Jakarta: Dua warga Depok, Jawa Barat (Jabar), yang dipastikan positif terinfeksi virus korona (COVID-19) sempat berobat ke Rumah Sakit (RS) Mitra Keluarga. Salah satu pasien didiagnosis menderita radang cabang tenggorok.
Wali Kota Depok Idris Abdul Somad mengatakan pasien pertama kali mendatangi RS Mitra Keluarga, Jalan Margonda Raya, Pancoran Mas, Depok, Kamis, 27 Februari 2020. Pasien itu mengeluhkan flu.
"Kata dokternya, kata susternya, hanya sekadar bronkitis waktu itu," kata Idris di Balai Kota Depok, Jalan Margonda Raya, Pancoran Mas, Senin, 2 Maret 2020.
Menurut dia, pasien kala itu belum menjelaskan kalau pernah berkontak langsung dengan warga Jepang yang belakangan terinfeksi virus korona. Dia kemudian berobat kembali ke RS Mitra Keluarga, Sabtu, 29 Februari 2020, lantaran khawatir tertular virus.
"Dia menceritakan kasusnya ini bahwa pada tanggal Sabtu, 14 Februari 2020, dia menerima tamu orang Jepang dari Malaysia dia pekerjaannya pendamping dansa di entertainment gitulah," kata Idris.
RS Mitra keluarga Depok sudah merumahkan 70 petugas medis untuk mencegah penularan virus korona. Mereka diharap menghindari kontak dengan orang lain.
Sementara itu, pasien yang berstatus ibu dan anak itu kini diisolasi di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta Utara. Keduanya dipastikan sudah membaik.
Wali Kota Depok, Jabar, Idris Abdul Somad (tengah), dalam konferensi pers terkait virus korona di Balai Kota Depok, Senin, 2 Maret 2020. Foto: Medcom.id/Jufriansyah
Baca: Pemerintah Belum Berencana Mengisolasi Depok
"Enggak ada demam, enggak ada sesak, enggak ada apa-apa. Makan dan komunikasi juga baik. Menurut saya kondisinya sehat," kata Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto di RSPI Sulianti Saroso.
Terawan menjelaskan kedua pasien ditempatkan di ruangan terpisah. Peralatan di RSPI Sulianti Saroso dipastikan memenuhi standar sebagai rumah sakit rujukan nasional untuk penyakit infeksi.
"Penanganannya sesuai dengan simulasi, meskipun yang disimulasikan itu lebih gawat. Korona ini tidak seganas seperti H5N1, flu burung, dan sebagainya. Ini kan dengan mortality yang lebih rendah 2 persen atau kurang, tergantung daerah dan negaranya," ujar dia.
Jakarta: Dua warga Depok, Jawa Barat (Jabar), yang dipastikan positif terinfeksi virus korona (COVID-19) sempat berobat ke Rumah Sakit (RS) Mitra Keluarga. Salah satu pasien didiagnosis menderita radang cabang tenggorok.
Wali Kota Depok Idris Abdul Somad mengatakan pasien pertama kali mendatangi RS Mitra Keluarga, Jalan Margonda Raya, Pancoran Mas, Depok, Kamis, 27 Februari 2020. Pasien itu mengeluhkan flu.
"Kata dokternya, kata susternya, hanya sekadar bronkitis waktu itu," kata Idris di Balai Kota Depok, Jalan Margonda Raya, Pancoran Mas, Senin, 2 Maret 2020.
Menurut dia, pasien kala itu belum menjelaskan kalau pernah berkontak langsung dengan warga Jepang yang belakangan terinfeksi virus korona. Dia kemudian berobat kembali ke RS Mitra Keluarga, Sabtu, 29 Februari 2020, lantaran khawatir tertular virus.
"Dia menceritakan kasusnya ini bahwa pada tanggal Sabtu, 14 Februari 2020, dia menerima tamu orang Jepang dari Malaysia dia pekerjaannya pendamping dansa di
entertainment gitulah," kata Idris.
RS Mitra keluarga Depok sudah merumahkan 70 petugas medis untuk mencegah penularan virus korona. Mereka diharap menghindari kontak dengan orang lain.
Sementara itu, pasien yang berstatus ibu dan anak itu kini diisolasi di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta Utara. Keduanya dipastikan sudah membaik.
Wali Kota Depok, Jabar, Idris Abdul Somad (tengah), dalam konferensi pers terkait virus korona di Balai Kota Depok, Senin, 2 Maret 2020. Foto: Medcom.id/Jufriansyah
Baca:
Pemerintah Belum Berencana Mengisolasi Depok
"Enggak ada demam, enggak ada sesak, enggak ada apa-apa. Makan dan komunikasi juga baik. Menurut saya kondisinya sehat," kata Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto di RSPI Sulianti Saroso.
Terawan menjelaskan kedua pasien ditempatkan di ruangan terpisah. Peralatan di RSPI Sulianti Saroso dipastikan memenuhi standar sebagai rumah sakit rujukan nasional untuk penyakit infeksi.
"Penanganannya sesuai dengan simulasi, meskipun yang disimulasikan itu lebih gawat. Korona ini tidak seganas seperti H5N1, flu burung, dan sebagainya. Ini kan dengan
mortality yang lebih rendah 2 persen atau kurang, tergantung daerah dan negaranya," ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(OGI)