Pelecehan tidak selalu berupa sentuhan fisik. Komentar yang dianggap "seru-seruan" atau sekadar “obrolan tongkrongan” tapi mengandung unsur seksual juga termasuk dalam kategori pelecehan.
Seperti kasus yang baru-baru ini viral terkait ruang obrolan virtual sejumalh mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) yang tersebar di media sosial. Dalam group chat itu terungkap pola pelecehan yang sering kali dianggap hanya "gurauan" atau interaksi santai.
Lantas, apa saja sebenarnya gurauan yang sudah termasuk pelecehan seksual secara verbal? Berikut adalah macam-macam gurauan yang sering dianggap remeh, padahal termasuk bentuk pelecehan:
| Baca juga: Kronologi Lengkap Kasus Pelecehan di UI! dari Chat Vulgar ke Sidang 16 Mahasiswa |
1. Catcalling
Sering kali pelaku merasa hanya menyapa atau memuji, seperti siulan, suara mengecup, atau komentar fisik seperti "Cantik banget hari ini, mau ke mana?" atau "Seksi ya kalau pakai baju itu."Komentar tersebut dinilai mengobjektifikasi seseorang dan dilakukan di ruang publik tanpa persetujuan, yang sering kali menimbulkan rasa tidak nyaman atau terancam bagi penerimanya.
2. Pertanyaan Pribadi Tentang Aktivitas Seksual
Gurauan seperti menanyakan "Gimana semalam sama pacar?" atau "Wah, lehernya merah tuh, habis ngapain?" sering dianggap sebagai obrolan santai antar teman akrab. Padahal, informasi mengenai kehidupan seksual seseorang adalah privasi tingkat tinggi.Menjadikan hal-hal seperti demikian sebagai bahan bercandaan, apalagi di depan umum, atau tanpa diminta adalah pelanggaran ruang pribadi yang sangat tidak sopan.
3. Memberi Julukan Berdasarkan Bagian Tubuh
Mengganti nama teman dengan julukan yang merujuk pada fisik mereka, seperti "Si Dada Besar," "Si Bokong Tepos," atau sebutan-sebutan yang lebih vulgar lainnya juga termasuk pelecehan.Mengidentifikasi seseorang hanya berdasarkan karakteristik seksual tubuhnya adalah bentuk dehumanisasi. Hal ini merusak harga diri dan membuat korban merasa tubuhnya sedang "dinilai" secara seksual oleh orang lain.
| Baca juga: 5 Rekomendasi Film Tentang Pelecehan Seksual di Kampus: Dari Penyalin Cahaya hingga Guilty |
4. Sindiran Seksual (Innuendo) yang Dipaksakan
Pernahkah Sobat Medcom mendengar seseorang yang selalu menghubungkan segala kata-kata biasa menjadi bermakna mesum? Contohnya saat seseorang sedang makan pisang atau sosis, lalu ada yang nyeletuk, "Enak ya, gede banget?" diikuti tawa rekan lainnya.Situasi ini menciptakan lingkungan yang tidak sehat (hostile environment). Meskipun pelaku merasa "hanya bercanda," candaan ini memaksa orang lain masuk ke dalam konteks seksual yang tidak mereka inginkan.
5. Membicarakan Fantasi dengan Dalih "Cuma Berandai-andai"
Misalnya, "Kalau kita lagi berdua di pulau terpencil, mungkin aku sudah khilaf sama kamu, hahaha!" Ini adalah bentuk agresi verbal. Kalimat tersebut mengandung ancaman terselubung yang disamarkan dengan tawa, membuat korban merasa tidak aman berada di dekat pelaku.6. Menyebarkan atau Mengomentari Konten Dewasa Tanpa Izin
Menunjukkan foto orang lain yang berpakaian minim, menyebarkan meme vulgar di grup WhatsApp kantor, atau menceritakan lelucon porno kepada orang yang jelas-jelas tidak nyaman mendengarnya.Mengapa ini pelecehan? Karena memaksa orang lain untuk mengonsumsi konten seksual adalah bentuk pelecehan verbal dan visual yang dapat menciptakan trauma atau ketidaknyamanan ekstrem.
Kesimpulannya, poin utama bukan ada pada niat pelaku, melainkan pada dampak bagi korban. Jika seseorang merasa tidak nyaman, terhina, atau terintimidasi oleh komentar berbau seksual, maka itu adalah pelecehan.
Sobat Medcom perlu ingat bahwa persetujuan (consent) tidak hanya berlaku untuk fisik, tapi juga untuk percakapan. Jika lawan bicaramu tidak tertawa, terlihat canggung, atau berusaha mengalihkan pembicaraan, itu adalah sinyal kuat untuk berhenti.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News