Jalan menuju lokasi ledakam bom di lingkungan Gajah, Kelurahan Pogar, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jatim, ditandai garis polisi. (Foto: MI/Abdus Syukur)
Jalan menuju lokasi ledakam bom di lingkungan Gajah, Kelurahan Pogar, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jatim, ditandai garis polisi. (Foto: MI/Abdus Syukur)

Terduga Pelaku Bom Pasuruan Residivis, Deradikalisasi Gagal?

Nasional Bom di Pasuruan
06 Juli 2018 09:13
Jakarta: Terduga pelaku bom di Pasuruan, Jawa Timur, Abdullah, tercatat pernah menjalani hukuman penjara atas kasus terorisme di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta, pada 2010 silam. Lima tahun kemudian dia bebas dan hidup berpindah-pindah.
 
Banyak pihak menyebut peristiwa ledakan yang melukai seorang anak berusia 6 tahun itu tak lepas dari kegagalan program deradikalisasi pemerintah yang diterapkan kepada Abdullah.
 
Namun, Pengamat Terorisme Hasibullah Satrawi menilai anggapan tersebut tak selalu benar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saya cukup lama di program yang berkaitan upaya kita bersama membuat orang seperti ini tidak lagi radikal. Menurut saya ini harus adil karena (kegagalan deradikalisasi) ukurannya begitu luas" ujarnya, dalam Metro Pagi Primetime, Jumat, 6 Juli 2018.
 
Menurut Hasibullah program deradikalisasi tak melulu soal meluruskan ideologi narapidana terorisme yang sudah menyimpang.
 
Lebih dari itu, ada banyak cara melakukan deradikalisasi yang terkadang tidak dianggap sebagai upaya sebenarnya membuat seseorang kembali pada ideologi pancasila.
 
Misalnya, kata dia, ketika masuk penjara narapidana terorisme ekstrem enggan makan makanan penjara lantaran dianggap sebagai makanan thagut atau tak mau menjawab salam karena menganggap orang lain kafir bisa berubah dari waktu ke waktu.
 
"Perubahan tahap demi tahap itu adalah keberhasilan. Jangan dinafikan atau dinihilkan hanya karena satu dua orang yang tidak berhasil," katanya.
 
Hasibullah mengaku tak bisa menjamin mereka yang sudah ikut deradikalisasi tidak akan mengulangi perbuatannya lagi setelah keluar dari penjara.
 
Akan ada banyak hal yang memengaruhi mantan narapidana terorisme untuk melakukan hal serupa. Pengaruh lingkungan, teman, bahkan keluarga tidak bisa memastikan mereka tidak melakukannya lagi.
 
"Indikator keberhasilan dan kegagalan itu banyak makanya harus fair di situ jangan membiasakan kalau terjadi masalah sistemnya yang gagal. Harus adil, sudah banyak keberhasilannya ayo benahi sama-sama. Mungkin (Abdullah) residivis yang tidak terawasi dengan baik," jelas dia.
 

 

(MEL)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif