Kualitas Program Siaran Televisi di Bawah Standar
Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Yuliandre Darwis. (Foto: MI/Mohammad Irfan)
Jakarta: Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) melakukan survei indeks kualitas program siaran televisi periode kedua 2018. Hasilnya, rata-rata kualitas program siaran televisi masih di bawah standar.

Survei yang digelar pada April-Juni 2018 melibatkan sejumlah program televisi seperti berita, hiburan, anak, religi, wisata budaya, variety show, sinetron, dan talk show.

Berdasarkan hasil survei, rata-rata kualitas program siaran di televisi hanya memperoleh nilai 2,87. Angka ini lebih rendah ketimbang standar yang ditetapkan oleh KPI yakni 3,00.


"Kualitas program siaran rata-rata di bawah standar. Meski begitu ada kenaikan 0,3 dari 2,84 nilai rata-rata hasil survei periode pertama 2018," ujar Ketua KPI Yuliandre Darwis melalui siaran pers, Selasa, 23 Oktober 2018.

Yuliandre merinci, ada empat program siaran yang mendapatkan nilai di atas rata-rata. Program wisata budaya (3,33), talk show (3,22), religi (3,15), dan program berita (3,04).

Sementara, empat program lainnya seperti program anak, sinetron, variety show, dan infotainment perlu ditingkatkan lagi kualitas siarannya. "Kualitas paling rendah ada di program sinetron dan variety show yang hanya memeroleh nilai 2,52-2,68," ungkapnya.

Yuliandre menyebut performa program infotainment, sinetron, dan variety show nilainya tak beranjak dari survei ke survei yang dilakukan oleh KPI. Alasannya, sebagian besar informasi khususnya tentang selebritas dinilai kurang inspiratif. 

"Selebritas adalah trend setter, sebaiknya mengangkat sisi positif yang bisa menginspirasi. Misalnya gaya hidup sehat, rumah tangga yang harmonis, atau prestasi mereka," kata dia. 

Komitmen meningkatkan kualitas siaran

Dalam upaya meningkatkan kualitas siaran, Yuliandre mengatakan KPI menggandeng Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) untuk bekerja sama melalui nota kesepahaman. Hal ini untuk mendorong pengiklan menempatkan iklannya hanya pada tayangan berkualitas berdasarkan hasil survei dan rekomendasi yang telah diberikan oleh KPI.

"Selama ini, cara pandang pengiklan hanya bergantung pada kuantitas dan diukur dari banyaknya jumlah penonton, tidak peduli isi siarannya berkualitas atau tidak," sebut dia.

Melalui kerja sama ini, KPI ingin mendorong dan mengubah cara pandang pengiklan dalam beriklan di sebuah program acara televisi. Hasil rating diharapkan tidak menjadi satu-satunya alasan bagi para pengiklan untuk menyisipkan spot produknya dalam sebuah program.

Akibat dominasi rating, tambah dia, program acara di lembaga penyiaran televisi umumnya menjadi seragam. Masing-masing televisi berlomba membuat acara yang serupa demi mendapatkan rating tinggi.

“Angka itu tidak menilai apakah program acara itu penting atau tidak, baik atau tidak bagi pemirsa. Dengan survei ini semoga masyarakat dan pengiklan lebih selektif dalam mengonsumsi informasi atau konten siaran televisi," pungkasnya.





(MEL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id