medcom.id, Jakarta: Polisi akan meminta Kementerian Komunikasi dan Informatika menutup akses informasi pembuatan bom. Situs di internet dianggap menjadi alat pelaku teror mempelajari membuat bom.
"Kami akan koordinasi dengan Kominfo agar regulasinya ditegakkan, tidak semua informasi, khususnya tentang bom, bisa diakses," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Mohammad Iqbal di Mapolda, Jakarta, Jumat (30/10/2015).
Peledakan bom di Mall Alam Sutera, kata Iqbal, dilakukan pelaku yang ahli dalam bidang teknologi informatika. Pelaku juga belajar secara otodidak merakit bom untuk melakukan pemerasan.
"Karena pintar, basicnya IT, dia kerja otodidak, pelaku belajar dan mencoba dari internet," jelas Iqbal.
Mantan Kapolres Jakarta Utara ini berjanji akan memperketat penjualan bahan kimia yang apabila diracik bisa berbentuk sebuah alat peledak. "Indikasi terhadap teror, kita akan perketat," ucap Iqbal.
Tersangka pengeboman Mall Alam Sutera, Leopard Wisnu Kumala, mengakui tindakannya didasari motif ekonomi. Leopard mengincar 100 bitcoin (uang elektronik) setara Rp300 juta dari Mall Alam Sutera.
"Tapi cuma dikasih 0,25 bitcoin seharga Rp700 ribu, kemudian saya cairin," kata Leopard kepada Metro TV, Kamis (29/10/2015).
Kesal permintaannya tak dikabulkan, Leopard nekat mengebom Mall Alam Sutera. Tak tanggung-tanggung, Leopard tiga kali mencoba meledakkan bom di lokasi yang sama.
"Karena kebelit uang buat bayar utang dengan bank lalu saya belajar dari YouTube uji coba (membuat bom)," terang laki-laki 29 tahun ini.
Bom berdaya ledak tinggi (high explosive) meledak di lantai LG Mall Alam Sutera, Kota Tangerang, sekitar pukul 12.05 WIB, Rabu 28 Oktober. Ledakan tersebut melukai Fian, seorang karyawan mal.
Leopard masuk katagori alone wolf, yaitu orang-orang yang melakukan ancaman terorisme dengan motif pribadi, bukan karena ideologi terorisme. Leopard dijerat Undang-undang Terorisme dengan ancaman maksimal hukuman mati.
medcom.id, Jakarta: Polisi akan meminta Kementerian Komunikasi dan Informatika menutup akses informasi pembuatan bom. Situs di internet dianggap menjadi alat pelaku teror mempelajari membuat bom.
"Kami akan koordinasi dengan Kominfo agar regulasinya ditegakkan, tidak semua informasi, khususnya tentang bom, bisa diakses," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Mohammad Iqbal di Mapolda, Jakarta, Jumat (30/10/2015).
Peledakan bom di Mall Alam Sutera, kata Iqbal, dilakukan pelaku yang ahli dalam bidang teknologi informatika. Pelaku juga belajar secara otodidak merakit bom untuk melakukan pemerasan.
"Karena pintar, basicnya IT, dia kerja otodidak, pelaku belajar dan mencoba dari internet," jelas Iqbal.
Mantan Kapolres Jakarta Utara ini berjanji akan memperketat penjualan bahan kimia yang apabila diracik bisa berbentuk sebuah alat peledak. "Indikasi terhadap teror, kita akan perketat," ucap Iqbal.
Tersangka pengeboman Mall Alam Sutera, Leopard Wisnu Kumala, mengakui tindakannya didasari motif ekonomi. Leopard mengincar 100 bitcoin (uang elektronik) setara Rp300 juta dari Mall Alam Sutera.
"Tapi cuma dikasih 0,25 bitcoin seharga Rp700 ribu, kemudian saya cairin," kata Leopard kepada Metro TV, Kamis (29/10/2015).
Kesal permintaannya tak dikabulkan, Leopard nekat mengebom Mall Alam Sutera. Tak tanggung-tanggung, Leopard tiga kali mencoba meledakkan bom di lokasi yang sama.
"Karena kebelit uang buat bayar utang dengan bank lalu saya belajar dari YouTube uji coba (membuat bom)," terang laki-laki 29 tahun ini.
Bom berdaya ledak tinggi (
high explosive) meledak di lantai LG Mall Alam Sutera, Kota Tangerang, sekitar pukul 12.05 WIB, Rabu 28 Oktober. Ledakan tersebut melukai Fian, seorang karyawan mal.
Leopard masuk katagori
alone wolf, yaitu orang-orang yang melakukan ancaman terorisme dengan motif pribadi, bukan karena ideologi terorisme. Leopard dijerat Undang-undang Terorisme dengan ancaman maksimal hukuman mati.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(YDH)