Musibah Lion Air Bukan karena Padatnya Jadwal Penerbangan

Damar Iradat 07 November 2018 12:31 WIB
Lion Air Jatuh
Musibah Lion Air Bukan karena Padatnya Jadwal Penerbangan
Ilustrasi--MI/Sumaryanto
Jakarta: Kementerian Perhubungan mengklaim padatnya jadwal penerbangan bukan menjadi salah satu dugaan penyebab jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP. Menurut dia, jadwal penerbangan maskapai sejauh ini masih dalam regulasi yang diatur pemerintah.

Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub, Capt. Avirianto mengatakan, airworthiness directives (perintah kelaikan udara) seluruh maskapai di Indonesia sudah sesuai prosedur. Setiap pesawat yang baru mendarat atau akan terbang pasti diperiksa teknisi.

"Ada tulisan komplain enggak, ada kerusakan enggak, kalau enggak ada, dan sesuai prosedurnya, dia (bisa) terbang lagi," jelas Avirianto saat dihubungi Medcom.id, Rabu, 7 November 2018.  


Ia menjelaskan, jika terjadi permasalahan dalam pesawat sebelum atau sesudah terbang, teknisi seharusnya bisa mengambil keputusan agar pesawat tidak diterbangkan. Menurut Avirianto, pesawat yang sudah diperiksa dan sudah diperbaiki, serta dinyatakan lolos kualifikasi untuk terbang, bisa saja kembali mengalami kendala dalam perjalanan.

Avirianto menganologikan kondisi pesawat dengan mobil. Menurutnya, sebuah mobil bisa saja mendapatkan peringatan soal kondisi mesin yang harus diperbaiki. Namun, usai diperbaiki dan mobil kembali berjalan, bisa saja peringatan soal kerusakan itu kembali muncul.

Baca: Kemenhub Tak Ingin Buru-buru Jewer Lion Air

Dia juga mengklaim, turnaround time tidak terlalu berpengaruh dalam kerusakan mesin. Menurutnya, rata-rata pesawat di Indonesia menggunakan waktu itu mencapai 25 menit untuk cooling down. Termasuk untuk naik turun penumpang, serta inspeksi dan perbaikan mesin.

"Kan mereka biasanya 25 menit transit, cooling down, itu sudah sesuai. Buru-buru begitu juga kan enggak bisa. Dia harus cek fisiknya, oli, fuel, refueling, cockpit dilihat, ada masalah apa enggak," tuturnya.

Ia mengklaim, sejauh ini dari pengawasan Kemenhub, maskapai di Indonesia, termasuk Lion Air sudah melakukannya sesuai standar internasional. Kendati soal musibah kecelakaan Lion Air PK-LQP, pihaknya belum bisa bicara banyak, lantaran masih menanti hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Sehingga, jika nanti ditemukan penyebabnya, Kemenhub dapat mengevaluasi sistem pengawasannya. "Regulasi kita sudah diakui oleh sekian negara. Jadi, menurut saya regulasi kita sudah sesuai, tapi bagaimana mencari hal yang baru, kan kita berlomba-lomba untuk updating," tuturnya.

Dihubungi secara terpisah, pengamat penerbangan Alvin Lie mengatakan hal serupa. Menurut Alvin, padatnya jadwal penerbangan maskapai tidak bisa menjadi satu-satunya penyebab kerusakan mesin.

Soal jadwal penerbangan, setiap maskapai mengajukan izin rute, dan setiap rute mau diterbangi berapa kali sehari jadwalnya tergantung ketersediaan slot atau waktu yang disediakan. Jika masih ada ruang untuk pesawat di bandara asal-tujuan di jam-jam tersebut, tentu slot masih tersedia dan bisa diberikan.

"Pemberian izin slot dan rute itu juga mempertibangkan berapa pesawat yang mereka punya, pilot yang mereka punya," terangnya.

Kemudian, lanjutnya, juga memperhitungkan setiap jeda penerbangan itu ada berapa lama untuk turnaround. "Menurunkan penumpang, bagasi, membersihkan pesawat, sampai penumpang masuk lagi, bagasi masuk lagi dan siap untuk berangkat," tegasnya.

Dia mengatakan, turnaround time bervariasi, masing-masing maskapai memiliki standar tersendiri. Untuk maskapai low cost carrier (LCC), turnaround time dipadatkan. Bahkan sampai 30-35 menit. Sementara untuk maskapai yang full service bisa memakan 45 menit hingga satu jam.

Kendati begitu, menurut Alvin, pemeriksaan oleh teknisi pada turnaround time juga wajib dilakukan. Apalagi, jika teknisi mendapat catatan dari pilot penerbangan sebelumnya.

"Itu wajib diperiksa dan diperbaiki. Kalau itu belum diperbaiki seperti LQP itu, itu kan termasuk no-go items, karena instrumen vital penerbangan, itu wajib diperbaiki dulu," jelasnya.

Menurut Alvin, setiap maskapai pasti memiliki pesawat cadangan. Karena, menurutnya, minimal setiap maskapai memiliki 15 persen yang tidak dapat dioperasikan, baik karena pesawat sedang dalam pemeliharaan atau karena pesawat tak laik terbang.

"Sebetulnya enggak ada kaitannya dengan itu (padatnya jadwal penerbangan). Kalau dinilai pesawat itu enggak siap untuk diterbangkan, Lion bisa menggunakan pesawat cadangan," tuturnya.

Dari data Flightradar24, situs penyedia pemantau penerbangan, Lion Air PK-LQP sebelum jatuh sempat melayani sejumlah penerbangan yang cukup padat. Antara lain; Tianjin-Manado, Manado-Denpasar, Denpasar-Manado, Denpasar-Lombok, Lombok-Denpasar, Manado-Denpasar, dan Denpasar-Jakarta.



(YDH)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id