BPOM Kaji Ulang Policresulen di Albothyl sebagai Obat Sariawan

Sunnaholomi Halakrispen, Siti Yona Hukmana 15 Februari 2018 14:54 WIB
kesehatan
BPOM Kaji Ulang Policresulen di <i>Albothyl</i> sebagai Obat Sariawan
Ilustrasi. Foto: Shutterstock
Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengkaji ulang penggunaan policresulen dengan kandungan 36 persen sebagai obat luar. Cairan yang biasa digunakan untuk mengobati sariawan ini disebut lebih banyak risikonya dibandingkan dengan manfaatnya.

Bahan policresulen 36 persen terdapat dalam produk Albothyl yang diproduksi PT Pharos Indonesia. Produk ini kerap digunakan warga untuk mengobati sariawan. Sejumlah produk lain juga menggunakan bahan policresulen 36 persen.

BPOM lantas menyurati PT Pharos mengenai kandungan policresulen itu. Dalam surat yang viral di media sosial itu BPOM meminta PT Pharos untuk mengevaluasi kembali produk tersebut.


"Indikasi yang tercantum pada informasi produk policresulen dalam bentuk sediaan ovula dan gel sama dengan indikasi yang tercantum pada informasi policresulen dalam bentuk cairan obat luar konsentrat 36 persen," demikian isi surat itu.

Surat bernomor B-PW.03.02.343.3.01.18.0021 itu dilayangkan pada 3 Januari 2018 kepada PT Pharos Indonesia dan ditandatangani Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan NAPZA, Nurma Hidayati.

Dalam surat tersebut, policresulen tak lagi direkomendasikan penggunaannya untuk indikasi pada bedah, dermatologi, otolaringologi, stomatologi, dan odontology.

"Terdapat laporan chemical burn pada mucosa oral terkait penggunaan policresulen cairan obat luar konsentrat 36 persen oleh konsumen," tulis surat itu.

Kepala BPOM Penny K Lukito membenarkan BPOM telah mengirim surat ke PT Pharos Indonesia terkait peredaran produk policresulen.

"Iya, benar," kata Penny melalui pesan di aplikasi WhatsApp saat dihubungi Medcom.id, Kamis, 15 Februari 2018.

Ditemui di Jakarta Barat, Penny enggan berbicara lebih banyak. "Kami belum bisa kasih informasi (lengkap). Masih didalami," kata dia.

Dihubungi terpisah, PT Pharos Indonesia menyatakan masih terus mengumpulkan informasi dan data terkait produk Albothyl.

"Kami juga terus berkoordinasi dan berkomunikasi dengan BPOM. Kami akan segera menyampaikan informasi resmi terkait hal ini kepada mayarakat," kata Direktur Komunikasi PT Pharos Indonesia, Ida Nurtika.

Di media sosial Twitter, surat dari BPOM ini disambut baik warganet. Salah satunya dari Choro dengan akun @cho_ro. "Akhirnya perjuangan keras empat tahun temen-temen dokter gigi terbayar, Albothyl resmi tidak disarankan sebagai obat oral atau sariawan oleh BPOM," demikian komentar dia.
 
Merujuk situs aladokter.com, policresulen adalah obat antiseptik dan desinfektan kulit. Biasa digunakan untuk menghentikan perdarahan lokal, pembersihan dan regenerasi jaringan luka, dan mengobati infeksi vagina akibat bakteri dan jamur.

Penggunaannya policresulen disarankan atas resep dokter. Alasannya, policresulen memiliki efek samping seperti kesemutan pada vagina, kesulitan bernafas, gatal-gatal, dan alergi.



(UWA)