Warga Batam Protes Terkait Pembangunan Cata Center. Foto: BBC
Warga Batam Protes Terkait Pembangunan Cata Center. Foto: BBC

Batam Dibanjiri Investasi Data Center AI, Warga Protes karena Kekurangan Air

Annisa ayu artanti • 13 Oktober 2026 13:29
Ringkasnya gini..
  • Warga Batam memprotes kekurangan air bersih di tengah ekspansi pembangunan pusat data.
  • Investasi pusat data di Batam dilaporkan mencapai lebih dari USD6,7 miliar pada pertengahan 2026.
  • Pemerintah setempat menyebut musim kemarau berkepanjangan sebagai penyebab kekurangan air, sementara warga mempertanyakan dampak pembangunan pusat data.
Jakarta: Bayangkan harus mengantre air bersih selama berjam-jam, sementara di tempat yang sama berdiri fasilitas teknologi bernilai besar yang membutuhkan sistem pendingin untuk menjaga server tetap beroperasi. Situasi inilah yang menjadi sorotan di Batam, ketika ekspansi data center berjalan beriringan dengan keluhan warga soal sulitnya mendapatkan air bersih.

Dilansir dari laman BBC pada Selasa, 13 Oktober 2026, sekitar 300 warga mendatangi kompleks pusat data di Nongsa Digital Park sambil membawa botol plastik kosong dan jerigen sebagai bentuk protes akibat kekurangan air bersih. 

“Tidak setetes air pun keluar dari keran kami selama tiga bulan terakhir,” ujar salah seorang warga, Dewi Susanti.

Di sisi lain, Batam sedang menarik investasi besar untuk membangun infrastruktur digital yang melayani kebutuhan komputasi dan kecerdasan buatan (AI). Investasi data center di Batam telah mencapai lebih dari USD6,7 miliar pada pertengahan 2026. Dan dari 10 proyek data center yang telah disetujui pemerintah setempat, enam di antaranya berlokasi di Nongsa Digital Park, dengan dua fasilitas telah beroperasi dan satu lainnya sedang dibangun.

Kedekatan secara geografis dengan Singapura menjadi faktor utama kenapa Batam dianggap strategis untuk dijadikan sebagai data center. Selain itu, efisiensi biaya operasional dan konektivitas kabel bawah laut menjadi faktor pendukungnya.
   

Krisis Air Diperkirakan Menjadi Dampak Negatif dari Data Center


Data center membutuhkan listrik untuk menjalankan server dan sistem pendingin agar perangkat tidak mengalami panas berlebih. Namun, besarnya konsumsi air setiap fasilitas di Batam belum diketahui secara pasti, sementara data penggunaan air data center di Indonesia masih terbatas dan sebagian perusahaan memperlakukannya sebagai informasi rahasia.

Penelitian AS menunjukkan bahwa data center tipikal mengonsumsi sekitar 300 ribu galon air per hari, atau setara dengan kebutuhan seribu rumah tangga di AS. Sementara untuk fasilitas yang berkapasitas 50 MW, dapat mengonsumsi air sebanyak 2.200 rumah tangga per hari, dan listrik cukup menyuplai daya ke 22 ribu rumah.

Warga menduga perkembangan data center turut memperburuk kesulitan mendapatkan air, tetapi hubungan langsung tersebut belum terbukti. BP Batam justru menyebut kemarau berkepanjangan sebagai penyebab kekurangan air dan membantah tuduhan bahwa pasokan rumah tangga dialihkan ke data center, sementara perusahaan penyedia air menyatakan sedang berupaya meningkatkan pasokan.

Tekanan terhadap sumber air menjadi persoalan penting karena Batam mengandalkan air hujan yang ditampung di enam waduk buatan untuk memenuhi kebutuhan sekitar 1,3 juta penduduknya. Kelompok lingkungan Akar Bhumi Indonesia memperkirakan Waduk Nongsa dapat mengering dalam waktu sekitar satu bulan apabila tidak turun hujan.

Setelah muncul protes warga pada Agustus dan September, pihak berwenang memberi tahu perusahaan data center di Batam agar membangun fasilitas desalinasi sendiri dan tidak lagi bergantung pada waduk untuk memperoleh air tawar. Kebijakan ini menjadi salah satu upaya untuk mengurangi tekanan terhadap sumber air, meskipun efektivitasnya tetap bergantung pada penerapan dan pengawasan di lapangan.

Di tengah ekspansi industri digital, persoalan Batam menunjukkan bahwa keberhasilan investasi tidak cukup diukur dari nilai proyek atau kapasitas komputasi yang dibangun. Ketersediaan air bersih, transparansi konsumsi sumber daya, serta perlindungan kebutuhan masyarakat juga perlu menjadi bagian dari perencanaan agar pertumbuhan ekonomi digital dapat berjalan berkelanjutan. (Wisa Irena Br Sitepu)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>