Pekerja membawa kotak berisi ikan laut ketika melintasi banjir rob di Kawasan Pasar Ikan Muara Baru, Jakarta, Selasa (7/6/2016). Foto: MI/Galih Pradipta
Pekerja membawa kotak berisi ikan laut ketika melintasi banjir rob di Kawasan Pasar Ikan Muara Baru, Jakarta, Selasa (7/6/2016). Foto: MI/Galih Pradipta

Jakarta Ambles karena Eksploitasi Air Berlebihan

Nur Azizah • 10 Juni 2016 16:20
medcom.id, Jakarta: Banjir rob atau limpasan air laut ke daratan Ibu Kota kian sulit ditangani. Hal itu akibat tidak adanya infrastruktur yang memadai ditambah eksploitasi air tanah secara berlebihan.
 
Pengambilan air tanah untuk sektor jasa dan industri menjadi salah satu pemicu cepatnya laju penurunan permukaan tanah. Peneliti dari Fakultas Teknik Lingkungan Universitas Indonesia Firdaus Ali mengatakan, setiap tahun muka tanah di Jakarta mengalami penurunan 11 hingga 12 centimeter.
 
Normalnya, penurunan muka tanah hanya lima hingga delapan milimeter. Firdaus menjelaskan, penurunan permukaan tanah disebabkan empat hal, yakni getaran bumi, kontur tanah yang lembut, pembangunan yang melebihi beban, dan pemompaan air tanah.
 
Dewan Pengarah Kemitraan Air Indonesia itu menerangkan, tanah di Jakarta termasuk labil. Hal itu karena dulu wilayah Jakarta merupakan kawasan pantai.
 
Akibatnnya, bila terjadi getaran, kondisi struktur tanah mengalami konsolidasi dan berpotensi terus ambles. Amblesnya tanah ini terjadi semakin cepat karena pembangunan yang sangat pesat.

“Getaran bumi membuat tanah menjadi padat dan mengakibatkan muka tanah turun. Tapi penyebab paling parah adalah laju pembangunan yang tak terkendali dan pemompaan air secara berlebihan,” kata Firdaus.
 
Jakarta Ambles karena Eksploitasi Air Berlebihan
Warga menyaksikan suasana banjir rob yang melanda kawasan wisata Pantai Prigi, Trenggalek, Jawa Timur, Rabu (8/6/2016). Foto: Antara/Destyan Sujarwoko
 
Ketua Indonesia Water Institute itu menyampaikan, pembangunan di Ibu Kota berpusat di Jakarta Barat dan Utara. Di dua wilayah itu gedung-gedung bertingkat tinggi menyumbang banyak penurunan muka tanah.
 
Lalu, penggunaan air yang mereka pakai mempercepat tanah di Jakarta ambles. Firdaus menuturkan, satu apartemen atau pusat pembelanjaan setidaknya bisa menggali air tanah dari 200 sampai 300 meter.
 
“Mengambil air tanah sebenarnya boleh, tapi seharusnya diisi kembali dengan cara injeksi. Ini yang tidak mereka lakukan sehingga menyebabkan pori-pori dalam tanah kosong dan ambles,” ujar dia.
 
Jakarta Ambles karena Eksploitasi Air Berlebihan
Pemandangan deretan gedung-gedung pencakar langit di Jakarta, Selasa (31/3/2015). Pembangunan gedung pencakar langit juga menjadi penyumbang banyaknya penurunan muka tanah di wilayah DKI Jakarta. Foto: Antara/Vitalis Yogi Trisna
 
Sudah sepekan banjir rob melanda pesisir Jakarta. Pada Jumat 3 Juni 2016 malam, tanggul di Pantai Mutiara, Penjaringan, Jakarta Utara, jebol. Air laut membanjiri rumah-rumah elite di kawasan itu. Sabtu 4 Juni 2016 malam, kejadian serupa terjadi di Muara Angke.
 
Jakarta Ambles karena Eksploitasi Air BerlebihanWarga mengambil air bersih untuk kebutuhan Mandi Cuci Kakus (MCK) dengan alat pompa air tradisional di Dukuh Pinggir, Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (22/9/2015). Musim kemarau membuat sumur warga mengering hingga sulit mendapatkan air bersih. Warga di kawasan tersebut menggunakan pompa air tradisional untuk dimanfaatkan sejak 5 bulan terakhir. Foto: MI/Galih Pradipta
 
Akibatnya, pagar pembatas pelabuhan sepanjang 20 meter ambruk. Air pasang merendam empat RT di RW 11 dan sejumlah jalan utama di Kompleks Pelabuhan Muara Angke hingga Senin 6 Juni 2016.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MBM)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>