang penyelam terbatas. Mereka hanya bisa melihat sekitar beberapa inci ke depan. Begitu juga dengan tabung oksigen, yang hanya bisa bertahan selama 20 menit sebelum adanya suara peringatan bahaya.
"Kami dilatih untuk bekerja di lingkungan berbahaya. Namun kami semua juga merasakan takut saat menemui mayat di perairan gelap," ucap salah satu penyelam Hwan Dae-sik.
Hwan dan timnya mengaku sudah mendapatkan 14 jenazah. "Kami harus menyentuh semua benda dengna tangan kami. Ini adalah tugas paling mengerikan dan juga menyayat hati sepanjang karier saya."
Sewol tenggelam pada Rabu pekan lalu dalam perjalanan dari Incheon menuju Pulau Jeju, Dari 476 penumpang dan kru, 339 di antaranya adalah murid SMA beserta para gurunya.
medcom.id, Jindo: Jumlah korban tewas musibah kapal feri tenggelam di Korea Selatan terus meningkat, dan telah menyentuh angka 150. Tim penyelam kini harus membobol kabin feri Sewol untuk menemukan korban lainnya, yang diperkirakan masih berjumlah ratusan.
Sebagian besar korban tewas adalah siswa SMA di Ansan, kawasan dekat Seoul. Walau 150 siswa lainnya masih hilang, tempat balai pemakaman di Ansan sudah penuh. "Pihak balai pemakaman mengambil langkah antisipasi untuk mengakomodasi jenazah tambahan," ucap Oh Sang-yoon, salah satu pejabat pemerintah pada
AP, Rabu (23/4/2014).
Tim penyelam menembus perairan gelap dan dingin di lokasi tenggelamnya kapal feri Sewol di lepas pantai Pulau Jindo, Korea Selatan. Mereka masuk ke kapal feri, mengulurkan tangan ke berbagai arah, mencoba mencari jenazah.
Jarak pandang penyelam terbatas. Mereka hanya bisa melihat sekitar beberapa inci ke depan. Begitu juga dengan tabung oksigen, yang hanya bisa bertahan selama 20 menit sebelum adanya suara peringatan bahaya.
"Kami dilatih untuk bekerja di lingkungan berbahaya. Namun kami semua juga merasakan takut saat menemui mayat di perairan gelap," ucap salah satu penyelam Hwan Dae-sik.
Hwan dan timnya mengaku sudah mendapatkan 14 jenazah. "Kami harus menyentuh semua benda dengna tangan kami. Ini adalah tugas paling mengerikan dan juga menyayat hati sepanjang karier saya."
Sewol tenggelam pada Rabu pekan lalu dalam perjalanan dari Incheon menuju Pulau Jeju, Dari 476 penumpang dan kru, 339 di antaranya adalah murid SMA beserta para gurunya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(WIL)