Pengunjuk rasa berfoto dengan latar belakang api yang membakar pos polisi saat demonstrasi menentang UU Cipta Kerja/Antara/Galih Pradipta
Pengunjuk rasa berfoto dengan latar belakang api yang membakar pos polisi saat demonstrasi menentang UU Cipta Kerja/Antara/Galih Pradipta

Intimidasi Wartawan Langgar Hukum dan HAM

Nasional polri kekerasan terhadap wartawan Demo Tolak Omnibus Law
Cindy • 10 Oktober 2020 12:38
Jakarta: Pakar hukum pidana dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Suparji Ahmad, menyebut intimidasi terhadap wartawan bertententangan dengan hukum dan hak asasi manusia (HAM). Kekerasan yang dimaksud yakni intimidasi polisi terhadap wartawan saat meliput demonstrasi penolakan Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) pada Kamis, 8 Oktober 2020.
 
"Terlebih ini dilakukan oleh polisi. Seharusnya polisi bisa membedakan mana wartawan dan mana peserta demo," ucap Suparji lewat keterangan tertulis, Sabtu, 10 Oktober 2020.
 
Menurut dia, wartawan tidak boleh mengalami intimidasi dan kekerasan saat peliputan. Sebab, wartawan dilindungi undang-undang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca:Polri Diminta Susun Materi Pengenalan Wartawan
 
"Wartawan dilindungi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Maka, kekerasan kepada wartawan sangat disayangkan," kata dia.
 
Suparji meminta Polri mengevaluasi pengamanan kegiatan aksi demonstrasi yang selama ini dilakukan. Sebab, wartawan kerap menjadi korban kekerasan.
 
"Wartawan yang ditangkap juga harus segera dibebaskan dan polisi perlu melakukan evaluasi," tutup Suparji.
 
Sebanyak dua jurnalis mengaku diintimidasi polisi saat meliput demo penolakan UU Ciptaker. Mereka adalah jurnalis Suara.com Peter Rotti dan jurnalis CNNIndonesia.com Tohirin.
 
Peter mengaku mendapat perlakuan kasar dari anggota polisi. Ponselnya dirampas dan dibanting hingga kartu memorinya disita. Bahkan dia juga menerima pukulan di bagian pelipis dan tangan. Intimidasi itu disebut terjadi karena Peter merekam aksi pengamanan peserta demo.
 
Sementara itu, Tohirin mengaku mendapat pukulan di bagian kepalanya. Padahal Tohirin sudah memperlihatkan kartu identitasnya. Anggota tetap menyeret Tohirin dan gawainya dirampas.
 
(ADN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif