Jakarta: Direktorat Air Baharkam Polri atau Ditpolair mengoperasikan sound navigation and ranging (Sonar) dan Pinger Receiver Sytem (PRS) 275 untuk mencari jasad korban dan badan pesawat Lion Air JT601. Alat tersebut dapat menjangkau hingga kedalaman 200 meter.
Kasubdit Fasilitas Pemeliharan dan Perbaikan Ditpolair Korpolairud Baharakam Polri, Kombes pol M Yasin Kosasih, mengatakan alat tersebut dioperasikan oleh tenaga asing.
"Dua mekanik dari Singapura dan Jakarta," kata Yasin di Pol Airud Barhakam, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa, 30 Oktober 2018.
Selain menemukan badan pesawat, alat tersebut diharapkan dapat menemukan kotak hitam. "Diperkirakan dapat menjangkau hingga kedalaman 200 meter. Kalau penyelam hanya dapat menjakau kedalaman hingga 35 meter," ujarnya.
Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Agung Budi Maryoto mengatakan, kapal dengan fasilitas sonar akan memudahkan pencarian bangkai pesawat dan kotak hitam Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Karawang.
Baca: Tim Gabungan Fokuskan Pencarian Gunakan Sonar
Sonar biasa digunakan untuk mendeteksi kapal selam dan ranjau, mendeteksi kedalaman, penangkapan ikan komersial, keselamatan penyelaman, dan komunikasi di laut.
Agung mengakui penyisiran di hari pertama mengalami kendala. Penyelam harus menyelam hingga kedalaman 40 meter namun tidak didukung oleh daya pandang yang baik.
"Penyelam terganggu lumpur dan minyak avtur dari pesawat. Sehingga daya pandang penyelam jadi tidak baik jika turun dan menyelam lebih dalam," kata Agung.
<iframe class="embedv" width="560" height="315" src="https://www.medcom.id/embed/Wb7jMLWN" allowfullscreen></iframe>
Jakarta: Direktorat Air Baharkam Polri atau Ditpolair mengoperasikan sound navigation and ranging (Sonar) dan Pinger Receiver Sytem (PRS) 275 untuk mencari jasad korban dan badan pesawat Lion Air JT601. Alat tersebut dapat menjangkau hingga kedalaman 200 meter.
Kasubdit Fasilitas Pemeliharan dan Perbaikan Ditpolair Korpolairud Baharakam Polri, Kombes pol M Yasin Kosasih, mengatakan alat tersebut dioperasikan oleh tenaga asing.
"Dua mekanik dari Singapura dan Jakarta," kata Yasin di Pol Airud Barhakam, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa, 30 Oktober 2018.
Selain menemukan badan pesawat, alat tersebut diharapkan dapat menemukan kotak hitam. "Diperkirakan dapat menjangkau hingga kedalaman 200 meter. Kalau penyelam hanya dapat menjakau kedalaman hingga 35 meter," ujarnya.
Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Agung Budi Maryoto mengatakan, kapal dengan fasilitas sonar akan memudahkan pencarian bangkai pesawat dan kotak hitam Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Karawang.
Baca: Tim Gabungan Fokuskan Pencarian Gunakan Sonar
Sonar biasa digunakan untuk mendeteksi kapal selam dan ranjau, mendeteksi kedalaman, penangkapan ikan komersial, keselamatan penyelaman, dan komunikasi di laut.
Agung mengakui penyisiran di hari pertama mengalami kendala. Penyelam harus menyelam hingga kedalaman 40 meter namun tidak didukung oleh daya pandang yang baik.
"Penyelam terganggu lumpur dan minyak avtur dari pesawat. Sehingga daya pandang penyelam jadi tidak baik jika turun dan menyelam lebih dalam," kata Agung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FZN)