Jakarta: TikTok bukan hanya menjadi platform hiburan, tetapi juga jembatan yang membawa generasi muda lebih dekat dengan museum dan warisan budaya Indonesia.
Berdasarkan Museum Insights Report 2026, unggahan dengan tagar #Museum meningkat 67 persen secara tahunan dan telah melampaui 1 juta unggahan di TikTok. Konten #MuseumTok juga mencatat kenaikan unggahan sebesar 48 persen dibanding tahun sebelumnya.
Tak hanya itu, konten bertema sejarah lewat tagar #HistoryTok naik 108 persen secara tahunan dengan total melampaui 900 ribu unggahan. Sementara secara global, dua dari lima pengguna TikTok disebut memiliki ketertarikan terhadap konten sejarah dan budaya.
Tren tersebut mendorong lahirnya berbagai kolaborasi dengan ruang budaya dan museum di Indonesia. Salah satunya terlihat dalam kegiatan tur Museum Tekstil bersama kreator konten Alma Al Farisi (@almahello) dan Asep Roman Muhtar (@romannuansa), sekaligus dalam rangka Hari Museum Internasional.
Kreator TikTok yang aktif membagikan konten seputar sejarah, budaya, dan identitas Indonesia, Alma Al Farisi (@almahello) (kiri) dan Asep Roman Muhtar (@romannuansa) (kanan). Foto: Medcom/fatha annisa
Keduanya membagikan bagaimana konten di TikTok mampu mengubah persepsi museum yang selama ini dianggap kaku dan membosankan menjadi ruang yang relevan, dekat, bahkan menyenangkan bagi anak muda.
Alma, yang dikenal lewat konten sejarah dan fashion, mengatakan ketertarikannya berawal dari keisengan semata. Dengan latar belakang fashion, ia mulai membahas sejarah pakaian hingga tekstil tradisional Indonesia dengan gaya bertutur ringan dan mudah dipahami.
“Semua wastra kita menceritakan sesuatu. Kalau misalnya kita break down lebih dalam lagi, setiap warna, setiap corak itu punya cerita,” ujar Alma dalam diskusi bertajuk #SerunyaDiTikTok: Saat Budaya, Sejarah, dan Museum Bertemu di TikTok, Kamis, 21 Mei 2026.
Menurutnya, TikTok membuat topik sejarah yang awalnya terasa berat menjadi lebih relatable bagi audiens muda. Ia mengaku sering mengangkat cerita sejarah perempuan, tekstil, hingga museum dengan pendekatan visual dan storytelling yang dekat dengan keseharian pengguna media sosial.
Hal senada disampaikan Roman. Kreator asal Bandung itu mengaku menjadikan TikTok sebagai “jurnal visual” perjalanan kreatifnya dalam membuat tekstil tradisional. Dari platform tersebut, ia juga memperluas edukasi tentang makna wastra Indonesia.
“Orang jadi tahu kalau batik itu bukan cuma motif. Yang disebut batik itu prosesnya,” kata Roman.
Alma Al Farisi (@almahello) (paling kiri) dan Asep Roman Muhtar (@romannuansa) (paling kanan) bersama Sumaryono dan Aulia selaku Edukator Museum Tekstil Jakarta. Foto: Medcom/fatha annisa
TikTok “Museum Come Alive”
Selain menghadirkan diskusi bersama kreator budaya, TikTok juga menjalankan program TikTok Museum Comes Alive yang mengajak publik menikmati pengalaman museum secara lebih interaktif lewat siaran langsung (LIVE) di berbagai museum.
Selama setahun terakhir, sejumlah museum ternama telah memanfaatkan TikTok LIVE untuk
berinteraksi dengan audiens melalui cara-cara baru, sekaligus membangkitkan kembali
minat terhadap sejarah dan karya seni yang populer.
Pada Maret, The Metropolitan Museum of Art di New York City, Amerika Serikat, menghadirkan rangkaian tur LIVE selama tiga hari yang dipandu oleh kreator dan kurator. Sementara itu, Grand Egyptian Museum di Giza, Mesir, berhasil mengubah sebuah acara budaya nasional menjadi momen global dengan menayangkan seremoni pembukaan museum secara LIVE pada November lalu.
