Foto: Dok. Inacom.id
Foto: Dok. Inacom.id

Selamat Tinggal Bingung 'Buang' Kelapa

M Rodhi Aulia • 31 Desember 2020 21:10
NAMANYA Sudarno. Pria asal Dusun Temiang, Desa Pardasuka, Kecamatan Katibung, Lampung Selatan ini mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi. 
 
"Saya bilang good (bagus)," kata Sudarno.
 
Sehari-hari Sudarno berprofesi sebagai petani kelapa. Ia mewarisi profesi ini dari sang ayah.

Tapi ia merasakan kebingungan saat memasarkan hasil pertaniannya. Jika terjual pun, harganya tidak memuaskan.
 
Belakangan, ia berkenalan dengan Inacom.id. Salah satu start up yang bergerak di bidang pertanian dan komoditas.
 
Perusahaan rintisan yang berdiri pada Oktober 2018 ini, memiliki lima fokus utama. Terdiri dari pengolahan, pemasaran, supply chain, fintech, dan perkebunan.
 
Alhasil, pemasaran dan pengiriman bukan lagi 'pekerjaan rumah' bagi Sudarno. Harganya pun membuat dirinya puas.
 
"Alhamdulillah semenjak adanya Inacom tiga bulan ini, harga kelapa sudah maksimal. Pembuangan (penjualan) sangat lancar dan transportasinya sangat mudah. Tidak menyulitkan petani seperti saya," kata Sudarno.
 

Selamat Tinggal Bingung Buang Kelapa
Foto: Dok. Inacom.id
 

Sudarno menjadi salah satu contoh dari total 13 ribu petani kelapa dengan lahan seluas 7.100 hektare, yang bermitra dengan Inacom.id. Mereka tersebar di sejumlah daerah di Sumatera dan Sulawesi.
 
"Mayoritas lokasi kerja kami itu berada di remote village yang akses keluar masuk desa sangat sulit. Bahkan di Indragiri Hilir (Riau), hanya bisa menggunakan jalur sungai," kata Head of Business Development Inacom.id, Muhammad Aria Yusuf kepada Medcom.id, beberapa waktu lalu.
 
Kehadiran Inacom.id di sejumlah titik sentra kelapa diklaim turut meningkatkan harga komoditas hingga 39 persen dari kondisi sebelumnya. Pasalnya Inacom.id benar-benar mendampingi petani sejak proses awal.
 
Aria menuturkan pihaknya mendorong dua perubahan. Pertama, perubahan proses. Para petani dikenalkan teknologi solar dryer dome untuk penjemuran sehingga lebih efektif dan efisien.
 
Kedua, perubahan output. Para petani diajak memproduksi dari Kopra Hitam menjadi Kopra Putih. Karena, harga jualnya dua kali lebih mahal ketimbang Kopra Hitam.
 

Selamat Tinggal Bingung Buang Kelapa
Foto: Dok. Inacom.id
 

Dalam hal ini, Inacom.id bekerja sama dengan Astra International melalui program CSR. Di antaranya terkait peningkatan produksi Kopra Putih Edible untuk diekspor ke sejumlah negara di Timur Tengah.
 
"Yang ingin kami kedepankan adalah value added product. Kami paham betul dengan kita memberikan value added, daya tawar petani itu akan lebih tinggi dan lebih baik nantinya. Maka dari itu kami mendorong dua perubahan tersebut," ujar Aria.
 
Aria juga mengungkapkan proses di lapangan. Mula-mula mereka mengonsolidasikan hasil panen petani. Kemudian memilah-milahnya sesuai kebutuhan pasar.
 
Dari hasil pilah-memilah itu, ada yang dibawa ke processing unit. Di sini, Inacom.id menggandeng sejumlah ibu di desa atau sentra tersebut untuk memproses lebih lanjut.
 
Praktik ini wujud nyata Inacom.id membuka lapangan kerja baru untuk para ibu di desa setempat. Setidaknya sekitar 950 masyarakat desa yang diberdayakan.
 
"Processing unit kami itu banyak dikerjakan oleh ibu-ibu di desa tersebut. Setelah dibelah, dicungkil, dipotong dan lain-lain, masuklah ke proses penjemuran di dalam solar dome. Baru setelah itu kita packing untuk dikirimkan ke market," ungkap Aria.
 

Selamat Tinggal Bingung Buang Kelapa
 

Masa Pandemi
Bukan cerita baru, petani berkeluh kesah. Mulai dari harga jual yang tidak bersahabat dan dampak lain dari keberadaan tengkulak.
 
Teknologi diyakini bisa ikut menghapus cerita klasik tersebut. CEO Inacom.id M Nasrulyani berhasrat membuat petani menjadi akrab dengan teknologi.
 
"Inacom ingin memfasilitasi petani untuk bisa langsung mengirimkan komoditas yang mereka punya itu ke pasar-pasar luar. Dengan menggunakan aplikasi ataupun dengan menggunakan jejaring yang kita punya," kata Nasrulyani dalam video yang diunggah di kanal Youtube Inacom.id, 2 Mei 2019.
 
Namun di masa pandemi ini, ekspor kopra terhambat. Pasalnya banyak negara yang menutup jalur impor. Alhasil, Inacom.id fokus membidik pasar domestik. 
 
"Sejak awal pandemi, kami cukup kencang menggarap pasar domestik yang potensinya sangat besar. Namun, pada Q4 2020 ini, ekspor sudah mulai menggeliat kembali. Kami berharap awal Q2 2021 sudah mulai normal karena demand ekspor saat ini terhitung meningkat," pungkas Aria.
 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(DHI)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>