Direktur Jenderal PHI  dan Jamsos Kemenaker Haiyani Rumondang. (Foto: Dok. Kemenaker)
Direktur Jenderal PHI dan Jamsos Kemenaker Haiyani Rumondang. (Foto: Dok. Kemenaker)

Serikat Buruh Diharapkan Tingkatkan Soliditas Kaum Pekerja

Nasional berita kemenaker
Gervin Nathaniel Purba • 28 Juni 2019 11:14
Jakarta: Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mengajak pengurus dan segenap anggota serikat pekerja/serikat buruh untuk bersatu meningkatkan soliditas kaum pekerja. Soliditas kaum pekerja adalah modal utama untuk mendorong perubahan di negeri ini.
 
Tugas utama pengurus serikat pekerja adalah mengorganisir isu dan tujuan yang akan dicapai. Namun, tugas terpenting adalah mengorganisir kesadaran individu pengurus serikat pekerja itu sendiri, sebagai modal untuk membangun kesadaran anggota pekerjanya yang lebih maju dan sejahtera.
 
"Jauhkan kepentingan-kepentingan pribadi dan kelompok. Mari semua membangun kesadaran. Bersatu dalam nasionalisme pekerja yang muaranya adalah bagi kesejahteraan pekerja Indonesia," kata Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (PHI dan Jamsos) Kemenaker Haiyani Rumondang pada Kongres VIII Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI), sebagaimana dikutip keterangan tertulis, Jumat, 28 Juni 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Saat ini, eksistensi serikat pekerja/serikat buruh dalam upaya membangun bangsa demi mensejahterakan anggota dan keluarganya menghadapi tantangan, baik internal maupun eksternal. Tantangan internal tercermin dalam pertumbuhan serikat pekerja/serikat buruh, federasi, dan konfederasi.
 
Dari sekitar sembilan juta pekerja/buruh yang menjadi anggota serikat pekerja/serikat buruh pada awal reformasi 1998, kini hanya tersisa 2.717.961 pekerja/buruh. Dari 192.238 perusahaan, serikat pekerja/serikat buruh hanya eksis di 7.294 perusahaan.
 
“Jumlah tersebut mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya yang eksis di sekitar 11.852 perusahaan," kata Haiyani.
 
Sementara, struktur atas gerakan buruh (Federasi dan Konfederasi) naik drastis. Federasi serikat pekerja/serikat buruh naik menjadi 137, dan Konfederasi menjadi 15. "Politisasi dan polarisasi membuat struktur gerakan buruh keropos di bawah," katanya.
 
Secara eksternal, gerakan buruh dihadapkan pada perubahan industri yang cepat dan masif. Revolusi industrial 4.0, memaksa di semua sektor yaitu ekonomi, bisnis, keuangan, dan lainnya melakukan adaptasi dengan metode baru yang berbasis digital. Di satu sisi, revolusi tersebut menjanjikan efisiensi dan produktivitas.
 
Namun di sisi lain, revolusi itu juga mengancam keberadaan pekerja yang berpendidikan rendah maupun pekerja yang memiliki skill rendah.
 
"Kondisi tersebut tidak dapat dihindari oleh semua pihak, dan dampak langsung yang dirasakan ialah berupa pengurangan tenaga kerja. Namhn hal ini bisa diatasi dengan penyesuaian skill SDM yang ada dengan melakukan pelatihan,” ujar Haiyani.
 
Terkait Kongres, pemerintah berharap pemimpin masa depan KSBSI idealnya bisa memotivasi anggotanya untuk mencapai tingkat tertinggi dalam kerja dan karya, sekaligus membangun prestasi.
 
"Sebab pemimpin masa depan selalu mengungkap intuisi, ide, dan logikanya, sambil mendiskusikannya dengan orang lain serta mencari solusi yang visioner," ujarnya.
 
Presiden KSBSI Mudhofir mengatakan selain melakukan perubahan dan mengedepankan dialog sosial, KSBSI juga harus menjadi motor sebagai organisasi buruh yang cerdas, memberikan ide/gagasan, bahkan solusi terhadap permasalahan pemerintahan.
 
"Dalam negara demokrasi tidak mungkin hanya memperjuangkan secara sendiri, sektoral kepentingan buruh sendiri. Kita harus bisa berjuang dan bekerja sama dengan asosiasi pengusaha dan pemerintah," katanya.
 

(ROS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif