Jakarta: Sesar Palu Koro yang terbentang dari Teluk Palu hingga Teluk Bone menjadi penyebab gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Ketua Tim Ekspedisi Palu Koro Trinurmala Ningrum bahkan menyebut sesar Palu Koro menjadi salah satu sesar paling aktif di dunia.
"Sangat aktif dan bergerak terus. Kemungkinan setiap hari gempa tapi (magnitudonya) kecil-kecil," ujarnya dalam Breaking News Metro TV, Kamis, 4 Oktober 2018.
Trinurmala mengatakan patahan Palu Koro memiliki laju pergeseran yang sangat cepat, sekitar empat sentimeter per tahun. Catatan sejarah menyebutkan peristiwa gempa dan tsunami pada Jumat, 28 September 2018 bukan yang pertama.
Gempa besar yang salah satunya memicu tsunami pernah terjadi di wilayah Donggala mulai 1828, 1907, 1909, 1927, 1936, 1968, 1994, sampai dengan 2005 setelah gempa dan tsunami yang menerjang Aceh pada 2004.
"Gempa 2005 ini unik. Titik gempa di atas bukit tapi karena pengalaman tsunami Aceh penduduk yang di bawah lari ke atas bukit khawatir terkena tsunami tapi yang di atas bukit justru lari ke bawah," ungkapnya.
Tri menambahkan setengah dari sesar Palu Koro membelah Kota Palu yang membuat wilayah ini masuk zona merah rawan bencana terutama gempa dan tsunami. Wilayah seperti Pantai Talise, Hotel Roa-Roa, termasuk pusat niaga dan mal di sekitar pesisir Kota Palu adalah titik-titik yang rawan bencana.
"Kalau pemerintah menyadari itu seharusnya tidak boleh ada bangunan yang didirikan di wilayah tersebut," jelas dia.
Jakarta: Sesar Palu Koro yang terbentang dari Teluk Palu hingga Teluk Bone menjadi penyebab gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Ketua Tim Ekspedisi Palu Koro Trinurmala Ningrum bahkan menyebut sesar Palu Koro menjadi salah satu sesar paling aktif di dunia.
"Sangat aktif dan bergerak terus. Kemungkinan setiap hari gempa tapi (magnitudonya) kecil-kecil," ujarnya dalam
Breaking News Metro TV, Kamis, 4 Oktober 2018.
Trinurmala mengatakan patahan Palu Koro memiliki laju pergeseran yang sangat cepat, sekitar empat sentimeter per tahun. Catatan sejarah menyebutkan peristiwa gempa dan tsunami pada Jumat, 28 September 2018 bukan yang pertama.
Gempa besar yang salah satunya memicu tsunami pernah terjadi di wilayah Donggala mulai 1828, 1907, 1909, 1927, 1936, 1968, 1994, sampai dengan 2005 setelah gempa dan tsunami yang menerjang Aceh pada 2004.
"Gempa 2005 ini unik. Titik gempa di atas bukit tapi karena pengalaman tsunami Aceh penduduk yang di bawah lari ke atas bukit khawatir terkena tsunami tapi yang di atas bukit justru lari ke bawah," ungkapnya.
Tri menambahkan setengah dari sesar Palu Koro membelah Kota Palu yang membuat wilayah ini masuk zona merah rawan bencana terutama gempa dan tsunami. Wilayah seperti Pantai Talise, Hotel Roa-Roa, termasuk pusat niaga dan mal di sekitar pesisir Kota Palu adalah titik-titik yang rawan bencana.
"Kalau pemerintah menyadari itu seharusnya tidak boleh ada bangunan yang didirikan di wilayah tersebut," jelas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MEL)