medcom.id, Sidoarjo: Hari kedua sejak AirAsia QZ8501 dinyatakan hilang kontak radar dan radio, rumah Kapten Pilot Irianto terus didatangi kerabat. Angel dan Galih masih berharap ayahnya ditemukan selamat.
Keluarga Irianto tinggal di Perumahan Pondok Jati, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Di rumah itu, Irianto tinggal bersama istri dan kedua anaknya.
Warga yang datang kebanyakan memberikan semangat kepada istri dan dua anak Irianto. Mereka juga harap-harap cemas menanti hasil pencarian pesawat melalui media massa.
Di mata keluarga, Irianto yang sempat bekerja sebagai pilot pesawat tempur, dikenal perhatian kepada istri dan kedua anaknya. Di luar tugas mengendalikan pesawat, Irianto dipercaya sebagai ketua RT di lingkungannya.
Angel, anak sulung Irianto berusia 25 tahun berharap upaya pencarian bisa segera menghasilkan. Sedangkan Galih yang masih duduk di bangku kelas dua SD selalu menanyakan keberadaan ayahnya.
Sebelum bekerja di AirAsia Indonesia, Irianto adalah pilot TNI Angkatan Udara di Pangkalan Udara Iswahjudi, Magetan. Dia pernah menerbangkan pesawat tempur F-16.
Dia kemudian mengajukan pensiun dini dan bekerja di perusahaan penerbangan komersial Adam Air, sebelum akhirnya bekerja di AirAsia sejak 2008.
medcom.id, Sidoarjo: Hari kedua sejak AirAsia QZ8501 dinyatakan hilang kontak radar dan radio, rumah Kapten Pilot Irianto terus didatangi kerabat. Angel dan Galih masih berharap ayahnya ditemukan selamat.
Keluarga Irianto tinggal di Perumahan Pondok Jati, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Di rumah itu, Irianto tinggal bersama istri dan kedua anaknya.
Warga yang datang kebanyakan memberikan semangat kepada istri dan dua anak Irianto. Mereka juga harap-harap cemas menanti hasil pencarian pesawat melalui media massa.
Di mata keluarga, Irianto yang sempat bekerja sebagai pilot pesawat tempur, dikenal perhatian kepada istri dan kedua anaknya. Di luar tugas mengendalikan pesawat, Irianto dipercaya sebagai ketua RT di lingkungannya.
Angel, anak sulung Irianto berusia 25 tahun berharap upaya pencarian bisa segera menghasilkan. Sedangkan Galih yang masih duduk di bangku kelas dua SD selalu menanyakan keberadaan ayahnya.
Sebelum bekerja di AirAsia Indonesia, Irianto adalah pilot TNI Angkatan Udara di Pangkalan Udara Iswahjudi, Magetan. Dia pernah menerbangkan pesawat tempur F-16.
Dia kemudian mengajukan pensiun dini dan bekerja di perusahaan penerbangan komersial Adam Air, sebelum akhirnya bekerja di AirAsia sejak 2008.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TRK)