Pulau Goree, tempat penjualan budak dari seluruh Afrika. Foto: Medcom.id/Renatha Swasty.
Pulau Goree, tempat penjualan budak dari seluruh Afrika. Foto: Medcom.id/Renatha Swasty.

Menyelami Kelam Perbudakan Afrika di Pulau Goree

Nasional pemilu afrika indonesia-senegal
Renatha Swasty • 17 Desember 2018 07:22
Pakar: Jam menunjukkan pukul 16.00 waktu setempat ketika kapal penumpang bergerak dari Pelabuhan Dakar menuju Pulau Goree di perairan Senegal, Afrika Barat. Perjalanan menuju Pulau Goree memakan waktu 20 menit.
 
Sampai di pulau dengan luas 28 hektare itu, wisatawan disambut sunyi. Tak banyak keriuhan. Pulau Goree yang sekarang memang tidak seperti pada abad ke-15 hingga ke-19. Saat itu, Pulau Goree riuh, penuh tangisan, dan pemberontakan.
 
Selama empat abad, pulau itu dijadikan tempat penjualan budak dari seluruh Afrika. Oleh Portugis, Belanda, Prancis, dan Inggris, budak dikirim ke Amerika dengan kapal.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebelum dijual, para budak ditempatkan di sebuah rumah. Di sana, mereka dikurung dalam ruangan berukuran sekitar 3x3 meter berisi masing-masing 20 orang.Para budak dipisahkan sesuai jenis kelamin. Tak hanya orang dewasa, anak-anak turut dijual.
 
“Kaki dan tangan mereka diikat dengan besi pemberat seberat 5 kg,” cerita Abdou, pemandu wisata setempat.
 
Para budak diperlakukan sangat tidak manusiawi. Bahkan untuk pergi ke kamar mandi, mereka harus pergi bersama-sama dengan rantai terikat. “Sangat tidak higienis, akhirnya mereka tertular penyakit,” imbuh Abdou.
 
Tak mengenal ampun, perempuan hamil juga dikurung dan diikat dengan besi. Ketika ada budak yang buat masalah, mereka bakal dikurung di ruangan lebih kecil, termasuk ibu hamil.
 
Para budak sulit melarikan diri. Pasalnya, Pulau Goree dikelilingi Samudra Atlantik yang dikenal sangat dalam dan memiliki ombak besar. Belum lagi, kaki dan tangan mereka terikat besi.
 
Ketika akhirnya para budak keluar rumah singgah itu, mereka tidak akan pernah kembali. Pintu keluar itu dikenal dengan sebutan the door of no return atau pintu tanpa jalan kembali.
 
Pada 1848, perbudakan berakhir setelah 20 juta budak membuat rusuh. Pemberontakan itu juga meninggalkan kesedihan karena enam juta budak meninggal. Sementara itu, penjual budak dari Portugis, Belanda, Perancis dan Inggris saling membunuh.
 
“Ini sangat menyedihkan,” kata seorang pengunjung, Kabba Mboob.
 
Kabba, putra asli Gambia, tak bisa menutupi kesedihannya. Ia banyak merenung. Dia murung mengingat nenek moyangnya harus merasakan kejamnya perbudakan. Pasalnya, para budak dijual dengan paksa dan tak bisa memiliki kehidupan mereka.
 
Menyelami Kelam Perbudakan Afrika di Pulau Goree
Salah satu sudut di Pulau Goree, tempat budak dikurung. Foto: Medcom.id/Renatha Swasty.
 
Sementara itu, di sisi lain rumah, terlihat seorang perempuan keturunan Afrika-Amerika menangis meraung-raung. Semua kesedihan tampak ditumpahkannya.
 
Kepiluan itu tak cuma dirasakan warga keturunan Afrika. Pengunjung asal Indonesia merasakan hal yang sama, salah satunya Djayanti Retno Mandasari. Dia tak bisa menahan kesedihannya hingga menangis.
 
“Paling sedih waktu tahu anak-anak juga dijual dan diperlakukan sama seperti orang dewasa,” tutur Eno, panggilan karibnya.
 
Baca: Indonesia Dipercaya Kembangkan Kereta di Senegal
 
Perbudakan paling kejam dalam sejarah Afrika itu memang tak bisa dilupakan. Banyak hati yang terluka. Namun, mereka mencoba berdamai dengan masa lalu.
 
Kini, di Pulau Goree dibangun door of return atau pintu kembali. Setiap tahun diaspora Afrika di seluruh dunia datang ke Pulau Goree untuk merayakan rekonsiliasi dan pengampunan. Pulau Goree pun menjadi pengingat bila perbudakan hanya akan menyakiti hati semua orang.
 
“Kejadian itu sudah dimaafkan, tapi tak pernah bisa dilupakan,” jelas Abdou.
 
Pada 1978, Pulau Goree masuk dalam situs warisan dunia UNESCO. Sejumlah orang penting pernah datang dan menyelami langsung perbudakan kelam itu, seperti mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama, mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela, dan Paus Yohanes Paulus II.

 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif