Kebudayaan Fondasi Penyelesaian Konflik Ambon

Fachri Audhia Hafiez 12 Juli 2018 11:28 WIB
nkri
Kebudayaan Fondasi Penyelesaian Konflik Ambon
Sarasehan Nasional Wantannas. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez.
Jakarta: Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Agus Widjojo mengatakan kebudayaan lokal jadi faktor utama bagi penyelesaian konflik di Ambon, Maluku, pada 1999. Kebudayaan magnet terciptanya perdamaian.

Agus menyampaikan hal itu dalam Sarasehan Nasional Merawat Perdamaian: Belajar dari Resolusi Konflik dan Damai di Maluku dan Maluku Utara untuk Indonesia yang Bersatu, Berdaulat, Adil, dan Makmur. Acara digelar Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas).

"Buktinya langkah-langkah untuk perdamaian bukan karena kebijakan-kebijakan pemerintah pusat saja atau tokoh-tokoh pemerintah pusat, tapi tokoh-tokoh masyarakat lokal," kata Agus di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 11 Juli 2018.


Ketika Agus mengunjungi Maluku dan Maluku Utara, tokoh adat bercerita bagaimana leluhur mereka berpesan agar selalu hidup berdampingan. Ketiga agama mulai menyebar, pesan itu pun selalu diucapkan.

Baca: Ambon Belajar dari Pengalaman

"Mereka sudah dinasihati oleh nenek moyang. Ketika agama Islam dan Kristen belum datang di tanah Maluku sudah diingatkan, kalau datang agama baru kalian harus hidup berdampingan," tutur Agus.

Dia menambahkan konteks lokal mengandung implikasi positif, seperti prinsip hidup berdampingan secara damai. "Maluku dan Maluku Utara sudah cukup kuat fondasinya untuk rekonsiliasi dan penyelesaian konflik. Tapi, juga hati-hati bisa rawan kalau salah ditangani," pungkas Agus.



(OGI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id