Jakarta: Kasus influenza A (H3N2) subclade K atau yang belakangan disebut sebagai super flu tercatat menyerang puluhan orang di Indonesia.
Meski jumlah kasusnya mencapai 62 orang yang tersebar di delapan provinsi, Kementerian Kesehatan menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan.
Pemerintah memastikan virus tersebut bukan penyakit baru dan tidak mematikan seperti COVID-19. Masyarakat diimbau tetap tenang, menjaga kesehatan, dan meningkatkan daya tahan tubuh.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan influenza A (H3N2) subclade K sejatinya sudah lama ada dan bersifat seperti flu biasa.
"Jadi nggak usah khawatir bahwa ini seperti COVID-19 mematikannya. Tidak. Ini adalah flu biasa. Influenza H3N2," kata Budi saat ditemui di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, dilansir kembali dari Antara pada Sabtu, 3 Januari 2025.
Menurutnya, virus ini tidak memiliki tingkat fatalitas tinggi seperti covid-19 maupun tuberkulosis (TBC) yang sempat menjadi perhatian besar beberapa tahun lalu.
Pola penyebaran mirip flu musiman
Budi menjelaskan, sebagaimana flu pada umumnya, seseorang yang pernah terinfeksi influenza A (H3N2) masih bisa terpapar kembali di kemudian hari. Di negara dengan empat musim, lonjakan kasus biasanya terjadi saat musim dingin.
"Itu sebabnya di negara-negara tersebut ada vaksin influenza setiap tahun yang mereka suntikkan," katanya.
Sementara di Indonesia yang beriklim tropis, kenaikan kasus tidak setinggi di negara-negara subtropis.
Imbauan jaga imunitas dan pola hidup sehat
Meski tergolong ringan, Budi tetap mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan dan sistem imun tubuh. Istirahat yang cukup dan olahraga rutin menjadi kunci utama pencegahan.
"Kalau immune system kita bagus, itu kita bisa mengatasi sendiri tubuh kita karunia Tuhan ini luar biasa. Ini udah ada tentaranya sendiri yang ngelawan virus-virus itu," tuturnya.
Sebelumnya Kementerian Kesehatan memastikan bahwa vaksin flu yang ada saat ini tetap efektif mengurangi risiko sakit berat, rawat inap, dan kematian akibat influenza A (H3N2), merespons berita tentang situasi influenza A(H3N2) subclade K di media.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Widyawati di Jakarta, Kamis (1/1) mengatakan bahwa berdasarkan penilaian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan situasi epidemiologi saat ini, subklade K tidak menunjukkan peningkatan keparahan dibandingkan dengan klade atau subklade lainnya.
"Gejala umumnya seperti flu musiman, yaitu demam, batuk, pilek, sakit kepala, nyeri tenggorokan," katanya.
Hingga akhir Desember 2025, tercatat total ada 62 kasus di 8 provinsi, terbanyak ada di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
Dia memastikan bahwa semua varian yang ditemukan sudah dikenal dan bersirkulasi secara global, dan terpantau dalam sistem surveilans WHO.
Jakarta: Kasus
influenza A (H3N2) subclade K atau yang belakangan disebut sebagai super flu tercatat menyerang puluhan orang di Indonesia.
Meski jumlah kasusnya mencapai 62 orang yang tersebar di delapan provinsi, Kementerian Kesehatan menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan.
Pemerintah memastikan virus tersebut bukan penyakit baru dan tidak mematikan seperti COVID-19. Masyarakat diimbau tetap tenang, menjaga kesehatan, dan meningkatkan daya tahan tubuh.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan influenza A (H3N2) subclade K sejatinya sudah lama ada dan bersifat seperti flu biasa.
"Jadi nggak usah khawatir bahwa ini seperti COVID-19 mematikannya. Tidak. Ini adalah flu biasa. Influenza H3N2," kata Budi saat ditemui di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, dilansir kembali dari Antara pada Sabtu, 3 Januari 2025.
Menurutnya, virus ini tidak memiliki tingkat fatalitas tinggi seperti covid-19 maupun tuberkulosis (TBC) yang sempat menjadi perhatian besar beberapa tahun lalu.
Pola penyebaran mirip flu musiman
Budi menjelaskan, sebagaimana flu pada umumnya, seseorang yang pernah terinfeksi influenza A (H3N2) masih bisa terpapar kembali di kemudian hari. Di negara dengan empat musim, lonjakan kasus biasanya terjadi saat musim dingin.
"Itu sebabnya di negara-negara tersebut ada vaksin influenza setiap tahun yang mereka suntikkan," katanya.
Sementara di Indonesia yang beriklim tropis, kenaikan kasus tidak setinggi di negara-negara subtropis.
Imbauan jaga imunitas dan pola hidup sehat
Meski tergolong ringan, Budi tetap mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan dan sistem imun tubuh. Istirahat yang cukup dan olahraga rutin menjadi kunci utama pencegahan.
"Kalau immune system kita bagus, itu kita bisa mengatasi sendiri tubuh kita karunia Tuhan ini luar biasa. Ini udah ada tentaranya sendiri yang ngelawan virus-virus itu," tuturnya.
Sebelumnya Kementerian Kesehatan memastikan bahwa vaksin flu yang ada saat ini tetap efektif mengurangi risiko sakit berat, rawat inap, dan kematian akibat influenza A (H3N2), merespons berita tentang situasi influenza A(H3N2) subclade K di media.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Widyawati di Jakarta, Kamis (1/1) mengatakan bahwa berdasarkan penilaian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan situasi epidemiologi saat ini, subklade K tidak menunjukkan peningkatan keparahan dibandingkan dengan klade atau subklade lainnya.
"Gejala umumnya seperti flu musiman, yaitu demam, batuk, pilek, sakit kepala, nyeri tenggorokan," katanya.
Hingga akhir Desember 2025, tercatat total ada 62 kasus di 8 provinsi, terbanyak ada di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
Dia memastikan bahwa semua varian yang ditemukan sudah dikenal dan bersirkulasi secara global, dan terpantau dalam sistem surveilans WHO.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)