Dilansir dari laman BBC pada Jumat, 9 Oktober 2026, proyek Norwich Apex Data Centre dengan kapasitas 150 megawatt (MW) telah diajukan kepada Dewan South Norfolk. Namun, rencana tersebut mendapat penolakan dari masyarakat, dengan ribuan orang menandatangani petisi untuk menentang pembangunan fasilitas tersebut.
Salah satu perhatian utama datang dari penilaian kebisingan yang menyebut fasilitas itu berpotensi menghasilkan suara sangat tinggi jika tidak disertai langkah mitigasi ekstensif. Sumber kebisingan yang disoroti dalam penilaian lingkungan adalah 72 unit pendingin atau chiller yang direncanakan dipasang di atap bangunan.
Selain kebisingan, pembangunan data center tersebut juga memunculkan kekhawatiran terkait penggunaan air, perubahan lanskap akibat skala bangunan yang dinilai terlalu besar untuk kawasan tersebut.
Namun, Norwich Apex Data Centre menyatakan hasil penilaian lingkungannya menyimpulkan bahwa fasilitas tersebut tidak akan membahayakan kawasan tersebut. Perusahaan juga mengatakan data center akan menggunakan teknologi pendinginan udara sehingga tidak membutuhkan air untuk proses pendinginan.
“Data center ini akan menggunakan teknologi pendinginan udara, yang berarti tidak akan dibutuhkan air untuk pendinginan,” kata juru bicara perusahaan.
Ia menambahkan, air hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti toilet dan fasilitas staf, bukan diambil dari sungai atau rawa di sekitarnya.
Terkait kebisingan, perusahaan mengklaim fasilitas telah dirancang agar tingkat suara operasional di lokasi-lokasi sensitif di sekitarnya selaras dengan kebisingan latar belakang yang ada.
Pengembang juga menyebut proyek tersebut berpotensi menciptakan hingga 150 pekerjaan tetap serta akan dilengkapi penanaman dan penataan lanskap untuk mengurangi dampak visual.
Anggota Dewan Menilai Data Center Terlalu Besar untuk Lokasinya
Penolakan terhadap proyek juga disampaikan oleh pemimpin Partai Konservatif di Dewan South Norfolk sekaligus anggota dewan daerah untuk Keswick, Daniel Elmer. Ia menyatakan akan secara resmi menolak usulan pembangunan data center tersebut.
“Menurut pandangan pribadi saya, itu terlalu besar untuk lokasi yang akan ditempatinya,” kata Elmer.
Ia menyoroti kedekatan lokasi dengan kawasan rawa, bagian selatan Norwich, serta sebuah gereja yang terdaftar sebagai bangunan bersejarah.
Elmer juga mempertanyakan dampak visual bangunan tersebut terhadap citra kota Norwich, terutama karena lokasinya berada di jalur masuk selatan menuju kota. Menurutnya, penampilan bangunan yang terlihat pengunjung perlu menjadi pertimbangan dalam menilai proposal yang diajukan.
Lahan tersebut sebelumnya telah memiliki izin perencanaan untuk kawasan bisnis. Namun, pengembang ingin memanfaatkan lahan itu untuk membangun data center sebagai gantinya, sehingga proposal tersebut memunculkan perdebatan mengenai kebutuhan infrastruktur digital, dampak lingkungan, dan kesesuaian pembangunan dengan karakter kawasan. (Wisa Irena Br Sitepu)