Sejumlah crane dioperasikan dalam pembangunan sebuah gedung bertingkat di kawasan Setyabudi, Jakarta Pusat. Foto: MI/Usman Iskandar.
Sejumlah crane dioperasikan dalam pembangunan sebuah gedung bertingkat di kawasan Setyabudi, Jakarta Pusat. Foto: MI/Usman Iskandar.

Gelombang Panas Timur Tengah Tak Sampai ke Indonesia

Nasional gelombang panas
Antara • 01 Juli 2019 09:31
Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan fenomena suhu tinggi di Timur Tengah (Timteng) diperkirakan tidak akan berdampak pada wilayah Indonesia. Sirkulasi udara itu tak mengarah ke Tanah Air.
 
"Sistem sirkulasi udara yang menyebabkan gelombang panas di Timur Tengah berbeda dan tidak mengarah atau menuju ke Indonesia," kata Deputi Klimatologi BMKG Herizal di Jakarta, Senin, 1 Juli 2019.
 
Menurut dia, peluang suhu panas yang mencapai lebih dari 50 derajat Celcius terjadi di Indonesia juga sangat kecil. Berdasarkan catatan BMKG, suhu maksimum di Indonesia tidak pernah mencapai 40 derajat Celcius. Suhu tertinggi yang pernah tercatat adalah 39,5 derajat Celcius pada 27 Oktober 2015 di Semarang, Jawa Tengah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara itu, suhu panas yang dirasakan di Timur Tengah akibat dari perluasan gelombang panas yang menyerang India sejak beberapa pekan sebelumnya. Gelombang panas terjadi di India, Pakistan, Afghanistan, Turkmenistan, Iran, dan Arab Saudi.
 
"Suhu permukaan di wilayah-wilayah yang terpapar gelombang panas terukur bervariasi antara 34 derajat hingga 51 derajat Celcius," kata dia.
 
Baca: Suhu di Prancis Capai Angka Tertinggi, Lampaui Rekor 2003
 
Berdasarkan data Badan Meteorologi Dunia (WMO), suhu tertinggi tercatat di Stasium Basrah-Hussein (Irak) sebesar 50,4 derajat Celcius dan Stasiun Mitribah (Kuwait) sebesar 51,4 derajat Celcius pada 10 Juni 2019. Suhu panas juga terjadi di Paris dan Lyon di Prancis yang mencapai 34 derajat Celcius.
 
"Berdasarkan pola klimatologis, wilayah Timur Tengah memang memiliki suhu tinggi pada periode Juni, Juli, dan Agustus akibat posisi gerak semu tahunan matahari yang berada di belahan bumi utara," kata dia.
 
Kondisi itu juga didukung faktor geografis wilayah yang terletak pada lintang 20 hingga 30 dan umumnya memiliki iklim gurun. Alhasil, mereka memiliki kandungan uap air yang relatif lebih sedikit dibandingkan wilayah pada lintang lainnya.
 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif