medcom.id, Jakarta: Swedia dikenal sebagai pemimpin global dalam bidang inovasi. Hal tersebut terlihat dari peringkat kedua yang diberikan INSEAD untuk Global Innovation Index (Indeks Inovasi Global) Swedia.
Swedia juga mengalokasikan 3,6 persen dari gross domestic product (GDP) untuk kegiatan pengembangan dan riset (R&D). Hal ini membuat Swedia menjadi mitra yang tepat untuk membantu Indonesia dalam meningkatkan global value chain dan menjadi negara dengan pendapatan yang lebih tinggi dan kapasitas inovasi yang lebih baik.
Mengakui bahwa pertumbuhan dan perkembangan Indonesia telah melaju dengan cepat, negara yang memiliki semangat inovasi dan entrepreneurship ini ingin lebih mempererat hubungannya dengan Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan meresmikan kampus Indonesia International Institute for Life Science (I3L), di bilangan Pulomas, Jakarta Timur, pada Selasa (6/5/2014).
I3L adalah pelopor dalam inovasi dan riset life science di Indonesia, khususnya di bidang kedokteran, bioteknologi dan ilmu pangan yang berkolaborasi dengan Karolinska Institute dan Swedish University of Agriculture Sciences (SLU). Berbagai program unggulan ditawarkan di strata 1, yaitu ilmu pangan, teknologi pangan, pengobatan hayati (biomedicine), bioteknologi, bioinformatics, dan bioenterpreneurship.
Kampus I3L berdiri pada satu kompleks bangunan delapan lantai, yang dipimpin oleh Niclas Adler. Sebagai badan di luar Kedutaan Besar Swedia di Jakarta, I3L diharapkan mampu menunjang penguatan hubungan Swedia-Indonesia.
Di lantai-lantai kampus dengan nuansa Nordik yang dominan kayu dalam garis rancang sangat sederhana namun fungsional itu, pengunjung dapat mengetahui secara lebih dekat keunggulan-keunggulan ilmu pengetahuan dan sains Swedia. Di antaranya teknologi simulator yang berbasis virtual.
"Indonesia memiliki keragaman hayati sangat dahsyat dan Swedia juga memiliki keragaman hayati dasar laut terbanyak di Bumi. Peresmian Kampus i3L menandakan negara ini akan memiliki institusi riset besar di dunia dan kami sangat mendukung hal itu," kata Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Ewa Polano, seperti dikutip dari Antara.
Dia mencontohkan, institusi penelitian medik Swedia tengah bekerja sama dengan RS Pusat Kanker Dharmais dalam hal riset pengobatan kanker berbasis teknologi T-cell. "Teknologi ini memungkinkan sel memperbaiki diri sendiri dan kami mengembangkan teknologi medis ini bersama Indonesia," katanya. (ANT)
medcom.id, Jakarta: Swedia dikenal sebagai pemimpin global dalam bidang inovasi. Hal tersebut terlihat dari peringkat kedua yang diberikan INSEAD untuk
Global Innovation Index (Indeks Inovasi Global) Swedia.
Swedia juga mengalokasikan 3,6 persen dari
gross domestic product (GDP) untuk kegiatan pengembangan dan riset (R&D). Hal ini membuat Swedia menjadi mitra yang tepat untuk membantu Indonesia dalam meningkatkan
global value chain dan menjadi negara dengan pendapatan yang lebih tinggi dan kapasitas inovasi yang lebih baik.
Mengakui bahwa pertumbuhan dan perkembangan Indonesia telah melaju dengan cepat, negara yang memiliki semangat inovasi dan
entrepreneurship ini ingin lebih mempererat hubungannya dengan Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan meresmikan kampus Indonesia International Institute for Life Science (I3L), di bilangan Pulomas, Jakarta Timur, pada Selasa (6/5/2014).
I3L adalah pelopor dalam inovasi dan riset
life science di Indonesia, khususnya di bidang kedokteran, bioteknologi dan ilmu pangan yang berkolaborasi dengan Karolinska Institute dan Swedish University of Agriculture Sciences (SLU). Berbagai program unggulan ditawarkan di strata 1, yaitu ilmu pangan, teknologi pangan, pengobatan hayati (
biomedicine), bioteknologi,
bioinformatics, dan
bioenterpreneurship.
Kampus I3L berdiri pada satu kompleks bangunan delapan lantai, yang dipimpin oleh Niclas Adler. Sebagai badan di luar Kedutaan Besar Swedia di Jakarta, I3L diharapkan mampu menunjang penguatan hubungan Swedia-Indonesia.
Di lantai-lantai kampus dengan nuansa
Nordik yang dominan kayu dalam garis rancang sangat sederhana namun fungsional itu, pengunjung dapat mengetahui secara lebih dekat keunggulan-keunggulan ilmu pengetahuan dan sains Swedia. Di antaranya teknologi simulator yang berbasis virtual.
"Indonesia memiliki keragaman hayati sangat dahsyat dan Swedia juga memiliki keragaman hayati dasar laut terbanyak di Bumi. Peresmian Kampus i3L menandakan negara ini akan memiliki institusi riset besar di dunia dan kami sangat mendukung hal itu," kata Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Ewa Polano, seperti dikutip dari
Antara.
Dia mencontohkan, institusi penelitian medik Swedia tengah bekerja sama dengan RS Pusat Kanker Dharmais dalam hal riset pengobatan kanker berbasis teknologi T-cell. "Teknologi ini memungkinkan sel memperbaiki diri sendiri dan kami mengembangkan teknologi medis ini bersama Indonesia," katanya. (ANT)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(NIN)