BPPT dan Rumat Berkolaborasi Tingkatkan Kualitas Hidup Penderita Diabetes

Gervin Nathaniel Purba 14 Mei 2018 09:31 WIB
puspiptek
BPPT dan Rumat Berkolaborasi Tingkatkan Kualitas Hidup Penderita Diabetes
(Foto:Gervin Nathaniel Purba)
Bekasi: Balai Inkubator Teknologi (BIT) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama Technology Business Incubation Center Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (TBIC Kemenristekdikti) menjalin kemitraan dengan PT Rumah Perawatan Indonesia (Rumat) dalam meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes.

Upaya menjalin kemitraan tersebut dituangkan dalam bentuk penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Rumat dengan tenant binaan dari BPPT, PT Global Indotech Madani selaku produsen magneo+ dan PT Agrotek Pintar Nusantara selaku produsen beras analog. MoU dilaksanakan di Hotel Evitel Cibitung, Jalan Teuku Umar Km.45 Nomor 26, Cibitung, Bekasi, Jawa Barat, Minggu, 13 Mei 2018.

Dari hasil kerja sama tersebut, PT Agrotek Pintar Nusantara dan PT Global Indotech Madani akan memasok beras analog berupa beras sagu dan magneo+ ke Rumat untuk digunakan oleh pasien diabetes yang dirawat di Rumat. Kedua produk tersebut juga akan dijual ke masyarakat oleh Rumat melalui cabang-cabangnya. PT. Global Indotech yang memproduksi Magneo+ merupakan salah satu dari 21 perusahaan pemula berbasis teknologi peserta program inkubasi bisnis teknologi di TBIC Puspiptek Tahun 2018.


Kepala Balai Inkubator Teknologi BPPT Anugerah Widiyanto mengatakan kerja sama ini dalam rangka membantu meningkatkan kualitas hidup para penderita diabetes, sekaligus mengurangi ketergantungan obat impor dengan mengedepankan hasil riset dalam negeri.

"Ini sesuai arahan Bapak Menristekdikti supaya hasil riset bisa sampai ke masyarakat. Sebab, selama ini selalu impor obat. Kemudian, kita hilirisasi dan sertifikasi. Lalu produksi komersil. Selama proses inkubasi kita cari sertifikasi," ujar Anugerah.

Beras sagu yang dihasilkan PT Agrotek Nusantara merupakan beras dengan indeks glikemiks rendah dibandingkan beras biasa. Seratnya lebih tinggi, energi yang dihasilkan tidak kalah dengan beras biasa. Orang yang mengonsumsi beras ini akan merasa kenyang lebih lama, dan lancar buang air besar.

Sementara itu, magneo+ digunakan untuk mengurangi nyeri sendi bagi penderita diabetes, dan menghilangkan nyeri di dada sehingga tidur menjadi lebih nyenyak. Magneo+ berbentuk botol kecil yang berfungsi sebagai obat semprot.


 (Foto:Gervin Nathaniel Purba)

Ditemui pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Rumat, Dadang, mengatakan beras sagu dan magneo+ telah diuji coba oleh para pasien diabetes yang dirawat Rumat. Menurutnya, para pasien memberikan respons positif terhadap kedua produk tersebut, sehingga dilanjutkan dengan MoU.

"Kerja sama ini akan berlangsung setahun. Jika hasilnya menunjukkan perkembangan positif, maka kami harap bisa dilanjutkan," kata Dadang.

Tak hanya untuk konsumsi pasien, Rumat juga akan mendistribusikan kepada masyarakat. Beras sagu akan dijual seharga Rp8.500 untuk ukuran 250 gram, dan Rp13.600 ukuran 400 gram.

Melalui kerja sama ini, Anugerah berharap produk hasil riset dari program inkubator BPPT yang dilaksanakan di TBIC kawasan Puspiptek Serpong, dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat. "Juga diharapkan produk hasil riset dapat meningkatkan daya saing di pasar," ujarnya.



(ROS)