Siklus Kekerasan di Papua Sulit Diputus
Anggota tim kajian LIPI Adriana Elisabeth (kanan). (Foto: MI/Jhoni Kristian)
Jakarta: Peneliti tim kajian Papua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Adriana Elisabeth menyebut peristiwa penembakan di Kabupaten Nduga membuktikan siklus kekerasan di Papua belum dapat diputus. Hal ini sesuai dengan apa yang pernah dirumuskan oleh tim LIPI beberapa tahun silam.

Menurut Adriana siklus kekerasan yang terus berulang dilatarbelakangi adanya trauma konflik yang dialami oleh orang Papua. Tak terkecuali Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN OPM).

"Juru bicara TPN OPM merasa diperlakukan tidak adil bahkan mereka menyebut diperlakukan seperti binatang. Artinya ada persoalan lain selain pembangunan yang masih harus dioptimalkan pemerintah Indonesia," ujarnya dalam Metro Pagi Primetime, Sabtu, 8 Desember 2018.


Adriana mengatakan pola kekerasan di Papua merupakan dampak dari konflik berkepanjangan. Ekspresi yang ditunjukkan pun bermacam-macam, termasuk membuat kelompok bersenjata yang ternyata mengimitasi apa yang mereka lihat atas kehadiran Indonesia di Papua dalam bentuk pos-pos militer.

"Jadi mereka meniru, termasuk bagaimana mereka ingin memiliki senjata dengan merampas dan sebagainya. Ada pola kekerasan yang berulang di sini," ungkapnya.

Ia menambahkan memutus siklus kekerasan di Papua tidak bisa dilakukan dengan kekerasan juga. Adriana menyebut perlu pendekatan lebih lembut seperti membangun komunikasi secara intens dan dialog yang melibatkan semua pihak tanpa mengesampingkan penegakan hukum atas kekerasan yang telah terjadi.

"Saya membayangkan sebuah soft approach dengan membangun intensitas komunikasi untuk membuat semua pihak mengerti duduk persoalannya," jelas dia.





(MEL)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id