Jakarta:
TikTok bukan hanya menjadi platform hiburan, tetapi juga jembatan yang membawa generasi muda lebih dekat dengan museum dan warisan budaya Indonesia.
Berdasarkan
Museum Insights Report 2026, unggahan dengan tagar #Museum meningkat 67 persen secara tahunan dan telah melampaui 1 juta unggahan di TikTok. Konten #MuseumTok juga mencatat kenaikan unggahan sebesar 48 persen dibanding tahun sebelumnya.
Tak hanya itu, konten bertema sejarah lewat tagar #HistoryTok naik 108 persen secara tahunan dengan total melampaui 900 ribu unggahan. Sementara secara global, dua dari lima pengguna TikTok disebut memiliki ketertarikan terhadap konten sejarah dan budaya.
Tren tersebut mendorong lahirnya berbagai kolaborasi dengan ruang budaya dan museum di Indonesia. Salah satunya terlihat dalam kegiatan tur Museum Tekstil bersama kreator konten Alma Al Farisi (@almahello) dan Asep Roman Muhtar (@romannuansa), sekaligus dalam rangka Hari Museum Internasional.
Kreator TikTok yang aktif membagikan konten seputar sejarah, budaya, dan identitas Indonesia, Alma Al Farisi (@almahello) (kiri) dan Asep Roman Muhtar (@romannuansa) (kanan). Foto: Medcom/fatha annisa
Keduanya membagikan bagaimana konten di TikTok mampu mengubah persepsi museum yang selama ini dianggap kaku dan membosankan menjadi ruang yang relevan, dekat, bahkan menyenangkan bagi anak muda.
Alma, yang dikenal lewat konten sejarah dan fashion, mengatakan ketertarikannya berawal dari keisengan semata. Dengan latar belakang fashion, ia mulai membahas sejarah pakaian hingga tekstil tradisional Indonesia dengan gaya bertutur ringan dan mudah dipahami.
“
Semua wastra kita menceritakan sesuatu. Kalau misalnya kita break down lebih dalam lagi, setiap warna, setiap corak itu punya cerita,” ujar Alma dalam diskusi bertajuk
#SerunyaDiTikTok: Saat Budaya, Sejarah, dan Museum Bertemu di TikTok, Kamis, 21 Mei 2026.
Menurutnya, TikTok membuat topik sejarah yang awalnya terasa berat menjadi lebih relatable bagi audiens muda. Ia mengaku sering mengangkat cerita sejarah perempuan, tekstil, hingga museum dengan pendekatan visual dan storytelling yang dekat dengan keseharian pengguna media sosial.
Hal senada disampaikan Roman. Kreator asal Bandung itu mengaku menjadikan TikTok sebagai “jurnal visual” perjalanan kreatifnya dalam membuat tekstil tradisional. Dari platform tersebut, ia juga memperluas edukasi tentang makna wastra Indonesia.
“Orang jadi tahu kalau batik itu bukan cuma motif. Yang disebut batik itu prosesnya,” kata Roman.
Alma Al Farisi (@almahello) (paling kiri) dan Asep Roman Muhtar (@romannuansa) (paling kanan) bersama Sumaryono dan Aulia selaku Edukator Museum Tekstil Jakarta. Foto: Medcom/fatha annisa
TikTok “Museum Come Alive”
Selain menghadirkan diskusi bersama kreator budaya, TikTok juga menjalankan program TikTok Museum Comes Alive yang mengajak publik menikmati pengalaman museum secara lebih interaktif lewat siaran langsung (LIVE) di berbagai museum.
Selama setahun terakhir, sejumlah museum ternama telah memanfaatkan TikTok LIVE untuk
berinteraksi dengan audiens melalui cara-cara baru, sekaligus membangkitkan kembali
minat terhadap sejarah dan karya seni yang populer.
Pada Maret, The Metropolitan Museum of Art di New York City, Amerika Serikat, menghadirkan rangkaian tur LIVE selama tiga hari yang dipandu oleh kreator dan kurator. Sementara itu, Grand Egyptian Museum di Giza, Mesir, berhasil mengubah sebuah acara budaya nasional menjadi momen global dengan menayangkan seremoni pembukaan museum secara LIVE pada November lalu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(PRI)