Ilustrasi kekerasan jurnalis - MI/Arya Manggala.
Ilustrasi kekerasan jurnalis - MI/Arya Manggala.

AJI Minta Polisi Memahami Fungsi Jurnalis

Nasional Demo Massa Penolak Pemilu
Candra Yuri Nuralam • 26 Mei 2019 15:58
Jakarta: Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Abdul Manan mengecam kekerasan terhadap wartawan yang diduga dilakukan oknum kepolisian saat aksi 22 Mei 2019. Kekerasan pada wartawan oleh kepolisian disebut karena tidak mau adanya pengeksposan.
 
"Tentu saja kita menyadari bahwa tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Polisi ini sebagian besar karena mereka tidak mau aksi kekerasan yaitu direkam oleh wartawan," kata Abdul Manan di gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu, 26 Mei 2019.
 
Abdul mengatakan, saat ini, kepolisian masih belum mengetahui dengan pasti fungsi dari wartawan saat melaksanakan tugas di lapangan. Polisi dinilai kerap mengira wartawan 'pengganggu' saat berada di lokasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sesuatu yang saya kira itu tidak mungkin tidak dilakukan oleh wartawan karena pekerjaan atau melaporkan fakta," ujar Abdul.
 
Jika menelik dari kekerasan yang diterima wartawan dalam aksi 22 Mei 2019, kata Abdul, kebanyakan pewarta terkena serangan hanya karena polisi salah membedakan wartawan dengan pendemo.
 
(Baca juga:7 Jurnalis Jadi Korban Aksi 22 Mei)
 
Selain menerima serangan fisik, beberapa wartawan juga mendapatkan larangan mengambil gambar dan penyitaan alat oleh oknum kepolisian. Hal ini, kata Abdul, menjelaskan bahwa kepolisian masih belum mengetahui dengan pasti fungsi dan tugas dari wartawan.
 
"Ini pertanyaan soal bagaimana pendidikan polisi kita dalam merespons kekerasan (saat di lapangan)," ujar Abdul.
 
Sedikitnya tujuh jurnalis dilaporkan menjadi korban aksi 22 Mei. Menurut catatan AJI Jakarta ketujuh jurnalis itu mendapat tindak kekerasan dari aparat pengamanan dan massa aksi di sekitar kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).
 
Ketua AJI Jakarta, Asnil Bambani Amri, mengatakan, jurnalis ini mengalami kekerasan, intimidasi, dan persekusi saat meliput kericuhan Aksi 22 Mei. Para Jurnalis dilarang merekam penangkapan sejumlah provokator massa.
 
"Tak menutup kemungkinan, masih banyak jurnalis lainnya yang menjadi korban. Sampai saat ini AJI Jakarta masih mengumpulkan data dan verifikasi para jurnalis yang menjadi korban," kata Asnil di Jakarta, Rabu, 22 Mei 2019.
 
Identitas jurnalis mengalami kekerasan di antaranya Jurnalis CNNIndonesia TV, Budi Tanjung; Jurnalis CNNIndonesia.com, Ryan; Jurnalis MNC Media, Ryan; Jurnalis Radio Sindo Trijaya, Fajar; Jurnalis Alinea.id, Fadli Mubarok; dan dua jurnalis RTV yaitu Intan Bedisa dan Rahajeng Mutiara.

 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif