Kombes Krishna Murti. Foto: Antara/Widodo S Jusuf
Kombes Krishna Murti. Foto: Antara/Widodo S Jusuf

Apa Kabar Kasus Pembunuhan Akseyna?

Arga sumantri • 04 April 2016 17:18
medcom.id, Jakarta: Kasus kematian mahasiswa Universitas Indonesia, Akseyna Ahad Dori, masih jadi misteri. Polisi belum merilis temuan terbaru kasus tersebut.
 
Padahal, mahasiswa jurusan Biologi itu meninggal dibunuh satu tahun lalu. Belum ada seorang pun yang ditetapkan sebagai tersangka. Namun, polisi memastikan penyelidikan kasus itu masih tetap jalan.
 
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Krishna Murti menampik 'melupakan' kasus Akseyna. Penyidik, kata dia, masih terus berusaha keras mengungkap kasus yang terjadi Maret 2015 lalu itu.

"Proses tetap berjalan. Sampai tadi malam, saya masih komunikasikan itu. Artinya kami bekerja bukan dibiarkan. Saya tidak bisa menyampaikan apa yang dikerjakan," ungkap Krishna di Mapolda Metro Jaya, Senin (4/4/2016).
 
Meski menutup rapat perkembangan penyelidikan, Krishna memberi sinyal penyidik sudah mengantongi nama yang berpotensi jadi tersangka.
 
Tapi, diakui Krishna, jajarannya belum punya indikasi kuat untuk menjerat pelaku. Hal itulah yang membikin penyidik menutup rapat penyelidikan kasus mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Jurusan Biologi, UI. 
 
"Kasus Akseyna ini, pelaku mengikuti perkembangan. Anda bertanya, saya menjawab, dia membaca. Jadi kalau saya kasih tahu sedang apa, dia tahu, pelaku ini mengikuti," ujar Krishna.
 
Akseyna Ahad Dori ditemukan tewas mengambang di danau Kenanga UI Kamis 26 Maret 2015. Saat ditemukan, Akseyna tengah menggendong tas berisi sejumlah batu bata.
 
Senin 30 Maret 2015, identitas Akseyna makin terang. Pasangan suami istri asal Yogyakarta mendatangi Mapolresta Depok dan Rumah Sakit Polri Kramat Jati. Keduanya yakin benar mahasiswa yang tewas di danau itu adalah anak mereka, yang hilang kabar berhari-hari. Belakangan diketahui Akseyna merupakan anak Perwira Menengah TNI Angkatan Udara (AU) Kolonel (Sus) Mardoto.
 
Mulanya, polisi menyatakan meninggalnya mahasiswa yang lebih dikenal dengan Ace itu sebagai kasus bunuh diri. Salah satu indikasi Ace tewas bunuh diri diperkuat dari tulisan tangan dalam sepucuk kertas di indekos Ace yang isinya: 'Will not return for, please don't search for existence. My apologize for everything eternally.'
 
Tapi, pernyataan itu dikoreksi. Penghujung Mei 2015, Krishna mengatakan punya temuan baru dari hasil gelar perkara ulang meninggalnya Ace. Krishna menyimpulkan Ace tewas karena dibunuh, bukan bunuh diri.
 
"Ada luka fisik di wajah yang bersangkutan (Akseyna). Kalau dia bunuh diri, harusnya (wajahnya) mulus, tidak ada luka fisik," kata Krisna pada waktu itu.
 
Dugaan Krishna semakin kuat jika Ace tewas dibunuh. Pasalnya, Grafolog Deborah Dewi menyatakan tulisan tangan dalam surat di indekos Ace itu tidak 100 persen otentik tulisan tangan Ace.
 
Setahun lewat sudah kasus itu bergulir, tapi masih jadi tanda tanya. Krishna pernah menyatakan, kasus Akseyna ini jadi yang terumit.
 
"Saya akui pembunuhan Akseyna sebagai yang paling sulit untuk diungkap. TKP sudah rusak karena dikerumuni warga. Karena, awalnya disimpulkan bunuh diri, maka TKP tidak diperlakukan dengan baik. Ini jelas menyusahkan untuk penyelidikan lebih lanjut," ujar Krishna, Rabu 30 Desember 2015. 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(KRI)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>