Bolanle, Pahlawan Film dari Nigeria
Founder and CEO of BAP Productions Bolanle Austen-Peters - Medcom.id/Wandi Yusuf.
Nusa Dua: Film dinilai mampu menjadi sarana promosi paling efektif untuk memperkenalkan budaya suatu negara. Film juga mampu membuat industri musik suatu negara berkembang.

Founder and CEO of BAP Productions Bolanle Austen-Peters menyatakan hal itu saat menjadi pembicara pada acara Konferensi Dunia tentang Ekonomi Kreatif (WCCE) di Nusa Dua, Bali.

“Melalui film saya memperkenalkan Nigeria ke luar negeri,” kata perempuan yang juga berprofesi sebagai pengacara ini, Kamis, 8 November 2018.


Menurut dia, negara di Afrika Barat memiliki jalan panjang untuk mengembangkan industri filmnya. Dulu, sangat sulit bisa menayangkan film Nigeria. Bahkan, film yang telah dikirim ke tujuh festival film internasional pun tidak bisa diakses dengan mudah. Penonton sulit menemukannya.

Padahal, lanjut dia, industri film mampu menyediakan lapangan kerja. Film mampu memberi dampak besar terhadap perekonomian dengan memberi sumbangan produk domestik bruto (PDB) dan mengurangi pengangguran. 

“Bahkan, saat ini industri film di Nigeria mampu menarik investor luar negeri,” kata Bolanle. 

(Baca juga: Tiongkok Tawarkan Konsep Bioskop Kampung ke Indonesia)

Setelah melalui jalan berliku, menghadapi berbagai kendala regulasi, akhirnya ia mampu mengembangan industri film bersama para sineas di Nigeria. Perkembangan industri film di Nigeria ditandai dengan terbangunnya enam studio film di Lagos, Nigeria.

Tak hanya itu, perkembangan industri film juga membuat industri musik ikut berkembang. Bahkan, kata Bolanle, saat ini musik-musik dari Nigeria sering diputar di Amerika dan Eropa. 

“Perkembangan industri film dan musik ini mampu menghidupkan warisan budaya Nigeria,” ucap Bolanle.

Ia menilai Indonesia juga kaya akan budaya, tapi belum banyak orang yang mengetahuinya. Karena itu, dia berpesan agar Indonesia terus berpromosi melalui film. 

“Untuk ini, kami membuka kesempatan kerja sama Nigeria-Indonesia dalam bidang perfilman,” ujar Bolanle.

WCCE 2018 merupakan konferensi internasional pertama yang membahas mengenai ekonomi kreatif. Sebanyak dua ribu peserta hadir di acara ini. Mulai dari pemain ekonomi kreatif, regulator, akademisi, dan masyarakat sipil. Sebanyak empat isu utama sudah dibahas, antara lain kohesi sosial, regulasi, pemasaran, serta ekosistem dan pembiayaan industri kreatif.

(Baca juga: Penonton Bioskop Menuju 50 Juta)





(REN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id