Polda Metro Jaya bersama tim gabungan menangkap tersangka pelaku teror penyiraman cairan kimia yang aksinya sangat meresahkan warga Jakarta Barat.  Antara Foto/Aditya Pradana Putra
Polda Metro Jaya bersama tim gabungan menangkap tersangka pelaku teror penyiraman cairan kimia yang aksinya sangat meresahkan warga Jakarta Barat. Antara Foto/Aditya Pradana Putra

Pelaku Penyiraman Air Keras Pilih Korban yang Lemah

Nasional tragedi air keras
Yurike Budiman • 17 November 2019 03:44
Jakarta: Polda Metro Jaya menangkap pelaku penyiraman air keras di wilayah Jakarta Barat. Tersangka FY, 29, telah menyiram enam korbannya di waktu dan hari yang berbeda dalam sepekan kemarin.
 
FY berhasil diringkus oleh tim gabungan Subdit Jatanras Polda Metro Jaya, Subdit Resmob Polda Metro Jaya dan Polres Jakarta Barat, di kawasan Kembangan, Jakarta Barat, pada Jumat, 15 November 2019, malam.
 
"Kami mengamankan pelaku tindak pidana penyiraman air keras terhadap beberapa korbannya yang perempuan. Kami tangkap pada hari Jumat sekitar pukul 18.30, tidak jauh dari TKP kejadian yang ketiga yaitu di Gang Mawar, Srengseng Barat," kata Kasubbid PID Humas Polda Metro Jaya, AKBP Heru P saat pengungkapan kasus penyiraman air keras di Polda Metro Jaya, Sabtu, 16 November 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dari keenam korban yang seluruhnya perempuan, lima di antaranya adalah pelajar. FY beraksi selama tiga kali di lokasi yang berbeda di sekitar Jakarta Barat.
 
Kanit 2 Subdit 4 Jatanras Polda Metro Jaya AKP Adhi Wananda mengatakan bahwa FY tak ada alasan khusus menyasar perempuan sebagai korban dari aksi penyiraman air keras.
 
"Tidak ada ciri khusus dari para korban, melainkan secara acak yang dilakukan oleh tersangka (dalam menyasar korban)," ungkapnya.
 
Meski begitu, motif utama pelaku masih dalam penyelidikan lebih lanjut. "Motifnya masih dalam pendalaman," kata Adhi.
 
Psikolog Klinis dan Forensik Kasandra Putranto menilai penyiraman yang dilakukan terhadap enam korban yang seluruhnya perempuan dinilai tidak punya latar belakang yang khusus. Penyerangan itu pun dinilai hanya terkait ketidakberdayaan korban.
 
Pemeriksaan telah dilakukan terkait kondisi kejiwaan tersangka. Kepada penyidik kepolisian tersangka mengaku melakukan aksinya lantaran termotivasi kenangan buruk di masa lalu.
 
"Dari yang kami peroleh kami simpulkan setidaknya tersangka bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya. Artinya dia sadar, tidak ditemukan adanya indikasi delusi, halusinasi atau apapun yang meragukan kesehatan jiwanya," papar Kasandra.
 
Atas peristiwa ini, tersangka disangkakan pasal 80 Undang-Undang No.35 tahun 2014 tindak pidana penganiayaan terhadap perempuan dan atau juga pasal 351 ayat 2 KUHPidana dengan hukuman maksimalkan 4 tahun penjara.

 

(BOW)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif