Anggota Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional Soedjatmiko (Foto:Dok.Metro TV)
Anggota Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional Soedjatmiko (Foto:Dok.Metro TV)

Keamanan dan Efektivitas Vaksin Covid-19

Nasional vaksin covid-19 Vaksinasi covid-19
Rosa Anggreati • 12 November 2020 23:44
Jakarta: Kehadiran vaksin covid-19 dinanti-nanti dengan harapan dapat segera mengakhiri pandemi. Namun demikian, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan agar vaksin covid-19 harus aman dan efektif agar kepercayaan publik soal manfaat vaksin meningkat.
 
Sebelumnya pun telah dikatakan oleh Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito bahwa vaksin covid-19 yang akan diberikan kepada masyarakat aman. Pada prinsipnya, vaksin merupakan virus yang dilemahkan dan tidak berbahaya.
 
Terkait keamanan dan efektivitas vaksin, Anggota Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional Soedjatmiko menyebutkan hal itu dipengaruhi oleh sejumlah faktor.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Faktor pertama adalah respons subjek yang disuntik.
 
“Contohnya yang diuji klinik fase 3 di Bandung. Kalau mereka tidak ada keluhan mereka tidak akan melapor. Kalau ada keluhan sedikit, mereka akan melapor,” kata Soedjatmiko pada program Prime Talk di Metro TV, Kamis, 12 November 2020.
 
Faktor kedua, efektivitas vaksin ditentukan oleh pihak yang melakukan uji klinik serta badan otoritas yang mengawasinya, yaitu Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM).
 
“Termasuk vaksin yang diimpor pun demikian. Karena di negara masing-masing juga ada badan-badan yang mengawasi fase demi fase,” katanya.
 
Selain keamanan dan efektivitas, masyarakat pun khawatir dengan proses pengadaan vaksin yang dipercepat. Soal ini, Sudjatmiko menjelaskan, "Yang dimaksud bukanlah mempercepat tahapan pemeriksaan laboratorium, tetapi efesiensi administrasi dan operasional."
 
Untuk diketahui, Indonesia tengah menanti selesainya uji vaksin yang sedang berjalan, yakni vaksin Merah Putih yang dikembangkan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan Sinovac dari Tiongkok. Vaksin tersebut sedang diuji di Bandung, Jawa Barat.
 
Pengembangan Vaksin Merah Putih saat ini mencapai 55 persen dan telah memasuki tahun menghasilkan protein rekombinan.
 
Sementara, Sinovac sudah berada pada tahap uji klinis fase 3 di Bandung, dan telah mengambil subjek sebanyak 1.620 orang dewasa.
 
Jika vaksin telah siap, vaksinasi covid-19 diprioritaskan untuk kelompok usia 19-59 tahun. Hal ini dilakukan berdasarkan beberapa pertimbangan.
 
“Sejak awal di negara yang mendesain vaksin memang protokolnya memilih umur itu karena di sana yang terinfeksi covid-19 dan meninggal adalah umur antara 19-59 tahun,” kata Soedjatmiko.
 
Kondisi tersebut pun cocok dengan Indonesia. Menurut data Gugus Tugas Covid-19 sekitar 78,5 persen orang yang terinfeksi berada di antara umur 19-59 tahun. Dan yang paling banyak meninggal pun berada di kelompok usia tersebut yakni 54,3 persen.
 
Sementara bagi kelompok di luar rentang umur tersebut tidak divaksin. Hal ini disebut sebagai konsep herd immunity.
 
“Kalau yang umur 19-59 tahun karena mereka aktif bekerja dan sebagainya, 78 persen itu berisiko sakit dan berisiko menularkan. Kalau itu (vaksinasi untuk kelompok tersebut) mencapai jumlah 75 persen atau lebih, maka sisanya akan terlindungi. Itu yang disebut herd immunity,” ucap Soedjatmiko.
 
Masyarakat perlu mengetahui bahwa pemberian vaksin tidak serta merta menghasilkan kekebalan instan. Perlu waktu agar tubuh mengenali vaksin.
 
Soedjatmiko menyebutkan butuh waktu paling cepat dua minggu setelah imunisasi untuk tercapai ambang vaksin mampu melindungi manusia dari virus.
 
Dia kembali meyakinkan masyarakat bahwa vaksinasi aman dan perlu dilakukan. Keamanan ini dijamin dari pengkajian yang teliti pada setiap fase, baik di negara asalnya maupun di Indonesia.
 
“Kalau kita tidak diberikan imunisasi terbukti bahwa dari Maret hingga Oktober 2020, setiap hari ada yang meninggal. Bahkan pernah pada September, 160 per hari orang Indonesia meninggal. Karena itu, dengan 3T dan 3M saja ternyata penurunan kematian sangat pelan sehingga perlu imunisasi dan harus mencapai 70 persen,” katanya.
 
Soedjatmiko menegaskan vaksin tetap tidak bisa berdiri sendiri untuk menghentikan pandemi. Masyarakat diimbau tetap disiplin menerapkan 3M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan) dan 3T (testing, tracing, treatment).
 
“Vaksin itu memperkuat dan mempercepat proses berakhirnya pandemi, tapi tidak bisa berdiri sendiri mengakhiri pandemi,” ucapnya.
 
(ROS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif