KNKT: Pesawat Lion Air PK-LQP Laik Terbang

Kautsar Widya Prabowo 29 November 2018 11:24 WIB
KNKT: Pesawat Lion Air PK-LQP Laik Terbang
Kepala Sub Komite Investigasi Kecelakaan Transportasi Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo memberikan keterangan mengenai investigasi kecelakaan pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 di Kantor KNKT, Jakarta, Sabtu (3/11/2018). Foto: Antara/Wa
Jakarta : Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menjelaskan, pesawat Lion Air PK-LQP dengan rute penerbangan Denpasar-Jakarta dinilai laik terbang. Hal itu sekaligus membantah terkait pemberitaan bahwa pesawat Lion Air PK-LQP dengan rute JT 610 tidak laik terbang.

Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Capt Nurcahyo Utomo menjelaskan bebera hal mengenai pesawat  laik terbang atau tidak. Salah satunya ialah, menurut peraturan di Indonesia, pesawat dinyatakan laik terbang jika Aircraft Flight Maintenance Log (AFML) telah ditandatangani oleh engineer (releaseman).

"Setelah pesawat mendarat pilot melaporkan adanya gangguan pada pesawat, engineer telah melakukan perbaikan dan pengujian. Setelah hasil pengujian menunjukkan hasil baik maka AFML ditandatangani oleh releaseman dan pesawat dinyatakan laik terbang ," ujar Nurcahyo melalui keterangannya, Kamis, 29 November 2018.

Selain itu, salah satu kondisi yang menyebabkan kelaikudaraan (airworthiness) berakhir, bila pada saat terbang pesawat mengalami gangguan. Keputusan melanjutkan atau segera mendarat ada di tangan Pilot in Command (PIC) atau captain.

"Dengan demikian disampaikan bahwa pesawat Lion Air Boeing B 737-8 (MAX) beregistrasi PK-LQP dalam kondisi laik terbang saat berangkat dari Denpasar Bali dengan nomor penerbangan JT 043, maupun pada saat berangkat dari Jakarta dengan nomor penerbangan JT 610 ," imbuhnya.

Perlu diketahui, berdasarkan data perbaikan mesin didapati KNKT, pesawat dengan penerbangan Denpasar- Jakarta pada 28 Oktober 2018, mengalami kerusakan pada sensor angle of attack ( AoA). Akibatnya berdasarkan data Flight Data Recorder (FDR) mencatat sebelum hingga selama penerbangan dari Denpasar - Jakarta terjadi stick shaker atau bergetarnya kontrol di kokpit.

Lalu pada ketinggian 400 kaki, kecepatan pesawat jadi berubah - ubah. Hidung pesawat sempat mengalami turun secara otomatis sebelum diatur kembali oleh pilot.

Bahkan sebelum pesawat dengan nomor penerbangan JT 610 dari Jakarta menuju Pangkal Pinang pada 29 Oktober 2018, kembali terjadi permasalah. Sensor AoA mengalami masalah yang sama. Digital Flight Data Recorder (DFDR) mencatat perbedaan antara AoA kiri dan Kanan sekitar 20 derajat dan berlanjut hingga akhir rekaman

Sebelumnya, Pihak Lion Air Group membantah pesawat Lion Air PK-LQP dalam penerbangan Denpasar-Jakarta tidak layak terbang. Penerbangan tersebut merupakan penerbangan terakhir sebelum pesawat nahas itu jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat dengan rute Jakarta-Pangkal Pinang.

Presiden Direktur Lion Group, Edward Sirait menjelaskan pernyataan tidak layak terbang itu muncul di sejumlah media selepas konferensi pers laporan awal investigasi kecelakaan Boeing 737 8 Max registrasi PK-LQP. Namun, menurut dia, pernyataan tersebut tidak benar.

'Pernyataan ini menurut kami tidak benar dan pesawat itu dari Denpasar dirilis dan dinyatakan laik terbang sesuai dokumen dan yang sudah dilakukan oleh teknisi,' ujarnya saat konferensi pers di Gedung Lion Air, Jakarta Pusat, Rabu, 28 November 2018.

(MBM)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id