Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. Foto: Istimewa
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. Foto: Istimewa

APN Women’s Writing Clinic Jadi Ruang untuk Perempuan Merangkai Pikiran Lewat Kata

Muhammad Syahrul Ramadhan • 22 Oktober 2026 15:55
Ringkasnya gini..
  • APN NasDem adakan agenda pelatihan kepenulisan perempuan dalam Women's Writing Clinic.
  • Agenda ini dirancang untuk memperkuat kemampuan para penulis perempuan dalam berpikir kritis melalui esai dan op-ed yang tajam dan berdampak.
  • Menghadirkan praktisi media yang berpengalaman profesional dalam bidang jurnalistik sebagai narasumber kegiatan.
Jakarta: Perempuan di ruang publik kini mulai melangkah keluar dari belenggu dan bungkaman opini yang merampas agensi dan otonominya untuk bercerita dan mengungkapkan pendapat.

Sejak dahulu, tulisan hasil buah pemikiran perempuan selalu dikerdilkan bahkan diakuisisi oleh pihak maskulin karena dianggap tidak akan menjual jika penulisnya perempuan. Ada yang bahkan mengganti identitasnya seperti lelaki agar tulisannya dapat diakui masyarakat.

Sejarah pahit ketidakadilan dan ketimpangan gender yang merugikan perempuan selama bertahun-tahun lamanya ini, kini perlahan menemukan celahnya untuk bersinar dan berkembang. 

Akademi Perempuan NasDem (APN) menjadi salah satu penggerak penghapusan ketimpangan gender ini melalui agendanya, Women’s Writing Clinic dengan tajuk “Perempuan Menulis, Agensi Strategis” yang digelar secara daring pada Kamis (22/10/2026).


Suara Perempuan Jadi Penggerak

Kegiatan yang diadakan dalam rangka HUT ke-15 Partai NasDem ini dibuka pada Kamis (22/10/2026) mulai pukul 09.00-15.00 dengan menghadirkan sejumlah praktisi media dan pemangku kebijakan di Partai NasDem.

Agenda ini hadir sebagai wadah dan ruang untuk memperkuat kemampuan perempuan dalam menggerakan pikiran dan opini publik melalui berbagai gagasan, opini, dan kritiknya terhadap kebijakan serta sistem yang berlaku.

Wakil Ketua MPR RI dan Anggota Majelis Tinggi DPP NasDem, Lestari Moerdijat mengatakan bahwa agenda ini dirancang untuk menjadi ruang tumbuh bersama, belajar dari kekeliruan dan memberikan kesempatan untuk memperbaiki hingga mampu berada di depan.

“Menulis adalah cara memastikan bahwa perempuan hadir dalam ingatan dan apa yang dicatat oleh perempuan itu bisa menjadi gagasan serta perubahan dalam kajian kebijakan ataupun keputusan,” ujar Lestari dalam siaran daring.

Tulisan perempuan dapat lahir dari berbagai kegelisahan yang dirasakan oleh perempuan selama hidupnya. Ketidakadilan, ketimpangan, kekerasan, dan rasa tidak aman yang menjadi pengalaman universal seluruh perempuan dapat dituangkan ke dalam tulisan agar kemudian publik tergerak melakukan perubahan pada sistem sosial yang merugikan perempuan.
 
“Bersuara bukan hanya bicara, tapi akan meninggalkan catatan-catatan yang kelak menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan sejarah perempuan,” jelasnya.

Eva Sundari, Ketua DPP NasDem Bidang Migran, menimpalinya dengan konsep feminisme pancasila bahwa tulisan soal perempuan harus membongkar dan mengubah sistem-sistem yang sudah mengakar pada masyarakat, yakni patriarki yang malah menyudutkan perempuan menjadi pihak yang salah.


Akan Mengadakan Pelatihan selama 30 Hari

Klinik menulis ini memberikan pengetahuan lebih agar tulisan para peserta perempuan lebih kuat dan kritis serta dapat bersaing di dunia media digital.

Abdul Kohar, Direktur Pemberitaan Media Indonesia dan Citra Larasati, Redaktur Medcom.id menjadi pembicara sekaligus pembimbing langsung dalam pelatihan menulis bagi perempuan yang akan berlangsung secara daring selama 30 hari ke depan.

Para narasumber memberikan pengetahuan, strategi, serta struktur yang tepat untuk memperkuat kemampuan para penulis perempuan dalam penulisan esai dan opini (op-ed) yang tajam, bernas, dan berdampak berdasarkan pengalamannya di bidang jurnalistik.

Melalui agenda ini, APN mendorong para peserta penulis perempuan untuk menggali pikirannya, keresahannya, serta kemampuannya dalam menulis terkait segala persoalan yang terjadi di masyarakat mulai dari keluarga, ekonomi, politik, dan yang lainnya.

Suara dan pikiran perempuan akan selalu penting dan layak untuk didengar, dibaca, dan dipertimbangkan agar menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya sebagai agen perubahan dari dalam lapisan masyarakat.

(Vira Farhatul Maula)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(RUL)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>