Pada 2022, Indonesia dipercaya menjadi penyelenggara Konferensi GPDRR yang ke-7, yaitu pada 23-28 Mei, di Bali (Foto:Dok.Metro TV)
Pada 2022, Indonesia dipercaya menjadi penyelenggara Konferensi GPDRR yang ke-7, yaitu pada 23-28 Mei, di Bali (Foto:Dok.Metro TV)

Indonesia akan Ajukan 6 Rekomendasi Penting pada Konferensi ke-7 GPDRR

Nasional Kominfo bencana bencana alam dunia bencana alam GPDRR
Rosa Anggreati • 20 April 2022 13:36
Jakarta: Tidak ada satu pun negara yang dapat berdiri sendiri menghadapi dampak bencana. Oleh karena itu diperlukan kerja sama internasional sebagai upaya pengurangan risiko dan penanggulangan bencana. Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) atau Platform Global untuk Pengurangan Risiko Bencana, selama satu dekade terakhir telah berperan besar meninjau kemajuan dalam implementasi agenda pengurangan risiko bencana global. 
 
GPDRR adalah forum multi pemangku kepentingan dua tahunan yang diinisiasi oleh PBB untuk meninjau kemajuan, berbagi pengetahuan dan mendiskusikan perkembangan dalam penanggulangan risiko bencana.
 
Total lima sesi Global Platform telah berlangsung sejak tahun 2007. Setiap sesi GPDRR berfokus pada tema tertentu. Terdapat tiga topik yang selalu disajikan di sebagian besar sesi dalam berbagai bentuk dan pengulangan, yaitu pertama, implementasi di tingkat nasional dan lokal; kedua, investasi ekonomi dan pengurangan risiko bencana; ketiga, keterkaitan dan koherensi dengan perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.
 
GPDRR merupakan komponen penting dari proses pemantauan dan implementasi Kerangka Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana (2015-2030). GPDRR bertujuan meningkatkan upaya pengurangan risiko bencana melalui komunikasi dan koordinasi antara para pemangku kepentingan seperti, pemerintah, PBB, organisasi dan institusi internasional, lembaga swadaya masyarakat (LSM), ilmuan/akademisi dan pelaku sektor privat untuk berbagi pengalaman dalam merumuskan panduan strategis untuk pelaksanaan kerangka global PRB (SFDRR 2015-2030).
 
Pada 2022, Indonesia dipercaya menjadi penyelenggara Konferensi GPDRR yang ke-7, yaitu pada 23-28 Mei 2022. Bali dipilih menjadi tempat penyelenggaraan. Perihal alasan dipilihnya Pulau Dewata sebagai lokasi pertemuan GPDRR dijelaskan oleh Dirjen IKP Kominfo Usman Kansong, karena Bali sudah siap secara infrastruktur.
 
“Bali sudah siap secara infrastruktur untuk pertemuan tingkat internasional. Banyak pertemuan dan konferensi internasional diselenggarakan di Bali. Selain itu dari sisi kesehatan, kita masih menghadapi pandemi covid-19. Kita harus mempersiapkan agar event internasional di Bali tidak memicu lonjakan covid. Di Bali sudah 50 persen warganya menerima vaksin booster sehingga mampu mencegah terjadinya kluster baru,” kata Usman Kansong.
 
Terdapat dua agenda penting dalam GPDRR, yaitu Hari Persiapan yang akan ditangani langsung oleh UNDRR (diorganisasi oleh mitra UNDRR–UNDP, WMO, World Bank) pada 23 - 24 Mei 2022). Pada Hari Persiapan akan digelar MHEWS Conference, World Reconstruction Conference, Stakeholders Forum.
 
Kemudian agenda utama digelar pada 25-28 Mei 2022, yang penyelenggaraannya dilaksanakan oleh Indonesia. Agenda terbagi atas official program dan informal program.
 
Menurut Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati yang juga Ketua Sekretariat Panitia Nasional, pada penyelenggaraan kali ini terdapat enam rekomendasi penting yang diharapkan menjadi hasil akhir konferensi.
 
"Pertama, konsolidasi untuk inventarisasi kemajuan implementasi Kerangka Sendai oleh Negara Anggota dan para pemangku kepentingan, serta pencapaian target terkait risiko bencana dari agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan," kata Raditya melalui keterangan pers.
 
Kedua, rekomendasi aksi untuk pembuat kebijakan di bidang pembangunan berkelanjutan, keuangan dan perencanaan ekonomi, pengurangan risiko bencana dan perdagangan internasional, tindakan iklim dan ekosistem, serta kerja sama internasional.
 
Ketiga, rekomendasi aksi terkait pengurangan risiko bencana yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik Negara-negara Tertinggal (LDC), Negara       Berkembang Terkurung Daratan (LLDC) dan Negara Berkembang Pulau Kecil (SIDS), dengan fokus memastikan tidak ada yang tertinggal.
 
Keempat, praktik inovatif dan baik dalam mengelola covid-19 dari komunitas pengurangan risiko bencana dan rekomendasi untuk tindakan seluruh masyarakat untuk kesiapsiagaan dan memperkuat manajemen risiko wabah penyakit.
 
Kelima, peningkatan kesadaran tentang praktik yang baik dalam menerapkan Kerangka Sendai untuk mengurangi risiko bencana dan membangun ketahanan, termasuk menggunakan pendekatan, alat, dan metodologi yang inovatif.
 
Terakhir, kontribusi pada midterm review SFDRR yang akan diadakan pada 2023, serta Forum Politik Tingkat Tinggi tentang Pembangunan Berkelanjutan yang akan diadakan di New York pada Juli 2022.
 

Nilai Strategis Indonesia menjadi Tuan Rumah GPDRR

 
Sebagai tuan rumah, Indonesia akan mendapat nilai strategis. Sebab, penyelenggaraan forum tersebut secara langsung mendukung pertumbuhan sektor ekonomi dan pariwisata nasional pasca resesi akibat pandemi.
 
Selain itu juga akan menampilkan berbagai produk jasa dan komoditas andalan nasional, termasuk potensi-potensi pariwisata prioritas serta industri dan IPTEK kebencanaan.
 
Indonesia memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa sektor perekonomian dan pariwisata Indonesia selaras dengan strategi peningkatan ketahanan bencana.
 
Tak hanya itu, dengan menjadi tuan rumah maka akan terjadi peningkatan public awareness (kesadaran publik) mengenai pentingnya Pengurangan Risiko Bencana.
 
"Memberikan peluang besar peningkatan kapasitas aktor Pengurangan Risiko Bencana Indonesia,'' kata Raditya.
 
Tak kalah penting, momen ini akan menjadi salah satu sarana konsolidasi antar kementerian/lembaga untuk semakin memahami dan berkomitmen dalam upaya pengurangan risiko bencana.
 
(ROS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif