Sejumlah perwakilan mahasiswa Papua di kediaman Keluarga Gus Dur. Foto: Medcom.id/Fachrie Audhia Ahfiez
Sejumlah perwakilan mahasiswa Papua di kediaman Keluarga Gus Dur. Foto: Medcom.id/Fachrie Audhia Ahfiez

Mahasiswa Papua Berdialog dengan Keluarga Gus Dur

Nasional Kerusuhan Manokwari
Fachri Audhia Hafiez • 14 September 2019 00:27
Jakarta: Sejumlah perwakilan mahasiswa Papua menyambangi kediaman keluarga Presiden ke-4 Indonesia Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, di Ciganjur, Jakarta Selatan. Pertemuan membahas usulan penyelesaian konflik di Papua.
 
Puluhan mahasiswa Papua tersebut berasal dari berbagai kampus di Bandung, Jawa Barat, Malang, Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka diterima Istri Gus Dur, Sinta Nuriyah, serta Putri Gus Dur, Yenny Wahid.
 
"Ini langkah awal yang baik untuk kita menjalin kerjasama untuk bagaimana solusi jangka pendek menyangkut keadaan di Papua, kalau bisa ada dialog yang seluas-luasnya. Jangan kita takut untuk berdialog," kata Perwakilan Mahasiswa Papua Agustinus Kambuwaya di lokasi, Jumat, 13 September 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Agustinus menilai cara-cara pemerintah meredam ketegangan di Papua kurang tepat. Ia berharap penanganan konflik mencontoh Gus Dur saat menjadi Kepala Negara.
 
Ia bercerita, ketika Gus Dur menyambangi Papua, banyak yang mengibarkan bendera berlambang Bintang Kejora, tapi tak ada yang ditangkap. Gus Dur disebut memandang situasi itu sebagai bentuk ekspresi dan kegembiraan.
 
"Diakhiri rekonsiliasi yang konstruktif, ada pembangunan yang didorong itu langkah awal meletakan dasar bagaimana menciptakan Papua menjadi tanah damai," ujar Agustinus.
 
Ia mengatakan langkah yang dilakukan pemerintah saat ini belum mewakili suara keseluruhan masyarakat Papua. Dialog yang dilakukan pemerintah belakangan ini hanya mewakili kalangan tertentu.
 
"Kami tawarkan jangka pendek dan jangka panjang sebenarnya, adalah bagaimana proteksi terhadap masyarakat asli Papua yang ada dalam basis suku, marga, itu bisa diakomodir," ujar Agustinus.
 
Sementara itu, Yenny menyampaikan penyelesaian ketegangan di Papua bisa dimulai dengan mendengarkan berbagai keluhan dari setiap elemen masyarakat. Kegelisahan yang terjadi di tengah masyarakat Papua perlu dicermati pemerintah.
 
"Kalau pemerintah tentunya haru mendengarkan aspirasi dan mencari solusi politik. Apa yang membuat kegelisahan yang selama ini ada, bisa mereda dan ganti semangat membangun Papua," ujar Yenny.
 
Menurut Yenny, kalangan muda Papua perlu banyak dilibatkan dalam penyelesaian ketegangan di kampung halaman mereka. Ia juga mengimbau rakyat agar menguatkan identitas Papua sebagai bagian bangsa Indonesia. Artinya, adanya representasi wajah Papua dalam kultur nasional.
 
"Jangan ada ucapan rasial, jangan ada lagi ucapan diskriminatif, dan tindakan rasial dan sikap diskriminatif," kata Yenny.
 

(AGA)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif