medcom.id, Jakarta: Dua aktor Obor Rakyat, Setyardi Boediono dan Darmawan Sepriyossa, menyangkal soal keterlibatan pemilik PT Mulia Kencana Semesta (Inilah Printing) Muchlis Hasyim Jahja dan juragan minyak Muhammad Riza Chalid dalam penerbitan tabloid itu.
"Duit dari saya semua. Enggak ada hubungannya dengan percetakan ataupun Reza," aku Setyardi, di Jakarta, Rabu (2/7/2014).
Ketika ditanya mengenai kemungkinan adanya kontrak dengan percetakan dengan tabloid, dia enggan menjawab.
Begitupula saat ditanya soal kwitansi dari PT Pos Indonesia yang menyatakan pengirimnya adalah dirinya dengan nilai kontrak Rp200 juta, Setyardi tak mau berbicara banyak.
"Saya enggak mau komentar soal itu. Untuk hasil pemeriksaannya juga. Itu silakan tanya langsung ke penyidik," kilahnya.
Setyardi saat itu didampingi Darmawan, serta kuasa hukum mereka, Hinca Panjaitan. Mereka memenuhi panggilan pemeriksaan Polri untuk yang kedua kalinya.
Tujuannya, melengkapi keterangan yang sudah diberikan pada pemeriksaan pertama, pada Senin (23/6/2014).
Setyardi diketahui merupakan Komisaris PTPN XIII dan Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Otonomi Daerah Velix Wanggai.
Adapun Darmawan datang untuk yang pertama kalinya setelah dua kali tak memberi respons terhadap panggilan sebelumnya.
Darmawan mengaku sedang beribadah umrah saat dua pemanggilan sebelumnya. "Saya kecewa waktu itu ada yang memuat (berita) saya mangkir. Padahal kan saya beru kembali (dari umrah), dan saya datang kali ini," dalihnya.
Darmawan mengaku tak tahu menahu soal pendanaan tabloid tersebut. Terlebih soal kaitan dengan Reza.
Dia mengaku hanya menjadi pekerja, yakni editor tabloid, yang digaji dan diperintah oleh Setyardi selaku pemimpin redaksi. Alhasil, diapun menyangkal punya hubungan koordinasi dengan Muchlis dalam penerbitan Obor Rakyat.
"Kami kenal Muchlis, dalam struktural saya sebagai anak buah di inilah.com. Di sana, saya redaktur. Tapi tidak ada perintah sama sekali untuk di Obor Rakyat ini. Yang perintah menulis bukan Muchlis. Kalau yang di Inilah.com iya," tutur Darmawan.
Setyardi mengaku memerintah Darmawan menulis Obor Rakyat lantaran isi tulisan itu sejalan dengan keyakinan Darmawan.
Ia mengaku menggaji karyawannya itu dengan cukup."Saya yang membayarnya. Yang jelas lebih besar dari gaji di Metro TV," selorohnya.
Hinca menambahkan, dalam pemeriksaan kali ini belum ada penetapan tersangka ataupun penetapan pasal dan perundangan apa yang dikenakan pada dua kliennya itu. Ia pun menganggap terlalu prematur klaim Dewan Pers kalau Obor Rakyat bukanlah produk jurnalistik.
"Penyidik saja masih bingung (soal undang-undangnya), apalagi kami," tutupnya.
Berdasarkan penelusuran tim investigasi Media Indonesia, Senin (30/6/2014), dana penerbitan dan pendistribusian tabloid Obor Rakyat yang mendiskreditkan calon presiden Joko Widodo diduga berasal dari kocek pengusaha minyak, Muhammad Riza Chalid. Dan untuk menjalankan dan mengawasi penerbitan Obor Rakyat, berdasarkan sumber Media Indonesia, Riza menunjuk jurnalis senior Muchlis Hasyim Jahya (MHJ).
Muchlis disebut sebagai operator dan sudah bertahun-tahun menjalankan bisnis media milik Riza, Inilah Group. Muchlis menjadi CEO Inilah Group yang memiliki unit usaha https://www.inilah.com, https://www.inilahjabar.com dan Inilah Koran.
Tidak hanya membiayai Obor Rakyat, Riza yang di Singapura dikenal dengan sebutan Gasoline Godfather juga membiayai tim sukses Hatta Rajasa. Salah satu contoh, Riza menggelontorkan puluhan miliar rupiah untuk membeli Rumah Polonia di Jalan Cipinang Cempedak I nomor 29, Otista, Jakarta Timur.
Rumah tersebut kini menjadi markas tim pemenangan pasangan calon presiden/wakil presiden Prabowo-Hatta. Riza mengakuisisi Rumah Polonia melalui Ketua Majelis Dzikir SBY Nurrussalam Haji Harris Tahir.
Awalnya, Rumah Polonia digunakan sebagai markas tim sukses Hatta Rajasa dan tempat pengajian para santri Majelis Dzikir SBY Nurrussalam.
Di Rumah Polonia itu Hatta ikut berkantor. Selain Hatta, ada ruangan mantan Kepala Staf TNI-AD Jenderal (Purn) George Toisutta serta Ketua Majelis Dzikir SBY Nurrussalam Haji Harris Tahir.
