Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Bambang Soesatyo di ruang GBHN Gedung Nusantara V, Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (14/10/2019). Foto: Antara/Galih Pradipta.
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Bambang Soesatyo di ruang GBHN Gedung Nusantara V, Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (14/10/2019). Foto: Antara/Galih Pradipta.

Pemuda Wajib Menggerakkan Roda Zaman

Nasional sumpah pemuda
Muhammad Syahrul Ramadhan • 28 Oktober 2019 02:55
Jakarta:Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengajak pemuda Indonesia berada dalam satu barisan memajukan Indonesia yang beradab dan berkeadilan.
 
Sejarah mencatat, pemuda selalu menjadi penggerak roda sejarah. Begitupun Indonesia, tanpa peran aktif pemuda, Indonesia tak akan mampu berdiri tegak menyongsong pergerakan zaman.
 
Bamsoet menyebut bentuk nyata kepercayaan pemerintah kepada pemuda Indonesia untuk berkontribusi bagi bangsanya adalah penunjukan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Selain itu juga ada Angela Tanoesoedibjo sebagai Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Inilah waktunya para pemuda membuktikan dirinya. Jangan biarkan roda zaman menggilas pemuda, justru pemudalah yang harus menggerakan roda zaman," kata Bamsoet saat menghadiri acara 'Festival Budaya' dalam rangka peringatan Sumpah Pemuda dan Apresiasi Sukses Pesta Demokrasi 2019, di Jakarta, Minggu, 27 Oktober 2019.
 
Selain itu Bamsoet juga menyoroti bonus demografi yang dimiliki oleh Indonesia. Bappenas memprediksi ada 2023-204 Indonesia akan mengalami masa bonus demografi, yakni jumlah penduduk usia produktif berusia 15 - 64.
 
"Pada periode tersebut, penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa," jelasnya.
 
Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menegaskan, besarnya jumlah penduduk tersebut selain menjadi peluang juga menjadi tantangan tersendiri bagi Bangsa Indonesia. Terutama terkait dengan ketersediaan lapangan pekerjaan, serta kebutuhan akan sandang, pangan dan papan.
 
"Agar bonus demografi tak menjadi bencana sosial, maka akses dan peningkatan kualitas pendidikan menjadi kunci utamanya. Berbeda dengan masa perjuangan kemerdekaan dimana pemuda menghadapi penjajah dengan mengangkat senjata dan kontak fisik, di masa kini pemuda harus memiliki ilmu pengetahuan sebagai senjata utama menghadapi bangsa-bangsa lainnya," tutur Bamsoet.
 
Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini berharap sistem pendidikan yang akan diterapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru harus dapat lebih memajukan dunia pendidikan nasional. Sehingga, bukan hanya bisa memperluas akses pendidikan kepada para pemuda, melainkan juga bisa membuat terobosan peningkatan kualitas pendidikan yang inovatif dan aplikatif di dunia modern saat ini.
 

(BOW)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif