Aniaya Ibu-ibu, AKBP Yusuf Harus Diproses Hukum

ant 13 Juli 2018 15:18 WIB
peristiwa
Aniaya Ibu-ibu, AKBP Yusuf Harus Diproses Hukum
Viral oknum polisi sedang menganiaya perempuan. Istimewa
Pekanbaru: Kepolisian Daerah Kepulauan Bangka Belitung mencopot jabatan AKBP Yusuf setelah video dirinya melakukan tindak kekerasan memukul dua wanita dan seorang anak viral di media sosial.

Namun, pengamat hukum pidana dari Universitas Riau Erdianto Effendy mengatakan Yusuf harus ditindak menurut hukum pidana maupun kode etik Polri. Mengingat tindakan itu masuk kategori perbuatan main hakim sendiri.

"Apalagi terhadap seorang perempuan dan anak-anak," kata Erdianto seperti dilansir Antara, Jumat, 13 Juli 2018.


Menurut Erdianto, terlepas dari aspek hukum, secara sosiologis seharusnya Yusuf bisa menempuh cara lain tanpa harus melakukan pelanggaran hukum.

"Juga terhadap Andy Rafly, 12, pelajar SD, yang tertangkap tangan melakukan pencurian adalah tindak pidana, terlepas dari berapa nilai yang dicuri. Ini tetap perbuatan tercela," jelas Erdianto.

Baca juga: Polisi Penganiaya Perempuan di Babel Dicopot

Ia memandang pencurian termasuk "recht delicten", bukan "wet delicten", yaitu perbuatan yang senyatanya jahat. Tapi apa yang telah dilakukan Yusuf juga tindak pidana, apalagi sebagai seorang polisi seharusnya ia tahu bagaimana bersikap atas pencuri yang tertangkap tangan.

"Yang seharusnya ia lakukan adalah mengamankan pelaku untuk selanjutnya diproses secara hukum, bukan dengan main pukul.  Suatu kebenaran akan menjadi kesalahan ketika diselesaikan dengan cara yang salah," katanya.

Kronologi kasus pidana yang viral di Facebook ini, terlihat Desy, 42, seorang ibu rumah tangga beralamat di Kelurahan Cipayung Kecamatan Depok, Jawa Barat, dipukul dan ditendang menggunakan tangan dan sandal sehingga di bagian mata kanan dan kiri lebam.

Baca juga: Kapolri Murka Anggotanya Menganiaya Perempuan

Korban berikutnya Atmi, 41, ibu rumah tangga beralamat di Citayam Depok dipukul di bagian dahi menggunakan tangan, dipukul bagian kepala menggunakan sandal sehingga luka lebam di muka dan tangan kiri. Andy Rafly, 12, pelajar SD anak Desy, beralamat sama dengan ibunya dipukul di bagian pipi kiri dan kanan sebanyak tiga kali menggunakan tangan, dan dipukul di bagian muka sehingga bibir bagian atas pecah.

Erdianto menambahkan bahwa secara teknis kemampuan Polri  khususnya di Riau tidak diragukan lagi di bidang penanggulangan teroris, keamanan perairan, dan lalu lintas. Namun dalam bidang penyidikan, kemampuan dan sumber daya harus lebih ditingkatkan lagi khususnya peningkatan anggaran penyidikan.





(MBM)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id