Baik Muchlis Hasyim maupun Hatta Rajasa menyatakan bantahan terhadap temuan tim Investigasi Media Indonesia itu.
medcom.id, Jakarta: Dua aktor
Obor Rakyat, Setyardi Boediono dan Darmawan Sepriyossa, menyangkal soal keterlibatan pemilik PT Mulia Kencana Semesta (Inilah Printing) Muchlis Hasyim Jahja dan juragan minyak Muhammad Riza Chalid dalam penerbitan tabloid itu.
"Duit dari saya semua. Enggak ada hubungannya dengan percetakan ataupun Reza," aku Setyardi, di Jakarta, Rabu (2/7/2014).
Ketika ditanya mengenai kemungkinan adanya kontrak dengan percetakan dengan tabloid, dia enggan menjawab.
Begitupula saat ditanya soal kwitansi dari PT Pos Indonesia yang menyatakan pengirimnya adalah dirinya dengan nilai kontrak Rp200 juta, Setyardi tak mau berbicara banyak.
"Saya enggak mau komentar soal itu. Untuk hasil pemeriksaannya juga. Itu silakan tanya langsung ke penyidik," kilahnya.
Setyardi saat itu didampingi Darmawan, serta kuasa hukum mereka, Hinca Panjaitan. Mereka memenuhi panggilan pemeriksaan Polri untuk yang kedua kalinya.
Tujuannya, melengkapi keterangan yang sudah diberikan pada pemeriksaan pertama, pada Senin (23/6/2014).
Setyardi diketahui merupakan Komisaris PTPN XIII dan Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Otonomi Daerah Velix Wanggai.
Adapun Darmawan datang untuk yang pertama kalinya setelah dua kali tak memberi respons terhadap panggilan sebelumnya.
Darmawan mengaku sedang beribadah umrah saat dua pemanggilan sebelumnya. "Saya kecewa waktu itu ada yang memuat (berita) saya mangkir. Padahal kan saya beru kembali (dari umrah), dan saya datang kali ini," dalihnya.
Darmawan mengaku tak tahu menahu soal pendanaan tabloid tersebut. Terlebih soal kaitan dengan Reza.
Dia mengaku hanya menjadi pekerja, yakni editor tabloid, yang digaji dan diperintah oleh Setyardi selaku pemimpin redaksi. Alhasil, diapun menyangkal punya hubungan koordinasi dengan Muchlis dalam penerbitan
Obor Rakyat.
"Kami kenal Muchlis, dalam struktural saya sebagai anak buah di
inilah.com. Di sana, saya redaktur. Tapi tidak ada perintah sama sekali untuk di
Obor Rakyat ini. Yang perintah menulis bukan Muchlis. Kalau yang di
Inilah.com iya," tutur Darmawan.
Setyardi mengaku memerintah Darmawan menulis
Obor Rakyat lantaran isi tulisan itu sejalan dengan keyakinan Darmawan.
Ia mengaku menggaji karyawannya itu dengan cukup."Saya yang membayarnya. Yang jelas lebih besar dari gaji di
Metro TV," selorohnya.
Hinca menambahkan, dalam pemeriksaan kali ini belum ada penetapan tersangka ataupun penetapan pasal dan perundangan apa yang dikenakan pada dua kliennya itu. Ia pun menganggap terlalu prematur klaim Dewan Pers kalau
Obor Rakyat bukanlah produk jurnalistik.
"Penyidik saja masih bingung (soal undang-undangnya), apalagi kami," tutupnya.
Berdasarkan penelusuran tim investigasi
Media Indonesia, Senin (30/6/2014), dana penerbitan dan pendistribusian tabloid
Obor Rakyat yang mendiskreditkan calon presiden Joko Widodo diduga berasal dari kocek pengusaha minyak, Muhammad Riza Chalid. Dan untuk menjalankan dan mengawasi penerbitan
Obor Rakyat, berdasarkan sumber
Media Indonesia, Riza menunjuk jurnalis senior Muchlis Hasyim Jahya (MHJ).
Muchlis disebut sebagai operator dan sudah bertahun-tahun menjalankan bisnis media milik Riza, Inilah Group. Muchlis menjadi CEO Inilah Group yang memiliki unit usaha https://www.inilah.com, https://www.inilahjabar.com dan Inilah Koran.
Tidak hanya membiayai
Obor Rakyat, Riza yang di Singapura dikenal dengan sebutan
Gasoline Godfather juga membiayai tim sukses Hatta Rajasa. Salah satu contoh, Riza menggelontorkan puluhan miliar rupiah untuk membeli Rumah Polonia di Jalan Cipinang Cempedak I nomor 29, Otista, Jakarta Timur.
Rumah tersebut kini menjadi markas tim pemenangan pasangan calon presiden/wakil presiden Prabowo-Hatta. Riza mengakuisisi Rumah Polonia melalui Ketua Majelis Dzikir SBY Nurrussalam Haji Harris Tahir.
Awalnya, Rumah Polonia digunakan sebagai markas tim sukses Hatta Rajasa dan tempat pengajian para santri Majelis Dzikir SBY Nurrussalam.
Di Rumah Polonia itu Hatta ikut berkantor. Selain Hatta, ada ruangan mantan Kepala Staf TNI-AD Jenderal (Purn) George Toisutta serta Ketua Majelis Dzikir SBY Nurrussalam Haji Harris Tahir.
Baik Muchlis Hasyim maupun Hatta Rajasa menyatakan bantahan terhadap temuan tim Investigasi Media Indonesia itu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(HNR)