Petugas memeriksa area yang ambles di Jalan Raya Gubeng Surabaya, Rabu, 19 Desember 2018, Antara - Suhartono
Petugas memeriksa area yang ambles di Jalan Raya Gubeng Surabaya, Rabu, 19 Desember 2018, Antara - Suhartono

PII-KNKK Selidiki Penyebab Longsor Jalan Gubeng

Nasional Jalan Gubeng Ambles
Husen Miftahudin • 23 Desember 2018 00:03
Jakarta: Persatuan Insinyur Indonesia (PII) bersama Komite Nasional Keselamatan Konstruksi (KNKK) melakukan penyelidikan terhadap penyebab terjadinya longsor di Jalan Raya Gubeng, Surabaya. Berbagai data, foto, dan keterangan di lokasi kejadian dikumpulkan sebagai analisis awal.

"Masukan-masukan dari PII diharapkan dapat digunakan KNKK dan pemerintah kota untuk memberikan peringatan dan meningkatkan kewaspadaan atas bangunan dan fasilitas publik di sekitar lokasi kejadian," kata Ketua Umum PII Heru Dewanto dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Sabtu, 22 Desember 2018.

Analisis dan mitigasi dampak dilakukan agar kejadian longsor serupa tak kembali terulang. Menurut Heru, setiap individu pelaku konstruksi harus punya kompetensi yang teruji, memiliki pemahaman yang baik dalam menganalisis risiko, disiplin dalam menerapkan ilmu keteknikan, serta aspek-aspek lain dari seorang insinyur profesional sebagaimana disyaratkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



"Penanggung jawab dalam merancang, mengatur tata laksana, ataupun melaksanakan proyek-proyek kritikal (berisiko tinggi) semacam pekerjaan galian dalam seperti ini seyogianya minimal menyandang kualifikasi IPM (Insinyur Profesional Madya)," tegas Heru. (Baca: Pengurukan Jalan Gubeng Selesai Dalam Sepekan)

Lewat analisis ini, PII juga ingin mengetahui apakah kewajiban semua pihak yang terlibat dalam suatu proyek dipenuhi secara proporsional dan professional, baik penyelenggara proyek, konsultan, maupun pihak kontraktor. Jika diminta, PII juga akan memberikan advokasi bagi insinyur yang menghadapi suatu masalah terkait dengan praktik keinsinyurannya, termasuk kegagalan atau kecelakaan konstruksi dalam suatu proyek.

"Jadi, ada kepentingan publik yang harus kami jaga, namun pada saat yang sama, ada kepentingan insinyur yang harus kami bela. Tentu harus proporsional dan professional, untuk itu kami PII ikut terjun membantu pemerintah," ungkap Heru.

Ketua Badan Kejuruan Sipil PII Bambang Goeritno memaparkan hasil analisis teknis awal berdasarkan temuan-temuan di lapangan. Dia bilang, kejadian longsor kemungkinan disebabkan oleh gagalnya struktur dinding penahan tanah galian basement ketika menahan beban. Kondisi tersebut membuat tanah di belakangnya runtuh secara progresif. 

Namun, akunya, masih ada beberapa hal yang harus dianalisa lebih detail terkait perencanaan dan pelaksanaan seperti detailing konstruksi bore pile dinding penahan tanah hingga ground anchor. Demikian pula diperlukan pendalaman terhadap sifat-sifat tanah setempat yang dikaitkan dengan kemampuan struktur tanah, kondisi air tanah di lokasi untuk menghasilkan kesimpulan yang solid.  

"Yang perlu diwaspadai saat ini adalah jangan sampai kelongsoran pada satu sisi galian basement ini menular ke ketiga sisi lainnya, mengingat dampaknya akan lebih serius. Demikian pula kewaspadaan dan langkah perkuatan harus diberikan terhadap sejumlah bangunan di sekitar lokasi yang saat ini dalam situasid rentan," pungkas dia.


(JMS)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi