Ilustrasi meninggal. Medcom.id
Ilustrasi meninggal. Medcom.id

Kemenkes: Lonjakan Kasus Kematian Beberapa Minggu Terakhir Imbas Sinkronisasi Data

Nasional Virus Korona pandemi covid-19 work from home protokol kesehatan PPKM Darurat
Atalya Puspa • 11 Agustus 2021 17:54
Jakarta: Kementerian Kesehatan mencatat lonjakan angka kematian akibat covid-19 tiga minggu terakhir di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Tenaga Ahli Kementerian Kesehatan Panji Fortuna mengungkapkan hal tersebut imbas tidak sinkronnya data antara pusat dan daerah.
 
"Berdasarkan analisis dari data National All Record (NAR) Kementerian Kesehatan didapati bahwa pelaporan kasus kematian yang dilakukan daerah tidak bersifat realtime dan merupakan akumulasi dari bulan-bulan sebelumnya," kata Panji dalam keterangan tertulis Rabu, 11 Agustus 2021.
 
NAR adalah sistem big data untuk pencatatan laboratorium dalam penanganan covid-19 yang dikelola oleh Kemenkes. Berdasarkan laporan kasus covid-19 pada 10 Agustus 2021, dari 2.048 kematian yang dilaporkan, sebagian besar bukanlah angka kematian pada tanggal tersebut atau pada seminggu sebelumnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bahkan, 10,7 persen di antaranya berasal dari kasus pasien positif yang sudah tercatat di NAR lebih dari 21 hari. Namun baru terkonfirmasi dan dilaporkan bahwa pasien telah meninggal.
 
“Kota Bekasi, contohnya, laporan kemarin (10 Agustus 2021) dari 397 angka kematian yang dilaporkan, 94 persen di antaranya bukan merupakan angka kematian pada hari tersebut, melainkan rapelan angka kematian dari bulan Juli sebanyak 57 persen dan bulan Juni dan sebelumnya sebanyak 37 persen. Lalu 6 persen sisanya merupakan rekapitulasi kematian di minggu pertama bulan Agustus,” papar Panji.
 
(Baca: Angka Kematian Diperlukan untuk Menilai Situasi Epidemiologi)
 
Contoh lain Kalimantan Tengah, di mana 61 persen dari 70 angka kematian yang dilaporkan kemarin adalah kasus aktif yang sudah lebih dari 21 hari.  Namun, baru diperbarui statusnya.
 
Panji menuturkan lebih dari 50 ribu kasus aktif saat ini adalah kasus yang sudah lebih dari 21 hari tercatat, namun belum dilakukan pembaharuan.
 
“Kita saat ini sedang mengonfirmasi status lebih dari 50 ribu kasus aktif. Jadi beberapa hari ke depan akan ada lonjakan di angka kematian dan kesembuhan yang bersifat anomali dalam pelaporan perkembangan kasus covid-19. Tapi ini justru akan menjadikan pelaporan kita lebih akurat lagi,” tutur Panji.
 
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Widyawati mengakui ada keterlambatan pembaharuan pelaporan dari daerah. Hal itu akibat keterbatasan tenaga kesehatan menginput data akibat tingginya kasus di daerah mereka beberapa minggu lalu.
 
“Tingginya kasus di beberapa minggu sebelumnya membuat daerah belum sempat memasukkan atau memperbarui data ke sistem NAR Kemenkes,” tutur dia.
 
Widyawati menyebut lonjakan-lonjakan anomali angka kematian akan tetap terlihat setidaknya selama dua minggu ke depan. Kementerian Kesehatan sangat mengapresiasi pemerintah daerah yang telah memperbarui data sesegera mungkin.
 
“Tentunya ini tidak mengurangi semangat kita untuk terus berpacu menyampaikan data yang transparan dan realtime kepada publik,” tutur Widyawati.
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif