Operasi pencarian AirAsia QZ8501-- AFP/BAY ISMOYO
Operasi pencarian AirAsia QZ8501-- AFP/BAY ISMOYO

Tiga Kejanggalan di Balik Hilangnya AirAsia QZ8501

Tri Kurniawan • 30 Desember 2014 14:06
medcom.id, Jakarta: Pesawat AirAsia QZ8501 hilang kontak pukul 06.17 WIB, Minggu 28 Desember. Ada sejumlah pertanyaan di balik hilangnya pesawat tujuan Bandara Juanda, Surabaya-Bandara Changi, Singapura itu.
 
Berikut ini kejanggalan di balik insiden tersebut, dihimpun Metrotvnews.com:
 
1. Pilot tak teriak may day

Pengamat Penerbangan Arista Atmadjati menyampaikan, saat pilot meminta izin untuk menaikkan ketinggian dari 32 ribu kaki ke 38 ribu kaki dan mengubah arah, merupakan tindakan biasa.
 
Hal tersebut dilakukan di dunia penerbangan, saat ada cuaca buruk di mana awan tebal di depan pilot bisa dilihat melalui radarnya dalam kokpit.
 
"Naik ketinggian itu biasa, tapi yang mengherankan adalah kenapa pilot dalam situasi gawat, bisa sama sekali tidak berteriak di radio 'may day, may day'," kata Arista.
 
2. Sinyal ELT tak menyala
 
Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Tatang Kurniadi mempertanyakan tidak adanya sinyal darurat dari pesawat AirAsia QZ8501 sesaat sebelum dinyatakan hilang.
 
Padahal, lazimnya pesawat sipil punya dua pemancar sinyal darurat, yakni emergency locator transmitter (ELT) untuk sinyal darurat di darat dan underwater locator beacon (ULB), khusus untuk di bawah air.
 
"Tapi, kedua sinyal itu tak ditangkap Basarnas hingga kini," kata Tatang.
 
3. Tak Ada Kontak Lebih Lanjut
 
Ahli penerbangan Peter Stuart Smith, menyebut kejanggalan AirAsia QZ8501 ketika pesawat menghadapi cuaca buruk, mengapa tidak ada kontak lebih lanjut antara pilot dengan petugas kontrol lalu lintas udara.
 
”Ini situasi yang berbeda ketika pesawat dekat dengan tanah, tetapi ini di ketinggian. Bahkan jika pesawat terhenti, ada kesempatan bagi kru untuk memulihkan situasi dan mengontrol pesawat kembali,” ujar Smith.
 
Hingga saat ini, pencarian AirAsia QZ8501 terus dilakukan. Basarnas didukung TNI, Polri, Kementerian Perhubungan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan masyarakat menyisir perairan Bangka Belitung hingga Kalimantan, titik terakhir pesawat hilang kontak.
 
Seorang nelayan, Taha, mengaku menemukan benda berukuran empat meter di sekitar Pulau Belinyu, Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. Kapten KM Bahari Maju Fariawan juga mengaku melihat melihat pesawat merah terbang rendah di timur Pulau Lingga, Kepulauan Riau.
 
Tim Basarnas menindaklanjuti pengakuan itu. Hingga saat ini, sudah menemukan 10 objek di laut sebelah selatan Pulau Kalimantan. Serpihan-serpihan itu berwarna putih dan oranye. Namun belum dapat dipastikan apakah serpihan-serpihan itu berhubungan dengan AirAsia atau bukan.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TRK)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan