Seorang anggota Basarnas Pontianak menunjukkan lokasi pencarian Pesawat Air Asia QZ8501 oleh Basarnas Pontianak dan TNI AU, di Lanud Supadio, Kabupaten Kubu Raya--Antara/JESSICA HELENA WUYSANG
Seorang anggota Basarnas Pontianak menunjukkan lokasi pencarian Pesawat Air Asia QZ8501 oleh Basarnas Pontianak dan TNI AU, di Lanud Supadio, Kabupaten Kubu Raya--Antara/JESSICA HELENA WUYSANG

BPPT: Siapkan Kapal yang Memiliki Peralatan Multi Eco Sounder

Husen Miftahudin • 29 Desember 2014 12:35
medcom.id, Jakarta: Badan pencarian dan Penyelamatan Nasional (Basarnas) Bangka Belitung telah melansir pesawat AirAsia yang hilang kontak saat berada di perairan laut Pulau Belitung. Menurut Deputi Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Ridwan Djamaluddin, lokasi tersebut memiliki kedalaman laut yang lebih dangkal, dan topografi lebih sederhana, dibandingkan dari laut Makassar yang menjadi bencana pesawat Adam Air pada 2007 silam.
 
"Namun pencarian lokasi hilangnya pesawat itu tak mudah. Kita masih sulit untuk mencari tempat jatuhnya di mana. Secara perbandingan, tingkat kesulitan (pencarian AirAsia QZ8501) hampir sama dengan hilangnya pesawat Adam Air," ucap Ridwan saat ditemui di Gedung BPPT, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (29/12/2014).
 
Terkait kapal pencarian, BPPT bersama dengan Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman telah menyiapkan kapal Baruna Jaya IV, yang memiliki peralatan dan teknologi yang canggih. "Kami telah menyiapkan kapal yang memiliki peralatan multi eco sounder, untuk melakukan operasi visual. Ini belum ada kapal yang membawa peralatan ini di sana," papar dia.

Pencarian pesawat, jelas dia, lebih efisien karena pencarian ini dilakukan lebih terkoordinasi. Ia menyebut, pembagian peran dapat meningkatkan efisiensi pencarian pesawat AirAsia. "Sekarang ada tujuh kapal yang membantu mencari hilangnya pesawat AirAsia. Ini lebih efisien karena mencari pesawatnya lebih terkoordinasi," pungkas Ridwan.
 
Sebelumnya, pesawat AirAsia berangkat dari Bandara Internasional Juanda, Surabaya menuju Bandara Internasional Changi, Singapura pada pukul 05.35 WIB, dengan membawa 155 penumpang. Namun saat perjalanan ke Bandara Internasional Changi, Singapura, pesawat tersebut hilang kontak. Diduga pesawat tersebut hilang di perairan Pulau Belitung.
 
Seperti yang diketahui, Adam Air Penerbangan 574, sebuah penerbangan domestik jurusan Jakarta-Surabaya-Manado, hilang dalam penerbangan setelah transit di Surabaya 1 Januari 2007. Kotak hitam ditemukan di kedalaman 2.000 meter pada 28 Agustus 2007.
 
102 orang di pesawat itu tewas. Pada 25 Maret 2008, KNKT menyebutkan penyebab kecelakaan Adam Air adalah cuaca buruk, kerusakan pada alat bantu navigasi inertial reference system (IRS) dan kegagalan kinerja pilot dalam menghadapi situasi darurat.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(YDH)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan