Jakarta: Setelah merayakan hari kemenangan Idulfitri 1 Syawal, masyarakat Indonesia, khususnya di tanah Jawa, bersiap menyambut tradisi khas lainnya yang tak kalah meriah, yaitu Lebaran Ketupat. Tradisi yang kental dengan nuansa kebersamaan ini menjadi penanda berakhirnya rangkaian ibadah di bulan Syawal.
Berdasarkan penetapan 1 Syawal 1447 H yang jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, maka perayaan Lebaran Ketupat 2026 diprediksi akan berlangsung pada Sabtu, 28 Maret 2026. Penentuan tanggal tersebut mengacu pada perhitungan tujuh hari pasca-Idulfitri, yang juga menandai tuntasnya ibadah puasa sunah enam hari di bulan Syawal.
Sejarah Lebaran Ketupat
Dikenal luas dengan sebutan 'Kupatan', Lebaran Ketupat merupakan tradisi khas yang mengakar kuat di kalangan masyarakat Muslim, khususnya di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Perayaan ini identik dengan kesibukan menganyam janur kelapa menjadi ketupat yang kemudian disandingkan dengan hidangan lezat seperti opor ayam dan sambal goreng.
Lebih dari sekadar pesta kuliner, momen ini menjadi ajang saling mengantar hantaran makanan sebagai simbol kerukunan, rasa syukur, dan eratnya silaturahmi antar-kerabat.
Sejarah mencatat bahwa Lebaran Ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, salah satu anggota Wali Songo. Beliau menggunakan strategi dakwah kultural dengan memperkenalkan dua kali hari raya di Jawa.
Melalui tradisi ini, Sunan Kalijaga berhasil memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam budaya lokal secara halus, menjadikannya sarana sedekah dan penguat tali persaudaraan.
Baca Juga :
Mengenal Ketupat Lebaran di Sejumlah Daerah
Hingga kini, Lebaran Ketupat tetap menjadi momen yang dinanti untuk berkumpul bersama keluarga dan tetangga. Tradisi membawa ketupat ke masjid untuk didoakan bersama atau saling hantar makanan ke rumah kerabat menjadi bukti nyata bahwa semangat gotong royong dan silaturahmi masih terjaga kuat di tengah masyarakat.
Lebaran Ketupat adalah bukti nyata bagaimana nilai-nilai Islam dapat berakulturasi dengan indah dalam budaya Nusantara. Melalui teladan Sunan Kalijaga, kita diajarkan bahwa dakwah bisa disampaikan dengan cara yang sejuk dan penuh kebersamaan. Menjaga tradisi 'Kupatan' berarti menjaga jati diri bangsa yang santun, religius, dan selalu mengedepankan persaudaraan di atas segalanya.
(Fany Wirda Putri)
Jakarta: Setelah merayakan hari kemenangan Idulfitri 1 Syawal, masyarakat Indonesia, khususnya di tanah Jawa, bersiap menyambut tradisi khas lainnya yang tak kalah meriah, yaitu
Lebaran Ketupat. Tradisi yang kental dengan nuansa kebersamaan ini menjadi penanda berakhirnya rangkaian ibadah di bulan Syawal.
Berdasarkan penetapan 1 Syawal 1447 H yang jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, maka perayaan Lebaran Ketupat 2026 diprediksi akan berlangsung pada Sabtu, 28 Maret 2026. Penentuan tanggal tersebut mengacu pada perhitungan tujuh hari pasca-Idulfitri, yang juga menandai tuntasnya ibadah puasa sunah enam hari di bulan Syawal.
Sejarah Lebaran Ketupat
Dikenal luas dengan sebutan 'Kupatan', Lebaran Ketupat merupakan tradisi khas yang mengakar kuat di kalangan masyarakat Muslim, khususnya di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Perayaan ini identik dengan kesibukan menganyam janur kelapa menjadi ketupat yang kemudian disandingkan dengan hidangan lezat seperti opor ayam dan sambal goreng.
Lebih dari sekadar pesta kuliner, momen ini menjadi ajang saling mengantar hantaran makanan sebagai simbol kerukunan, rasa syukur, dan eratnya silaturahmi antar-kerabat.
Sejarah mencatat bahwa Lebaran Ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, salah satu anggota Wali Songo. Beliau menggunakan strategi dakwah kultural dengan memperkenalkan dua kali hari raya di Jawa.
Melalui tradisi ini, Sunan Kalijaga berhasil memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam budaya lokal secara halus, menjadikannya sarana sedekah dan penguat tali persaudaraan.
Hingga kini, Lebaran Ketupat tetap menjadi momen yang dinanti untuk berkumpul bersama keluarga dan tetangga. Tradisi membawa ketupat ke masjid untuk didoakan bersama atau saling hantar makanan ke rumah kerabat menjadi bukti nyata bahwa semangat gotong royong dan silaturahmi masih terjaga kuat di tengah masyarakat.
Lebaran Ketupat adalah bukti nyata bagaimana nilai-nilai Islam dapat berakulturasi dengan indah dalam budaya Nusantara. Melalui teladan Sunan Kalijaga, kita diajarkan bahwa dakwah bisa disampaikan dengan cara yang sejuk dan penuh kebersamaan. Menjaga tradisi 'Kupatan' berarti menjaga jati diri bangsa yang santun, religius, dan selalu mengedepankan persaudaraan di atas segalanya.
(
Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)