(Antara/Wahyu Putro)
(Antara/Wahyu Putro)

Hujan Asam Terindikasi Terjadi di Beberapa Wilayah

Vera Erwaty Ismainy • 27 November 2014 11:48
medcom.id, Jakarta: Hujan asam diduga terjadi di beberapa kota di Indonesia. Hal ini terjadi akibat adanya deposisi asam.
 
Deposisi asam adalah terdeposisinya asam-asam yang ada di atmosfer baik dalam bentuk gas maupun cairan ke tanah, sungai, hutan dan tempat lainnya melalui tetes air hujan, kabut, embun, salju dan aerosol yang jatuh bersama angin.
 
Asam-asam tersebut berasal dari kegiatan manusia (anthropogenic) seperti emisi pembakaran batu bara dan minyak bumi, serta emisi dari kendaraan bermotor. Kegiatan alam seperti letusan gunung berapi juga dapat menjadi salah satu penyebab deposisi asam.

Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Arief Yuwono mengatakan indikasi terjadinya deposisi asam adalah pH air hujan di bawah 5,6 dan dalam bahasa umum biasa juga disebut hujan asam.
 
Deposisi asam di atmosfer terjadi melalui proses katalitis dan fotokimia gas-gas sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NOx) yang biasanya diemisikan dari industri dan kendaraan bermotor menjadi senyawa asam H2SO4 dan HNO3.
 
"Deposisi asam yang turun akan membasahi tanah dan benda-benda di permukaan bumi, mengalir melalui sungai hingga ke danau atau rawa-rawa dan selanjutnya akan memberikan dampak yang negatif," jelas Arief dalam rilis yang diterima Media Indonesia pada Kamis (27/11).
 
Berdasarkan hasil pemantauan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, terlihat di beberapa titik pemantauan, deposisi asam di Bandung, Serpong (Tangerang Selatan), Jakarta, Kototabang, dan Maros sudah terindikasi terjadi deposisi asam. Kondisi ini juga ditandai adanya nilai rata-rata pH air hujan antara tahun 2001 - 2013 berkisar pada 4,3-5,6.
 
Deposisi asam yang jatuh ke tanah dan mengalir ke sungai, danau, dan rawa akan menyebabkan penurunan nilai pH air permukaan, sehingga populasi akuatik akan berkurang atau bahkan menghilang.
 
Deposisi asam, baik basah maupun kering, dapat merusak bangunan, patung, kendaraan bermotor dan benda yang terbuat dari batu, logam atau material lain bila diletakkan di area terbuka untuk waktu yang lama.
 
Asam yang bereaksi dengan senyawa lain akan menyebabkan kabut polusi (urban smog) yang mengakibatkan iritasi pada paru-paru, asma, bronkitis dan penyakit pernapasan lainnya. Arief menjelaskan pengendalian deposisi asam dapat dilakukan dengan cara efisiensi dan preservasi energi, pengembangan nonfossil fuel dan teknologi ramah lingkungan.
 
Untuk itu, jelasnya, diperlukan peran serta pemerintah, masyarakat dan seluruh stake holder yang terintegrasi dalam manajemen pengendalian deposisi asam sehingga tercipta pembangunan berkelanjutan.
 
Terkait pembahasan mengenai hujan asam, Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan The Sixteenth Session of the Intergovernmental Meeting on the Acid Deposition Monitoring Network in East Asia (EANET) yang diselenggarakan pada 25-26 November lalu di Jakarta.
 
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai focal point ikut berperan dalam penyelenggaraan pemantauan deposisi asam melalui Pusat Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan (Pusarpedal) dan mengkoordinasikan kegiatan pemantauan deposisi asam yang dilakukan oleh Kementerian/lembaga terkait.
 
Ajang ini penting karena deposisi asam merupakan polutan lintas batas maka di kawasan Asia Timur diadakan kesepakatan kerjasama pemantauan deposisi asam yaitu The Acid Deposition Monitoring Network in East Asia (EANET) yang diikuti oleh 13 negara termasuk Indonesia sejak tahun 1998.
 
"Kerja sama regional ini akan memperkuat upaya pemantauan deposisi asam di masing-masing negara anggota EANET juga sebagai upaya untuk menentukan kebijakan penanganan terhadap dampak yang timbul akibat deposisi asam baik di tingkat nasional maupun regional," tandasnya.
 

 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ADF)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>