Jakarta: Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM) menonaktifkan seorang guru di jenjang Sekolah Dasar (SD) sejak 25 Agustus 2026 setelah menerima laporan mengenai dugaan tindakan yang berkaitan dengan perlindungan anak.
Dalam surat pernyataan sikap dari sekolah ICM yang dikutip pada Kamis, 24 September 2026, ICM menyebut langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian sekaligus memberikan ruang bagi proses penanganan dan pemeriksaan sesuai ketentuan hukum.
Pihak manajemen ICM menjelaskan laporan mengenai dugaan tindakan yang berkaitan dengan perlindungan anak diterima pada 24 Agustus 2026. Sehari setelahnya, ICM mengambil langkah administratif dengan menonaktifkan seorang guru di jenjang SD.
Menurut ICM, penonaktifan dilakukan untuk menjaga keamanan, kenyamanan, serta lingkungan pendidikan yang kondusif. Langkah tersebut juga dimaksudkan untuk memberikan ruang bagi proses penanganan dan pemeriksaan.
ICM menegaskan, penonaktifan tersebut merupakan langkah administratif dan bukan kesimpulan mengenai kesalahan ataupun pertanggungjawaban hukum pihak yang bersangkutan.
Baca Juga :
Penyebab Kasus Dugaan Pelecehan Betrand Peto Sulit Berakhir Damai
"ICM kooperatif dan menghormati proses pemeriksaan, hak setiap pihak, serta kewenangan instansi yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan," tulis pihak sekolah ICM.
Dugaan Kasus Ramai Dibahas di Threads
Di sisi lain, pembahasan mengenai kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh guru kepada muridnya tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial Threads. Salah satu utas dari akun euniii**** mengunggah soal kasus pelecehan seksual yang terjadi di sekolah internasional di BSD. Dugaan kejadian berlangsung sejak korban duduk di kelas 4 SD hingga kelas 1 SMP.
Masih dalam utas yang sama, dikatakan korban disebut mengalami manipulasi oleh mantan guru wali kelas. Setelah jam sekolah, korban disebut diajak mengikuti kelas mengaji secara privat. Lalu diajak menonton film dewasa dan dilecehkan secara fisik.
Pengguna Threads tersebut menyebut kasus baru terungkap setelah korban menceritakan pengalamannya kepada guru taekwondo.
Jakarta: Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM) menonaktifkan seorang guru di jenjang Sekolah Dasar (SD) sejak 25 Agustus 2026 setelah menerima laporan mengenai
dugaan tindakan yang berkaitan dengan perlindungan anak.
Dalam surat pernyataan sikap dari sekolah ICM yang dikutip pada Kamis, 24 September 2026, ICM menyebut langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian sekaligus memberikan ruang bagi proses penanganan dan pemeriksaan sesuai ketentuan hukum.
Pihak manajemen ICM menjelaskan laporan mengenai dugaan tindakan yang berkaitan dengan perlindungan anak diterima pada 24 Agustus 2026. Sehari setelahnya, ICM mengambil langkah administratif dengan menonaktifkan seorang guru di jenjang SD.
Menurut ICM, penonaktifan dilakukan untuk menjaga keamanan, kenyamanan, serta lingkungan pendidikan yang kondusif. Langkah tersebut juga dimaksudkan untuk memberikan ruang bagi proses penanganan dan pemeriksaan.
ICM menegaskan, penonaktifan tersebut merupakan langkah administratif dan bukan kesimpulan mengenai kesalahan ataupun pertanggungjawaban hukum pihak yang bersangkutan.
"ICM kooperatif dan menghormati proses pemeriksaan, hak setiap pihak, serta kewenangan instansi yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan," tulis pihak sekolah ICM.
Dugaan Kasus Ramai Dibahas di Threads
Di sisi lain, pembahasan mengenai kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh guru kepada muridnya tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial Threads. Salah satu utas dari akun euniii**** mengunggah soal kasus pelecehan seksual yang terjadi di sekolah internasional di BSD. Dugaan kejadian berlangsung sejak korban duduk di kelas 4 SD hingga kelas 1 SMP.
Masih dalam utas yang sama, dikatakan korban disebut mengalami manipulasi oleh mantan guru wali kelas. Setelah jam sekolah, korban disebut diajak mengikuti kelas mengaji secara privat. Lalu diajak menonton film dewasa dan dilecehkan secara fisik.
Pengguna Threads tersebut menyebut kasus baru terungkap setelah korban menceritakan pengalamannya kepada guru taekwondo.
(ANN)