Jakarta: Sebanyak 245.000 benih ikan mas dan 7,4 ton pakan disalurkan kepada pembudi daya ikan di Korong Simpang Tangah, Nagari III Koto Aur Malintang Utara, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, untuk membantu masyarakat kembali menjalankan usaha setelah terdampak bencana.
Bantuan tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Rencana Aksi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Tahun 2026. Secara keseluruhan, program pemulihan perikanan budi daya di Padang Pariaman menjangkau 22 lokasi pada sembilan kecamatan dengan cakupan lahan 10,42 hektare.
Program tersebut mencakup bantuan 548.250 benih ikan dan 52 unit keramba dengan rencana anggaran Rp558,47 juta. Hingga 7 Oktober 2026, penanganan telah terealisasi di tiga lokasi, yakni Nagari III Koto Aur Malintang, Aie Tajun di Kecamatan Lubuk Alung, serta Balah Aie Utara di Kecamatan VII Koto.
Realisasi bantuan hingga saat ini meliputi 310.000 benih ikan atau 56,5 persen dari target, 52 unit keramba yang telah terpenuhi seluruhnya, dan 8.375 kilogram pakan senilai Rp377,12 juta. Pemerintah juga menyalurkan satu unit ekskavator mini senilai Rp693,94 juta untuk mendukung pemulihan sarana produksi perikanan.
Perhatian khusus diberikan kepada Korong Simpang Tangah setelah peninjauan lapangan menemukan sekitar 20 hektare kolam terdampak akibat rusaknya tanggul dan pintu air Sungai Antokan. Sejumlah keramba juga mengalami kerusakan berat sehingga pemulihan sarana budi daya perlu diselaraskan dengan penanganan sumber daya air.
Kerusakan tersebut berdampak langsung terhadap pendapatan masyarakat. Sebelum bencana, nilai produksi ikan di kawasan itu mencapai sekitar Rp4,7 miliar dalam satu kali masa panen enam bulan. Setelah bencana, nilainya turun menjadi sekitar Rp2,4 miliar per panen atau berkurang hampir 49 persen.
Wakil Kepala Posko Nasional Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera Marsma TNI Ridha Hermawan penanganan kolam dan infrastruktur sungai harus dilaksanakan sebagai satu kesatuan.
“Pemulihan kolam seluas 20 hektare di Korong Simpang Tangah tidak dapat diselesaikan oleh KKP sendiri karena kerusakan bersumber dari lepasnya tanggul dan pintu air Sungai Antokan yang menjadi kewenangan Kementerian PU. Selama tanggul belum diperbaiki, perbaikan keramba berisiko rusak kembali,” tulis Ridha dalam laporan hasil monitong dan evaluasi (monev) khusus di Padang Pariaman.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman bersama Kementerian PU, KKP, dan Satgas PRR menyiapkan penanganan terpadu. Perbaikan tanggul dan pintu air Sungai Antokan menjadi landasan untuk melanjutkan rehabilitasi keramba dan kolam secara lebih aman. Penanganan permanen tersebut direncanakan masuk dalam program tahun 2027.
Pemerintah juga akan mempercepat penyaluran bantuan pada 19 lokasi yang belum terealisasi, termasuk 12 lokasi budi daya ikan gurami dan satu lokasi budi daya ikan nila di Sicincin dengan kebutuhan 74.500 benih. Ketersediaan sisa anggaran program sebesar Rp332,07 juta akan dipastikan agar seluruh sasaran memperoleh penanganan sesuai kebutuhan.
Pada saat yang sama, data kerusakan akan diselaraskan karena masih terdapat perbedaan cakupan antara indikator daerah, rencana aksi KKP, dan temuan lapangan. Pemutakhiran tersebut diperlukan agar bantuan tepat sasaran, tidak tumpang tindih, dan mampu menjangkau pembudi daya yang benar-benar terdampak.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan